{"id":207744,"date":"2026-09-18T08:51:42","date_gmt":"2026-09-18T00:51:42","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=207744"},"modified":"2026-09-18T08:52:26","modified_gmt":"2026-09-18T00:52:26","slug":"epidemi-hiv-fiji-melonjak-unaids-soroti-krisis-kesehatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/epidemi-hiv-fiji-melonjak-unaids-soroti-krisis-kesehatan\/","title":{"rendered":"Epidemi HIV Fiji Melonjak, UNAIDS Soroti Krisis Kesehatan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Fiji menetapkan keadaan darurat kesehatan nasional setelah infeksi HIV melonjak tajam, sementara sebagian besar orang yang hidup dengan HIV belum mengetahui statusnya dan hanya sebagian kecil yang mendapatkan pengobatan.<\/em><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\"><strong>SUVA &#8211;<\/strong> Pemerintah Fiji menetapkan keadaan darurat kesehatan nasional terkait HIV setelah jumlah infeksi meningkat tajam, sementara sebagian besar orang yang hidup dengan virus tersebut belum mengetahui statusnya dan belum memperoleh pengobatan. Kondisi itu dinilai membutuhkan respons kesehatan yang lebih terkoordinasi dan mendesak.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Menteri Kesehatan dan Layanan Medis Fiji Ratu Atonio Lalabalavu mengatakan pemerintah memperkirakan satu dari setiap 60 orang dewasa di negara kepulauan Pasifik tersebut kini hidup dengan HIV. Angka itu meningkat dibandingkan perkiraan lima tahun sebelumnya, yakni satu dari setiap 167 orang dewasa.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Hari ini, saya secara resmi menyatakan keadaan darurat kesehatan nasional di Fiji,&#8221; kata Ratu Atonio, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Jumat (18\/09\/2026).<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Keputusan ini mengakui betapa seriusnya epidemi tersebut, serta perlunya respons terkoordinasi yang mendesak bagi negara kita saat ini,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Ratu mengatakan situasi tersebut turut terlihat dari jumlah diagnosis baru. Sepanjang 2025, Fiji mencatat 2.060 diagnosis HIV baru. Pada tahun yang sama, sekitar satu dari 50 perempuan hamil di negara tersebut diketahui mengidap HIV.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Lima tahun lalu perkiraannya adalah satu dari 167 orang. Pada tahun 2025, kami mencatat 2.060 diagnosis HIV baru, sementara satu dari 50 wanita hamil mengidap HIV,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Deklarasi darurat itu merupakan tindak lanjut keputusan kabinet pada 9 September 2026. Pemerintah menilai peningkatan kasus tidak lagi cukup ditangani melalui respons pada tingkat wabah sehingga diperlukan koordinasi yang lebih luas.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan catatan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk HIV\/AIDS, UNAIDS, infeksi HIV baru di Fiji meningkat hingga 12 kali lipat pada periode 2010-2025. Negara dengan populasi kurang dari satu juta jiwa itu menjadi salah satu negara yang mengalami peningkatan infeksi baru paling tajam di dunia.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Persoalan lain terletak pada kemampuan masyarakat mengakses layanan HIV. Dari perkiraan 9.100 orang yang hidup dengan HIV di Fiji pada 2025, hanya 39 persen yang mengetahui status HIV mereka. Sementara itu, hanya 22 persen yang mendapatkan pengobatan antiretroviral.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Data UNAIDS mengenai kasus HIV yang diketahui cara penularannya juga menunjukkan lebih dari separuh kasus berkaitan dengan penularan seksual, sedangkan lebih dari 42 persen terkait penggunaan narkoba suntik.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Penyebaran virus tersebut disebut semakin cepat di tengah posisi Fiji sebagai salah satu jalur penyelundupan narkoba dan meningkatnya penggunaan metamfetamin. Praktik penyuntikan yang tidak aman serta keterbatasan akses terhadap jarum suntik bersih turut menjadi faktor yang memperbesar risiko penularan.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Kondisi tersebut diperburuk oleh rendahnya kesadaran kesehatan, stigma budaya, serta keterbatasan layanan pemeriksaan dan pengobatan HIV. Akibatnya, masih terdapat kesenjangan besar antara jumlah orang yang diperkirakan hidup dengan HIV dan mereka yang mengetahui status maupun memperoleh terapi.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Direktur Eksekutif UNAIDS Winnie Byanyima menilai perkembangan di Fiji menunjukkan epidemi HIV dapat berubah dengan cepat dan membutuhkan kesiapan sistem kesehatan serta masyarakat.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Epidemi HIV dapat berubah dengan cepat, dan negara-negara membutuhkan sistem kesehatan serta sistem berbasis masyarakat yang siap merespons secara mendesak. Fiji telah menyadari urgensi situasi saat ini dan tengah meningkatkan responsnya,&#8221; kata Byanyima.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Deklarasi keadaan darurat diharapkan mendorong penguatan pemeriksaan, pencegahan, akses pengobatan, serta koordinasi layanan kesehatan dan masyarakat. Langkah tersebut menjadi penting untuk meningkatkan jumlah orang yang mengetahui status HIV dan memperoleh pengobatan secara tepat. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi08<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fiji menetapkan keadaan darurat kesehatan nasional setelah infeksi HIV melonjak tajam, sementara sebagian besar orang yang hidup dengan HIV belum mengetahui statusnya dan hanya sebagian kecil yang mendapatkan pengobatan. SUVA &#8211; Pemerintah Fiji menetapkan keadaan darurat kesehatan nasional terkait HIV setelah jumlah infeksi meningkat tajam, sementara sebagian besar orang yang hidup dengan virus tersebut belum &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":85,"featured_media":207745,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2254],"tags":[60807,60806,60811,60803,2921,60805,60812,19692,60814,60815,60813,60809,60804,60808,60810],"class_list":["post-207744","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-internasional","tag-aids","tag-darurat-kesehatan-fiji","tag-epidemi-hiv","tag-fiji","tag-hiv","tag-hiv-fiji","tag-infeksi-hiv","tag-kesehatan-masyarakat","tag-narkoba-suntik","tag-pasifik","tag-pengobatan-antiretroviral","tag-ratu-atonio-lalabalavu","tag-suva","tag-unaids","tag-winnie-byanyima"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/207744","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/85"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=207744"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/207744\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":207747,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/207744\/revisions\/207747"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/207745"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=207744"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=207744"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=207744"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}