{"id":2157,"date":"2014-06-07T18:41:07","date_gmt":"2014-06-07T10:41:07","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.co.id\/?p=2157"},"modified":"2022-10-16T20:57:31","modified_gmt":"2022-10-16T12:57:31","slug":"usia-rd-masih-10-tahun-tapi-kejahatan-seksualnya-menakutkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/usia-rd-masih-10-tahun-tapi-kejahatan-seksualnya-menakutkan\/","title":{"rendered":"Si Bocah Maniak Seks Menakutkan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Kasus kejahatan seksual kembali terjadi. Kali ini pelakunya anak berusia di bawah umur, masih berusia 10 tahun. Korban adalah teman sebaya.<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bocah itu, RD, diduga melakukan kejahatan seksual di Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara. Lima orang bocah sudah mengaku menjadi korban perbuatan RD.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lima bocah itu adalah F (10), I (7), N (7), E (8), dan D (7). Dua di antara mereka adalah bocah perempuan, yaitu F dan E. Menurut F, RD yang adalah teman sekolah dan sepermainannya memasukkan kemaluannya ke dubur F.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Waktu itu habis isya lagi main bakar-bakaran sampah, berlima saya, I, N, D, dan RD. Tiba-tiba RD pelorotin celana saya terus masukin kemaluannya ke dubur saya. Kemaluan bagian depan juga diraba-raba sama dia (RD),&#8221; ungkap F kepada Kompas.com, Jumat (6\/6\/2014) malam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat itu, kata F, teman-temannya yang sedang bermain bersamanya hanya bisa diam karena diancam oleh RD akan dipukul menggunakan batu bila menolak pemintaannya tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal senada juga diungkapkan N, korban lainnya. Bahkan, dubur N sempat dimasuki kayu seukuran bambu. &#8220;Selain dimasukin kemaluan RD, dubur saya juga pernah dimasukin kayu, rasanya perih banget,&#8221; ujar N.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">N mengaku bukan hanya sekali diperlakukan seperti itu, meski tak ingat berapa kali tepatnya. Adapun Haryanto (32), orangtua dari N, awalnya tidak pernah curiga dengan sakit yang dialami anaknya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sempet anak saya (N) sakit diare sampai seminggu dan mengeluhkan sakit di bagian duburnya,&#8221; ungkap Haryanto. Anaknya tersebut juga pernah demam panas dingin dan mengigau &#8220;Sakit, sakit.&#8221; Namun, anaknya itu tak pernah bercerita tentang apa yang dialaminya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketahuan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rini (40), orangtua F, menuturkan, terbongkarnya perbuatan RD ini karena menantunya mendengar celotehan anak-anak tentang kelakuan RD, Sabtu (31\/5\/2014).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Menantu saya denger anak-anak ngomongin RD yang pelorotin celana dan memasukan kelamin ke dalam dubur mereka,&#8221; kata Rini. Mendengar pembicaraan tersebut, menantu Rini langsung memanggil F dan menanyakan hal tersebut kepada F.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Awalnya pas ditanya, F langsung menangis, akhirnya saat ditanyakan ke anak lainnya, langsung ketahuan kelakuannya si RD,&#8221; ucap Rini. Menurut Rini, menantunya juga langsung bertanya ke RD soal perbuatannya kepada teman-temannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Waktu itu RD lagi main layangan, pas dipanggil sempat tidak mau,&#8221; ujar Rini. Warga akhirnya mendatangi rumah RD untuk meminta penjelasan dari orangtua RD.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jawaban orangtua RD justru mengejutkan. &#8220;Orangtuanya justru jawabnya enteng banget, namanya juga anak-anak. Lagi pula yang melakukan anak-anak jadinya enggak masalah, kecuali orang yang sudah dewasa,&#8221; ucap Rini menirukan kalimat orangtua RD.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak puas dengan tanggapan orangtua RD, para orangtua korban langsung melaporkan perbuatan RD ke RT dan RW setempat pada Selasa (2\/6\/2014). Namun, pihak RT dan RW tidak juga memberikan tanggapan serius soal laporan itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Akhirnya, kami para orangtua melaporkan perbuatan RD ke Polres Metro Jakarta Utara pada Rabu (3\/6\/2014). Waktu di kantor polisi si RD baru mengakui perbuatannya,&#8221; tutur Rini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, Rika Sutiyo, perwakilan dari Lembaga Perlindungan Anak Kota Jakarta Utara, mengatakan, karena pelaku yang masih berusia 10 tahun, kasus dugaan kejahatan seksual ini dilimpahkan Polres kepada pihak LPA.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Karena korban dan pelaku masih butuh perlindungan sehingga dilakukan mediasi secara kekeluargaan antara pihak keluarga korban dan keluarga pelaku,&#8221; ujar Rika. Dia menyebutkan dua mediasi sudah dilakukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam mediasi tersebut, pihak keluarga korban meminta agar pelaku dan keluarganya segera pindah dari permukiman padat tersebut. &#8220;Kemudian minta supaya pelaku direhabilitasi, lalu para korban mendapatkan pengobatan dan bila memang terjadi suatu penyakit yang diderita korban karena ulah pelaku, keluarga pelaku harus bisa menanggung biaya pengobatan,&#8221; tutur Rika.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada Sabtu (7\/6\/2014), para korban akan menjalani pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Nantinya, kata Rika, bila memang benar terbukti dan polisi butuh visum, para korban akan menjalani proses visum. [] RedFj\/TN<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kasus kejahatan seksual kembali terjadi. Kali ini pelakunya anak berusia di bawah umur, masih berusia 10 tahun. Korban adalah teman sebaya.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2158,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,35],"tags":[],"class_list":["post-2157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-nasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2157"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2157\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23062,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2157\/revisions\/23062"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}