{"id":2374,"date":"2014-06-10T18:34:18","date_gmt":"2014-06-10T10:34:18","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.co.id\/?p=2374"},"modified":"2022-10-17T07:25:49","modified_gmt":"2022-10-16T23:25:49","slug":"hanya-gara-gara-percintaan-kampus-di-coret-coret","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/hanya-gara-gara-percintaan-kampus-di-coret-coret\/","title":{"rendered":"Hanya Gara-Gara Percintaan Kampus di Coret-Coret"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify\">Civitas Program Studi Ilmu Komunikasi (Ilkom), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Mulawarman (Unmul), kaget bukan kepalang. Hari pertama pembukaan pekan, Senin (9\/6) pagi, para dosen, staf, hingga mahasiswa, dikejutkan gedung kuliah yang menjadi sasaran vandalisme.<\/div>\n<p><!--more--><\/p>\n<div style=\"text-align: justify\">\nHampir di sekujur kampus bercat putih dicoret-coret cat semprot merah. Semua tulisan berisi nama seorang mahasiswi Ilkom angkatan 2011 bernama Rully Enesty (21). Kalimat yang terpampang yakni, \u201c<em>I love you, Rully Enesty<\/em>.\u201d Aksi nekat yang menggelikan di dunia percintaan, namun tak patut ditiru.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nKejadian ini adalah kali kedua di kampus Gunung Kelua itu. Menurut sumber <em>waratan<\/em> di lingkungan kampus, Jumat, 9 Mei lalu, gedung juga dicoret-coret. Namun, tak sebesar kemarin. Pada Mei lalu, kampus cat yang digunakan berwarna hijau sehingga tak terlampau tampak. Isinya sama, seperti ungkapan hati Arjuna yang patah hati.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nSiapa sang Arjuna itu? Dugaan mengarah kepada Christa Darwin, mantan kekasih Enes &#8211;sapaan Rully Enesty. Kabar yang beredar di kalangan mahasiswa, Christa tak terima hubungan kasih dengan Enes berakhir. Hal itu dikuatkan dari beberapa komentar bernada galau yang diunggah Christa di media sosial.<\/p>\n<p>\u201c<em>Bersekutu dengan raja iblis pun aku lakukan untuk membuat hatinya kembali. Saatnya bertindak untuk merebut hati yang lari agar mengusir sepi. Pasti bisa<\/em>,\u201d tulisnya pada 30 April silam.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nChrista adalah mahasiswa Ilkom angkatan 2006. Dia di-<em>drop out<\/em> pada 2010 silam. Christa bertemu Enes ketika masuk organisasi kemahasiswaan yang sama.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nAdapun Christa, membantah tuduhan yang menjadi buah bibir di Unmul itu. Dihubungi malam tadi, dia mengaku sedang di Berau.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n\u201cSaya baru dapat informasi dari teman-teman kampus. Saya kaget diberi tahu coret-coret itu,\u201d katanya. \u201cMungkin ada orang yang mencoba menjelekkan nama saya. Saya akan cari,\u201d sambungnya. Meski begitu, Christa mengakui hubungannya dengan Enes sedang dilanda konflik sehingga hubungan tidak berlanjut.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nSementara kepada <em>Kaltim Post<\/em>, Enes mengakui subjek coret-coret itu adalah namanya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<strong>LAPOR POLISI<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nPada kejadian pertama, bulan lalu, otoritas kampus tidak melaporkan kepada pihak berwajib. Kala itu, hanya gedung Program Studi Ilkom yang dicoret dan Enes bersedia mengecat ulang. Bersama teman-temannya, dia menghapus tulisan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nNamun kali ini, coretan menjalar hingga ke gedung utama FISIP. Langkah tegas diambil Dekan FISIP Prof Adam Idris. Meskipun sedang di Makassar, Adam mengaku telah mengetahui kejadian ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n\u201cIni fasilitas negara, kok, dicoret-coret seperti itu?\u201d kesalnya. Adam berencana melaporkan kejadian kepada kepolisian. Kekesalannya bertambah ketika mendapat kabar pelaku diduga mahasiswa yang di-<em>drop out<\/em> dari kampus. Kejadian ini pun bukan yang pertama di kampus tertua kedua di Unmul ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n\u201cKalau saja pelakunya mahasiswa, mungkin ada toleransi. Ini sama saja perbuatan kriminal,\u201d terang dia. Adam menegaskan, sudah meminta Pembantu Dekan II Margono melaporkan kejadian ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nSementara menurut Kasubag Humas Polresta Samarinda, Iptu Agus Setyo, perbuatan vandalisme masuk ranah pidana. Pelaku merusak fasilitas umum,\u201d tegas Agus. Pelaku bisa dijerat Pasal 406 ayat 1 KUHP tentang perusakan dan penghancuran benda dengan ancaman hukuman dua tahun delapan bulan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\n<strong>POSITIF, TAPI\u2026<\/strong><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nAksi vandalisme gara-gara masalah cinta, dalam pandangan psikiater RSKD Atma Husada Mahakam Samarinda, Jaya Mualimin, merupakan ekspresi amarah. \u201cDi dunia psikiater, jenis pola ekspresi yang ditunjukkan pelaku adalah ekspresi positif,\u201d ujarnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nJaya menjelaskan, positif bukan berarti baik. Bentuk ekspresi demikian ditunjukkan secara aktif dan bermacam-macam. Mulai marah berlebihan hingga tindak kekerasan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nJaya menegaskan, vandalisme belum tentu kelainan kejiwaan. \u201cKalau tindakan hanya sekali, belum termasuk. Tetapi jika sudah berkali-kali, ada indikasi kelainan kejiwaan,\u201d ucapnya, lalu melanjutkan, \u201cHarus ada tes untuk memastikannya.\u201d [] RedFj\/KP<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Civitas Program Studi Ilmu Komunikasi (Ilkom), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Mulawarman (Unmul), kaget bukan kepalang. Hari pertama pembukaan pekan, Senin (9\/6) pagi, para dosen, staf, hingga mahasiswa, dikejutkan gedung kuliah yang menjadi sasaran vandalisme.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2375,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,26,37],"tags":[],"class_list":["post-2374","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2374","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2374"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2374\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23193,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2374\/revisions\/23193"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2374"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2374"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2374"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}