{"id":205937,"date":"2026-09-11T20:20:21","date_gmt":"2026-09-11T12:20:21","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=205937"},"modified":"2026-09-11T20:24:41","modified_gmt":"2026-09-11T12:24:41","slug":"lima-hari-belum-padam-kebakaran-tpa-galuga-meluas-71-hektare","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/lima-hari-belum-padam-kebakaran-tpa-galuga-meluas-71-hektare\/","title":{"rendered":"Lima Hari Belum Padam, Kebakaran TPA Galuga Meluas 7,1 Hektare"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Memasuki hari kelima, kebakaran TPA Galuga telah meluas hingga 7,1 hektare, sementara bara yang tersembunyi di dalam timbunan sampah membuat pemerintah mengandalkan berbagai metode pemadaman dan mempertimbangkan modifikasi cuaca.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>JAWA BARAT<\/strong> &#8211; Bara api yang masih tersembunyi di dalam timbunan sampah menjadi kendala utama pemadaman kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga di Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar). Memasuki hari kelima, Jumat (11\/09\/2026), area terdampak kebakaran telah meluas hingga sekitar 7,1 hektare dan menjangkau wilayah Kota Bogor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan, luas area yang terbakar terus bertambah sejak kebakaran terjadi pada Senin (07\/09\/2026). Awalnya, kebakaran mencakup sekitar 1,7 hektare, kemudian berkembang menjadi lima hektare sebelum meluas hingga wilayah Kota Bogor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Awalnya 1,7 hektare, kemudian menjadi lima hektare. Sekarang kalau digabung dengan wilayah Kota Bogor kurang lebih 7,1 hektare,&#8221; kata Rudy, Jumat (11\/09\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski kobaran api tidak lagi terlihat jelas dari permukaan, Rudy mengatakan bara masih tersimpan di dalam tumpukan sampah. Kondisi tersebut menyebabkan asap terus keluar dan membuat petugas harus membongkar timbunan satu per satu untuk melakukan pendinginan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kalau dilihat, apinya tidak terlihat. Namun, asap terus mengepul sedikit-sedikit dan di dalamnya ternyata masih ada bara api. Kami bongkar satu per satu lalu didinginkan,&#8221; ujar Rudy.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sulitnya memadamkan bara di bawah timbunan sampah mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengusulkan Operasi Modifikasi Cuaca kepada pemerintah pusat apabila hujan alami tidak turun di kawasan Galuga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wali Kota (Wali Kota) Bogor Dedie A. Rachim mengatakan hujan dinilai dapat membantu mempercepat proses pendinginan area kebakaran yang telah berlangsung selama lima hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jadi memang salah satu penanganan yang harus dilakukan adalah modifikasi cuaca dengan menurunkan hujan, kalau kemudian ternyata hujan alami tidak turun di wilayah Galuga. Itu yang kita coba usulkan nanti (pemerintah pusat),&#8221; ujar Dedie yang memantau langsung proses penanganan kebakaran bersama Bupati Bogor Rudy Susmanto, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Jumat, (11\/09\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Upaya pemadaman dilakukan menggunakan sejumlah metode, mulai dari pengerahan alat berat, penyemprotan air, hingga water bombing dengan dukungan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kita koordinasi dengan Lanud ATS (Atang Sanjaya), untuk tetap dilakukan water bombing, Insya Allah masih akan dilakukan. Jadi multimethod lah ya, tidak mungkin dengan hanya cuma satu cara,&#8221; ujar Dedie.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jadi memang kita berupaya semaksimal mungkin apa yang kita bisa lakukan, terutama dengan mengerahkan alat-alat berat, ditambah dengan penyemprotan. Tetapi tadi, harapannya hujan. Kalaupun nanti beberapa hari ke depan belum turun hujan, kita usulkan untuk modifikasi cuaca, supaya bisa turun hujan di sini,&#8221; tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dedie menjelaskan, karakter kebakaran pada timbunan sampah menyebabkan api sulit diketahui hanya dengan pengamatan dari permukaan. Titik api dapat kembali terlihat ketika tumpukan sampah dibongkar menggunakan alat berat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Namun, seperti yang kita duga, api di lokasi tempat pembuangan akhir sampah ini kan ibarat sekam ada di dalam. Jadi, kelihatan dari luar seperti tidak ada muncul api atau titik api, tetapi manakala kita gali, kemudian terlihat api,&#8221; ujar Dedie.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemadaman terus dilakukan dengan mengombinasikan pembongkaran timbunan, pendinginan, penyemprotan, serta water bombing. Pemerintah daerah berharap modifikasi cuaca dapat menjadi pilihan tambahan apabila hujan alami belum turun sehingga bara api di dalam timbunan sampah dapat segera dipadamkan dan kebakaran tidak kembali meluas. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Memasuki hari kelima, kebakaran TPA Galuga telah meluas hingga 7,1 hektare, sementara bara yang tersembunyi di dalam timbunan sampah membuat pemerintah mengandalkan berbagai metode pemadaman dan mempertimbangkan modifikasi cuaca. JAWA BARAT &#8211; Bara api yang masih tersembunyi di dalam timbunan sampah menjadi kendala utama pemadaman kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga di Cibungbulang, Kabupaten Bogor, &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":205938,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,9359,35],"tags":[52761,58277,7793,58273,8649,31215,58275,39175,58271,20269,58274,54056,58276,52617,44078,58272,39604],"class_list":["post-205937","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-jawa-barat","category-berita-nasional","tag-1-hektare","tag-bara-api-timbunan-sampah","tag-bogor","tag-dedie-rachim","tag-jawa-barat","tag-kabupaten-bogor","tag-kebakaran-7","tag-kebakaran-sampah","tag-kebakaran-tpa-galuga","tag-kota-bogor","tag-lanud-atang-sendjaja","tag-modifikasi-cuaca","tag-pemadaman-tpa-galuga","tag-rudy-susmanto","tag-tni-au","tag-tpa-galuga-terbakar","tag-water-bombing"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205937","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=205937"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205937\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":205947,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205937\/revisions\/205947"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/205938"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=205937"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=205937"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=205937"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}