{"id":205982,"date":"2026-09-12T07:56:23","date_gmt":"2026-09-11T23:56:23","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=205982"},"modified":"2026-09-12T07:57:12","modified_gmt":"2026-09-11T23:57:12","slug":"api-tak-terlihat-karhutla-gambut-kalsel-sulit-dipadamkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/api-tak-terlihat-karhutla-gambut-kalsel-sulit-dipadamkan\/","title":{"rendered":"Api Tak Terlihat, Karhutla Gambut Kalsel Sulit Dipadamkan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Karhutla di Kalsel telah berdampak pada 20.206,06 hektare lahan, sementara kebakaran di kawasan gambut masih sulit dikendalikan karena sumber api dapat bertahan di bawah permukaan.<\/em><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\"><strong>BANJARBARU &#8211;<\/strong> Pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) masih menghadapi tantangan dari kebakaran di kawasan gambut yang dapat menyisakan sumber api di bawah permukaan tanah meski kobaran di permukaan telah berkurang.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat hingga 10 September 2026 terdapat 20.206,06 hektare lahan terdampak karhutla dengan total 2.963 kejadian sejak 1 Januari 2026. Kabupaten Banjar menjadi wilayah dengan luas terdampak terbesar, sekitar 5.100 hektare, disusul Kota Banjarbaru sekitar 2.539 hektare dan Kabupaten Tanah Laut.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Kepala BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra mengatakan kondisi karhutla mulai terkendali, tetapi sejumlah titik masih mengeluarkan asap karena berada di kawasan gambut yang membutuhkan penanganan lebih lama.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">\u201cMeskipun karhutla mulai terkendali, masih terdapat sejumlah titik yang mengeluarkan asap karena berada pada kawasan lahan gambut yang membutuhkan penanganan lebih lama,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Karakteristik gambut membuat proses pemadaman tidak cukup hanya mengatasi api yang terlihat di permukaan. Sumber panas dapat bertahan di bawah tanah sehingga petugas perlu melakukan pemantauan dan penanganan secara lebih mendalam.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Untuk menghadapi kondisi tersebut, BPBD Kalsel bersama unsur terkait memadukan sejumlah metode, termasuk penyuntikan kawasan gambut menggunakan cairan surfaktan yang diinisiasi Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalsel serta pemanfaatan drone termal untuk mendeteksi titik panas.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Ronny mengatakan perpaduan metode itu cukup efektif membantu pengendalian karhutla. Namun, penanganan gambut tetap membutuhkan waktu karena sumber api dapat berada di bawah permukaan dan terus menghasilkan asap meskipun api terbuka telah berkurang.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Selain ancaman api, kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Kalsel turut menjadi persoalan dalam penanganan karhutla. Ketersediaan air perlu dijaga karena sumber daya tersebut dibutuhkan masyarakat sekaligus menjadi bagian penting dalam upaya pemadaman.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Kondisi itu, sebagaimana diberitakan Antara, Jumat, (11\/09\/2026), membuat BPBD Kalsel meminta masyarakat turut mencegah munculnya titik api baru. Warga diingatkan tidak melakukan pembakaran sampah ataupun membuka dan membersihkan lahan dengan metode pembakaran tanpa pengawasan yang benar.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">BPBD Kalsel juga mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air selama kondisi kering berlangsung. Penghematan diperlukan agar ketersediaan air tetap mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus mendukung upaya penanganan karhutla.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Dengan pengendalian titik panas, pencegahan pembakaran dan penggunaan air secara bijak, tekanan terhadap sumber daya serta risiko meluasnya karhutla di Kalsel diharapkan dapat ditekan. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi08<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Karhutla di Kalsel telah berdampak pada 20.206,06 hektare lahan, sementara kebakaran di kawasan gambut masih sulit dikendalikan karena sumber api dapat bertahan di bawah permukaan. BANJARBARU &#8211; Pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) masih menghadapi tantangan dari kebakaran di kawasan gambut yang dapat menyisakan sumber api di bawah permukaan tanah meski &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":85,"featured_media":205983,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2279,17,2276],"tags":[58365,11810,7846,40092,58364,33874,15665,20126,58362,58361,58363,8829,57056],"class_list":["post-205982","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-banjarbaru-provinsi-kalimantan-selatan","category-headlines","category-kalimantan-selatan-kalsel","tag-api-bawah-tanah","tag-banjar","tag-banjarbaru","tag-bpbd-kalsel","tag-drone-termal","tag-karhutla-kalsel","tag-kebakaran-gambut","tag-kebakaran-hutan-dan-lahan","tag-kekeringan-kalsel","tag-lahan-gambut-kalsel","tag-surfaktan-karhutla","tag-tanah-laut","tag-titik-panas-kalsel"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205982","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/85"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=205982"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205982\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":205984,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205982\/revisions\/205984"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/205983"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=205982"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=205982"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=205982"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}