{"id":205221,"date":"2026-09-07T14:42:52","date_gmt":"2026-09-07T06:42:52","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=205221"},"modified":"2026-09-07T14:42:52","modified_gmt":"2026-09-07T06:42:52","slug":"air-indus-memanas-tata-kelola-pakistan-dipertanyakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/air-indus-memanas-tata-kelola-pakistan-dipertanyakan\/","title":{"rendered":"Air Indus Memanas, Tata Kelola Pakistan Dipertanyakan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Krisis air Pakistan dinilai telah diprediksi jauh sebelum India membekukan Perjanjian Air Indus dan berkaitan erat dengan lemahnya infrastruktur serta tata kelola sumber daya air.<\/em><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\"><strong>ISLAMABAD<\/strong> &#8211; Krisis air Pakistan dinilai tidak semata-mata dipicu keputusan India membekukan kerja sama dalam Perjanjian Air Indus (<em>Indus Water Treaty<\/em>\/IWT), tetapi juga berkaitan dengan lemahnya pembangunan infrastruktur dan tata kelola air di dalam negeri. Persoalan tersebut kembali mencuat di tengah ketegangan kedua negara setelah India menangguhkan IWT menyusul serangan teror di Pahalgam, Kashmir, pada April 2025.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Pakar menilai Pakistan telah menghadapi peringatan mengenai potensi krisis air jauh sebelum hubungan dengan India kembali memburuk. Pada 2018, Michael Samuel dari Universitas Quaid-I-Azam Islamabad menyoroti kesenjangan infrastruktur dengan mencatat India telah membangun sekitar 3.200 bendungan dan waduk, sedangkan Pakistan hanya memiliki sekitar 150.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Kekurangan infrastruktur tersebut membuat persoalan ketersediaan dan pengelolaan air Pakistan tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan kebijakan India. Michael Kugelman, pakar Asia Selatan, juga telah memperingatkan pada 2015 bahwa menyalahkan India tidak akan menyelesaikan persoalan air Pakistan.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Mantan perwira angkatan bersenjata India, Nilesh Kunwar, menilai masalah domestik Pakistan justru memperburuk krisis tersebut. &#8220;Kenyataannya, krisis ini diperburuk oleh tata kelola mereka sendiri. Ketika India berinvestasi besar pada waduk dan saluran air, militer Pakistan sibuk menghamburkan anggaran untuk membeli tank dan jet tempur,&#8221; ungkap Kunwar, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Senin, (07\/09\/2026).<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Menurut Kunwar, besarnya anggaran pertahanan Pakistan turut membatasi ruang fiskal untuk membangun infrastruktur pengelolaan air. Kondisi itu membuat program yang berkaitan dengan penyimpanan dan distribusi air tidak berkembang secara optimal.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Pengeluaran pertahanan yang sangat besar itu tidak menyisakan banyak ruang untuk pengembangan infrastruktur, membuat program pengelolaan air negara itu terbengkalai,&#8221; lanjutnya.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, pembekuan IWT oleh India tetap menjadi sumber ketegangan baru. New Delhi mengambil keputusan tersebut setelah serangan teror di Pahalgam dan menilai tindakan itu sebagai respons terhadap memburuknya kepercayaan antara kedua negara.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Ketegangan kemudian berkembang menjadi perang retorika. Sejumlah pejabat Pakistan mengeluarkan ancaman keras apabila aliran air ke negaranya dibatasi, termasuk pernyataan yang mengaitkan persoalan air dengan kemungkinan penggunaan kekuatan militer dan nuklir.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">India membantah narasi bahwa negaranya secara sepihak mengambil seluruh sumber daya air yang dibutuhkan Pakistan. Berdasarkan pembagian dalam IWT, Pakistan memperoleh sekitar 80 persen aliran air Lembah Indus, sedangkan India mendapat sekitar 20 persen.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Pakar dari Transitions Research, Nishant Sirohi, mengatakan India pada dasarnya menangguhkan mekanisme kerja sama prosedural dalam IWT, termasuk forum penyelesaian sengketa. Langkah itu dipandang sebagai tekanan hukum dan diplomatik setelah serangan teror yang menurut India telah merusak dasar kepercayaan dalam perjanjian.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Persoalan lain muncul dari usia IWT yang telah berlangsung sejak era 1950-an. Davendra Kumar Sharma, mantan Ketua Badan Manajemen Bhakra Beas, menilai perjanjian tersebut telah tertinggal karena tidak sepenuhnya memperhitungkan perkembangan teknologi bendungan dan perubahan iklim.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Kunwar mendorong India tetap mempertahankan posisinya sebelum pembicaraan ulang IWT dilakukan. &#8220;Sebelum negosiasi ulang IWT dapat dilakukan, India harus berdiri teguh menuntut Pakistan untuk terlebih dahulu memenuhi kewajibannya dalam memastikan semangat niat baik dan persahabatan yang bebas dari terorisme,&#8221; pungkas Kunwar.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Perdebatan mengenai air kini menjadi bagian dari konflik yang lebih luas antara India dan Pakistan. Di tengah ancaman kekurangan air, pembangunan infrastruktur, tata kelola sumber daya, dan hubungan kedua negara akan menjadi faktor penting yang menentukan kemampuan Pakistan menghadapi tekanan air dalam jangka panjang. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi08<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Krisis air Pakistan dinilai telah diprediksi jauh sebelum India membekukan Perjanjian Air Indus dan berkaitan erat dengan lemahnya infrastruktur serta tata kelola sumber daya air. ISLAMABAD &#8211; Krisis air Pakistan dinilai tidak semata-mata dipicu keputusan India membekukan kerja sama dalam Perjanjian Air Indus (Indus Water Treaty\/IWT), tetapi juga berkaitan dengan lemahnya pembangunan infrastruktur dan tata &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":85,"featured_media":205223,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2254],"tags":[57284,57288,1655,57283,17123,19792,57280,34257,57281,57286,57287,9533,57279,57282,57285],"class_list":["post-205221","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-internasional","tag-bendungan-pakistan","tag-davendra-kumar-sharma","tag-india","tag-india-pakistan","tag-infrastruktur-air","tag-islamabad","tag-iwt","tag-kashmir","tag-krisis-air-pakistan","tag-nilesh-kunwar","tag-nishant-sirohi","tag-pakistan","tag-perjanjian-air-indus","tag-sungai-indus","tag-tata-kelola-air"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205221","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/85"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=205221"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205221\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":205224,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205221\/revisions\/205224"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/205223"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=205221"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=205221"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=205221"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}