{"id":206080,"date":"2026-09-12T13:19:40","date_gmt":"2026-09-12T05:19:40","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=206080"},"modified":"2026-09-12T13:19:40","modified_gmt":"2026-09-12T05:19:40","slug":"lahan-kering-dan-angin-kencang-picu-risiko-karhutla-meluas-di-kubar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/lahan-kering-dan-angin-kencang-picu-risiko-karhutla-meluas-di-kubar\/","title":{"rendered":"Lahan Kering dan Angin Kencang Picu Risiko Karhutla Meluas di Kubar"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Dua karhutla dalam sehari di Nyuatan dan Siluq Ngurai menghanguskan sekitar 12 hektare lahan masyarakat, sementara kondisi kering, angin, dan medan sulit menjadi tantangan dalam proses pemadaman.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KUTAI BARAT &#8211;<\/strong> Kondisi lahan kering, cuaca cerah, angin cukup deras, hingga akses yang sulit menjadi tantangan dalam penanganan dua kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi dalam sehari di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur (Kaltim), Kamis (10\/09\/2026). Kebakaran di Kecamatan Nyuatan dan Siluq Ngurai itu menghanguskan sekitar 12 hektare lahan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebakaran terluas terjadi di Kampung Sentalar, Kecamatan Nyuatan, dengan area terdampak sekitar 10 hektare. Api membakar kawasan perkebunan kelapa sawit dan karet milik masyarakat, sedangkan kebakaran di Kampung Muhur, Kecamatan Siluq Ngurai, menghanguskan sekitar dua hektare semak belukar dan tanaman warga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kubar Haris Kurniawan melalui Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres Kubar Sukoco mengatakan, kebakaran di Kampung Sentalar diketahui sekitar pukul 16.30 Waktu Indonesia Tengah (WITA).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Personel Kepolisian Sektor (Polsek) Damai bersama unsur Kecamatan Nyuatan, Pemadam Kebakaran (Damkar), aparat kampung, dan masyarakat kemudian bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tim gabungan tiba di lokasi sekitar pukul 18.00 WITA dan segera melakukan upaya pemadaman,&#8221; kata Sukoco, sebagaimana diberitakan Tribunkaltim, Jumat, (11\/09\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Upaya pemadaman dilakukan menggunakan satu unit mobil Damkar jenis slip-on milik Kecamatan Nyuatan. Selain petugas, sekitar 25 warga turut membantu memadamkan api yang berpotensi merambat ke perkebunan lain akibat kondisi lahan yang kering.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah berlangsung selama beberapa jam, api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 22.30 WITA. Petugas kemudian melakukan pendinginan dan pemantauan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyulut kebakaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan pengecekan sementara, luas lahan yang terbakar di Kampung Sentalar diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tidak terdapat korban jiwa maupun kerugian materiil yang dilaporkan. Sementara asal muasal api penyebab kebakaran masih dalam proses pendalaman,&#8221; jelas Sukoco.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa jam sebelum kebakaran di Sentalar diketahui, kejadian serupa terjadi di Kampung Muhur, Kecamatan Siluq Ngurai. Api mulai terdeteksi sekitar pukul 14.00 WITA setelah warga melihat kepulan asap dari lahan masyarakat di Jalan Trans Kaltim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Siluq Ngurai Ramli Parningotan Sianturi mengatakan, personel kepolisian langsung menuju lokasi setelah menerima informasi mengenai kebakaran tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Personel Polsek Siluq Ngurai kemudian mendatangi lokasi sekitar pukul 14.15 WITA dan langsung melakukan upaya pemadaman bersama tim gabungan,&#8221; kata Ramli, Jumat (11\/09\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Proses pemadaman di Kampung Muhur menghadapi tantangan akibat cuaca cerah dan angin cukup deras yang membuat api cepat merambat. Akses menuju titik kebakaran juga sulit karena kawasan dipenuhi semak belukar serta memiliki medan menurun yang cukup terjal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tim gabungan mengerahkan satu unit mobil pemadam milik Kecamatan Siluq Ngurai dan satu unit water truck milik Perseroan Terbatas (PT) Energi Batu Hitam (EBH). Api akhirnya dapat dikendalikan sekitar pukul 19.00 WITA setelah proses pemadaman dan pendinginan dilakukan selama beberapa jam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebakaran di Kampung Muhur diperkirakan menghanguskan sekitar dua hektare lahan. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, sedangkan penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penanganan dan pemantauan melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubar, pemerintah kecamatan, Komando Rayon Militer (Koramil) Siluq Ngurai, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Siluq Ngurai, pemerintah kampung, serta perusahaan di sekitar lokasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Petugas terus memantau kedua lokasi untuk memastikan tidak terdapat titik api maupun bara yang berpotensi memicu kebakaran susulan. Masyarakat juga diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, terutama ketika kondisi kering dan angin dapat mempercepat penyebaran api.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Warga diminta segera melapor apabila menemukan titik api atau kepulan asap agar penanganan dapat dilakukan sejak dini. Kewaspadaan dan respons cepat dinilai penting untuk mencegah kebakaran meluas serta mengurangi risiko kerusakan perkebunan dan lahan masyarakat di Kubar selama musim kering. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dua karhutla dalam sehari di Nyuatan dan Siluq Ngurai menghanguskan sekitar 12 hektare lahan masyarakat, sementara kondisi kering, angin, dan medan sulit menjadi tantangan dalam proses pemadaman. KUTAI BARAT &#8211; Kondisi lahan kering, cuaca cerah, angin cukup deras, hingga akses yang sulit menjadi tantangan dalam penanganan dua kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi dalam &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":206095,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,26,483],"tags":[58545,19920,41168,5544,1656,58537,56571,52495,20126,52494,52457,58544,58535,58542,1838,1806,17121,25694,15579,58540,58541,58543,58539,58536,58538],"class_list":["post-206080","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-barat","tag-12-hektare-lahan-terbakar","tag-bpbd-kubar","tag-haris-kurniawan","tag-kalimantan-timur","tag-kaltim","tag-kampung-muhur","tag-kampung-sentalar","tag-karhutla-kubar","tag-kebakaran-hutan-dan-lahan","tag-kebakaran-lahan-kubar","tag-kebun-karet-terbakar","tag-kebun-sawit-terbakar","tag-kecamatan-nyuatan","tag-kphp-siluq-ngurai","tag-kubar","tag-kutai-barat","tag-musim-kemarau","tag-pencegahan-karhutla","tag-polres-kubar","tag-polsek-damai","tag-polsek-siluq-ngurai","tag-pt-energi-batu-hitam","tag-ramli-parningotan-sianturi","tag-siluq-ngurai","tag-sukoco"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/206080","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=206080"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/206080\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":206099,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/206080\/revisions\/206099"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/206095"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=206080"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=206080"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=206080"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}