{"id":205582,"date":"2026-09-10T19:34:58","date_gmt":"2026-09-10T11:34:58","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=205582"},"modified":"2026-09-10T19:36:37","modified_gmt":"2026-09-10T11:36:37","slug":"benih-padi-ditebar-di-danau-semayang-jadi-sorotan-kades-sudah-jadi-tradisi-warga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/benih-padi-ditebar-di-danau-semayang-jadi-sorotan-kades-sudah-jadi-tradisi-warga\/","title":{"rendered":"Benih Padi Ditebar di Danau Semayang Jadi Sorotan, Kades: Sudah Jadi Tradisi Warga"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Metode menebar benih padi langsung di Danau Semayang yang ramai dibahas di media sosial disebut sebagai kearifan lokal warga yang telah berulang kali menghasilkan panen saat kemarau panjang.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KUTAI KARTANEGARA &#8211;<\/strong> Tradisi menebar benih padi langsung di kawasan Danau Semayang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), menjadi sorotan setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Kepala Desa (Kades) Semayang, Isra, menegaskan metode bercocok tanam di lahan danau yang surut tersebut bukan praktik baru, melainkan kearifan lokal yang telah dilakukan masyarakat setempat setiap kali terjadi kemarau panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Isra mengatakan warga telah berulang kali memanfaatkan bagian Danau Semayang yang mengering atau memiliki genangan air dangkal untuk menanam padi. Metode tersebut bahkan disebut telah beberapa kali menghasilkan panen raya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSetiap kemarau panjang, itu sudah kami lakukan. Kami sudah beberapa kali panen raya dengan cara seperti ini,\u201d kata Isra, Rabu (09\/09\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-205584\" src=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_123255_Instagram-scaled.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"428\" srcset=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_123255_Instagram-scaled.jpg 2560w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_123255_Instagram-300x183.jpg 300w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_123255_Instagram-1024x626.jpg 1024w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_123255_Instagram-768x469.jpg 768w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_123255_Instagram-1536x939.jpg 1536w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/Screenshot_20260909_123255_Instagram-2048x1252.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/>Metode tersebut kembali menjadi perhatian publik setelah Bupati Kukar Aulia Rahman Basri ikut menebar benih padi di Danau Semayang pada Selasa (01\/09\/2026). Kegiatan itu kemudian ramai dibahas di media sosial karena benih padi terlihat ditebar langsung pada area danau yang masih tergenang air.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Isra, pola penanaman tersebut memang berbeda dengan budidaya padi yang lazim dilakukan di lahan pertanian pada umumnya. Namun, bagi masyarakat Desa Semayang, teknik itu merupakan pengetahuan lokal yang telah dipraktikkan selama bertahun-tahun dengan mempertimbangkan kondisi air dan karakter kawasan danau.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menjelaskan benih padi tidak melalui proses persemaian terlebih dahulu, tetapi langsung ditebar pada bagian danau yang dianggap sesuai. Lokasi penebaran dipilih berdasarkan kedalaman air sehingga tidak seluruh kawasan danau dapat digunakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Air yang tersisa di lokasi penebaran, kata Isra, umumnya memiliki kedalaman sekitar 3-5 sentimeter. Karena itu, warga harus memperhatikan kondisi permukaan air sebelum menentukan lokasi penanaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cEnggak langsung disemai, langsung ditabur di danau. Tapi kami juga tidak sembarang menabur. Kami melihat kondisi air, terutama di tempat yang dangkal,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengalaman masyarakat sebelumnya menunjukkan metode tersebut dapat menghasilkan padi hingga masa panen. Isra menyebut pada 2007 warga bahkan sempat melakukan dua kali panen dari padi yang ditanam di kawasan Danau Semayang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, surutnya permukaan danau hingga memungkinkan warga bercocok tanam tidak terjadi setiap tahun. Kondisi itu umumnya muncul ketika kemarau berlangsung panjang dan disebut dapat terjadi dalam siklus sekitar 10 tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada penanaman tahun ini, masyarakat berharap kondisi kemarau bertahan cukup lama sehingga tanaman padi dapat berkembang hingga masa panen. Isra memperkirakan panen dapat dilakukan sekitar dua bulan setelah penebaran, dengan target panen raya pada November 2026.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau kemarau sampai dua atau tiga bulan lagi, insyaallah kita akan panen raya. Bulan 11 sudah panen raya,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam kegiatan penebaran benih bersama Bupati Kukar, sekitar 1,2 ton benih padi disiapkan. Menurut Isra, sekitar 750 kilogram merupakan bantuan bupati, sedangkan sekitar 500 kilogram lainnya berasal dari Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Benih yang digunakan terdiri atas sejumlah varietas padi. Secara umum, varietas tersebut memiliki masa tanam sekitar 100 hari atau kurang lebih tiga bulan hingga memasuki masa panen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain menggunakan metode tebar langsung, sebagian warga juga menanam padi dengan teknik lain. Namun, jumlahnya masih terbatas karena menyesuaikan ketersediaan benih dan kondisi lahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Isra mempersilakan masyarakat yang masih meragukan efektivitas metode tersebut untuk datang langsung ke Desa Semayang dan melihat perkembangan tanaman padi di kawasan danau.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau memang kurang meyakinkan, datang saja ke Semayang. Lihat langsung padi yang ditebar itu bisa tumbuh dengan baik dan bisa panen,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tradisi bercocok tanam dengan memanfaatkan surutnya Danau Semayang tersebut menjadi gambaran kemampuan masyarakat setempat beradaptasi dengan kondisi alam. Keberhasilan panen nantinya akan sangat bergantung pada keberlanjutan musim kemarau, kondisi muka air danau, serta pertumbuhan padi hingga memasuki masa panen. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Metode menebar benih padi langsung di Danau Semayang yang ramai dibahas di media sosial disebut sebagai kearifan lokal warga yang telah berulang kali menghasilkan panen saat kemarau panjang. KUTAI KARTANEGARA &#8211; Tradisi menebar benih padi langsung di kawasan Danau Semayang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), menjadi sorotan setelah ramai diperbincangkan di media sosial. &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":205583,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,26,33],"tags":[10372,6958,57942,57947,25219,57939,5544,1656,57946,22157,10981,560,561,57943,57945,2802,7030,57948,57944],"class_list":["post-205582","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-kartanegara","tag-aulia-rahman-basri","tag-bupati-kukar","tag-danau-semayang","tag-danau-semayang-surut","tag-desa-semayang","tag-isra-kades-semayang","tag-kalimantan-timur","tag-kaltim","tag-kearifan-lokal-semayang","tag-kemarau-panjang","tag-ktna","tag-kukar","tag-kutai-kartanegara","tag-padi-danau-semayang","tag-padi-di-danau","tag-panen-raya","tag-pertanian-kukar","tag-pertanian-lahan-rawa","tag-tebar-benih-padi"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205582","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=205582"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205582\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":205725,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205582\/revisions\/205725"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/205583"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=205582"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=205582"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=205582"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}