{"id":206817,"date":"2026-09-15T09:08:55","date_gmt":"2026-09-15T01:08:55","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=206817"},"modified":"2026-09-15T09:28:01","modified_gmt":"2026-09-15T01:28:01","slug":"ontang-catat-43-kasus-hiv-aids-baru-sepanjang-2026","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/ontang-catat-43-kasus-hiv-aids-baru-sepanjang-2026\/","title":{"rendered":"Bontang Catat 43 Kasus HIV\/AIDS Baru Sepanjang 2026"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><em>Revisi Perda HIV\/AIDS Kaltim diarahkan untuk memperkuat fasilitas pemeriksaan, dukungan anggaran, dan tim penanganan agar kasus baru lebih cepat ditemukan dan ditindaklanjuti.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>BONTANG<\/strong> &#8211; Penguatan sistem deteksi dan penanganan HIV\/AIDS menjadi salah satu fokus dalam revisi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Penanggulangan HIV\/AIDS di Kalimantan Timur (Kaltim). Langkah itu dinilai mendesak karena kemampuan daerah menemukan kasus baru masih terkendala keterbatasan anggaran, fasilitas pemeriksaan, dan lamanya proses analisis sampel.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ketua Panitia Khusus (Pansus) Revisi Perda Nomor 5 Tahun 2007 tentang Penanggulangan HIV\/AIDS Provinsi Kaltim, Darlis Pattalongi, mengatakan angka kasus yang tercatat saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan. Menurut dia, masih terdapat kemungkinan kasus yang belum terdeteksi karena pemeriksaan terhadap masyarakat yang masuk kategori suspek belum dapat dilakukan secara optimal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Hal tersebut disampaikan Darlis dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) pembahasan revisi Perda di Pendopo Wali Kota Bontang, Senin (14\/09\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Menurut Darlis, kemampuan pemeriksaan di setiap daerah sangat dipengaruhi kondisi anggaran. Kendala juga terjadi pada pemeriksaan sampel karena analisis untuk mengetahui kondisi virus masih tersentralisasi di Laboratorium Provinsi Kaltim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sentralisasi pemeriksaan tersebut membuat daerah harus menunggu hasil analisis hingga sekitar satu pekan. Kondisi itu dinilai dapat memperlambat proses penemuan kasus baru dan tindak lanjut terhadap masyarakat yang membutuhkan penanganan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cKami sadari kekurangan itu. Makanya dalam revisi perda ini akan kami sempurnakan,\u201d kata Darlis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Melalui revisi regulasi, kebutuhan fasilitas pemeriksaan dan mekanisme penanganan akan diakomodasi dalam usulan kebijakan baru. Dukungan anggaran juga menjadi bagian yang akan diatur agar kemampuan deteksi dan penanganan kasus tidak semata-mata bergantung pada kapasitas keuangan masing-masing daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tantangan serupa masih dihadapi Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang. Wakil Wali Kota (Wawali) Bontang Agus Haris menyebut terdapat 441 tambahan kasus HIV\/AIDS sepanjang 2021 hingga 2026. Dari jumlah tersebut, 299 orang masih berada dalam intervensi Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang, sedangkan 142 lainnya tidak lagi diketahui keberadaannya atau telah meninggal dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada 2026 saja, tercatat 43 kasus baru HIV\/AIDS di Bontang. Kasus tersebut terdiri atas 24 laki-laki dan 19 perempuan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dinkes Bontang masih melakukan pendampingan terhadap pasien yang dapat dijangkau. Pendampingan meliputi perawatan jalan dan pemantauan kondisi pasien sebagai bagian dari upaya mencegah penularan yang lebih luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pemeriksaan atau screening juga dilakukan terhadap kelompok tertentu, termasuk ibu hamil. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan penemuan kasus baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cKami juga kesulitan dalam mendeteksi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Agus menilai penguatan penanganan HIV\/AIDS ke depan membutuhkan pendekatan yang lebih terintegrasi. Penambahan pemeriksaan saja dinilai belum cukup tanpa dukungan tim khusus yang dapat menangani proses deteksi hingga pendampingan pasien.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cTentu ke depan harus ada tim khusus penanganan. Tentu dengan kebutuhan anggaran,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Penguatan fasilitas, ketersediaan anggaran, dan tim penanganan diharapkan dapat mempercepat penemuan kasus HIV\/AIDS sekaligus memastikan pasien yang teridentifikasi memperoleh pendampingan secara berkelanjutan. Namun, nama sumber berita dan waktu publikasi yang menjadi dasar informasi dalam draf tidak dicantumkan, sehingga penyebutan sumber media tidak dapat dilakukan tanpa berisiko mengarang informasi. []\n<p style=\"text-align: justify\">Redaksi 03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Revisi Perda HIV\/AIDS Kaltim diarahkan untuk memperkuat fasilitas pemeriksaan, dukungan anggaran, dan tim penanganan agar kasus baru lebih cepat ditemukan dan ditindaklanjuti. BONTANG &#8211; Penguatan sistem deteksi dan penanganan HIV\/AIDS menjadi salah satu fokus dalam revisi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2007 tentang Penanggulangan HIV\/AIDS di Kalimantan Timur (Kaltim). Langkah itu dinilai mendesak karena &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":94,"featured_media":206820,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[475,26],"tags":[20367,59479,1743,10445,59473,16406,128,884,5544,1656,59472,59478,17424,59477,59476,7071,59480,59475,59474],"class_list":["post-206817","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-bontang","category-kalimantan-timur-kaltim","tag-agus-haris","tag-anggaran-kesehatan","tag-bontang","tag-darlis-pattalongi","tag-deteksi-hiv-aids","tag-dinkes-bontang","tag-dprd-kaltim","tag-hivaids","tag-kalimantan-timur","tag-kaltim","tag-kasus-hiv-aids","tag-kesehatan-bontang","tag-kesehatan-kaltim","tag-laboratorium-provinsi-kaltim","tag-pansus-hiv-aids","tag-pemkot-bontang","tag-penanggulangan-hiv-aids","tag-perda-nomor-5-tahun-2007","tag-revisi-perda-hiv-aids"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/206817","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/94"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=206817"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/206817\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":206825,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/206817\/revisions\/206825"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/206820"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=206817"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=206817"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=206817"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}