{"id":2384,"date":"2014-06-10T20:11:14","date_gmt":"2014-06-10T12:11:14","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.co.id\/?p=2384"},"modified":"2022-10-17T07:25:50","modified_gmt":"2022-10-16T23:25:50","slug":"kondisi-jembatan-lempake-yang-memprihatinkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kondisi-jembatan-lempake-yang-memprihatinkan\/","title":{"rendered":"Kondisi Jembatan Lempake Yang Memprihatinkan"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify\">Nyaris roboh, Jembatan di Muang Dalam, Kecamatan Lempake, Samarinda Utara, yang kondisinya memprihatinkan, benar-benar ambruk, kemarin (9\/6). \u00a0Jembatan kayu itu ambruk sekira pukul 01.30 Wita, karena dilintasi ekskavator. Sopir alat berat itu diduga melarikan diri. Tak ayal, enam RT di Desa Muang terisolasi karena jembatan itu merupakan satu-satunya akses warga.<\/div>\n<p><!--more--><\/p>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Wahyudi, warga yang tinggal tak jauh dari jembatan tersebut menyaksikan langsung ambruknya jembatan. Sebelum ambruk, warga RT 31 itu sedang bersantai. Dia pun melihat ada ekskavator yang melintas dan memaksakan lewat jembatan. &#8220;Diberinya tumpukan kayu dulu (di jembatan).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Sudah sampai setengah, pas mau turun langsung ambruk jembatannya,&#8221; jelas Wahyudi. Sayangnya, dia tak mengetahui\u00a0 pasti siapa operator ekskavator tersebut. Sebab, setelah ambruk, operator langsung menghilang.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">&#8220;Tidak ada jalan lain (selain jembatan). Ini tumpuan warga satu-satunya,&#8221; jelas Wahyudi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">&#8220;Kondisi jembatan memang juga memprihatinkan. Sudah bosan, tiap hari itu ada saja (warga terjatuh),&#8221; jelas Wahyudi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Sementara itu, Ketua RT 31, Muang Dalam, \u00a0Tajri, mengatakan ada 6 RT \u00a0\u00a0di daerah ini. &#8221; Yaitu, RT 31, 32, 33, 34, 35 dan RT 47. Semuanya kalau mau keluar lewat jembatan ini,&#8221; jelas Tajri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Mayoritas, kata dia, warga di enam RT tersebut adalah beternak dan bertani. &#8220;Cari uang ya dari situ (beternak dan bertani), makanya kalau mau jual sayur atau hasil ternak\u00a0 pasti agak susah sekarang,&#8221; jelas Tajri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Dia berharap agar pemerintah bisa segera membangun jembatan sementara untuk akses warga. Tajri menambahkan \u00a0sekira empat bulan yang lalu, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang pernah datang dan meninjau jembatan tersebut.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Terpisah, Kasi Peningkatan Jembatan, Dinas Bina Maga dan Pengairan (DBMP) Samarinda, Eko Restu menjelaskan pihaknya\u00a0 sudah melakukan tindakan cepat terhadap pembangunan jembatan sementara. Hanya, ada beberapa kendala yang terjadi. &#8220;Karena ada kena lahan warga, jadi harus ada kesepakatan dulu dengan warga tersebut,&#8221; jelas Eko.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Diketahui, jembatan menuju Desa Muang Dalam di Samarinda Utara rencananya\u00a0 dibangun\u00a0 tahun ini. Pemkot Samarinda telah mengalokasikan Rp 2 miliar tahun ini. Jembatan \u00a0ini memang satu-satunya akses menuju Desa Muang Dalam. Dokumen lelang sudah diserahkan ke Unit Layanan Pengadaan (ULP) di Bagian Pembangunan, Sekretariat Kota (Setkot) Samarinda.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Menurut Eko, proyek jembatan ini terbagi dua tahap. Pertama, dianggarkan Rp 2 miliar untuk fondasi dan pembuatan jembatan sementara. \u00a0Kedua dianggarkan Rp 10 miliar untuk pembangunan bentang atas jembatan. \u201cPembangunan harus dilakukan bertahap karena anggaran terbatas,\u201d ujarnya. Eko merinci, panjang jembatan 18 meter dan lebar tujuh meter. Tahap pertama, estimasi waktu pengerjaan tiga bulan. [] RedFj\/KP<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nyaris roboh, Jembatan di Muang Dalam, Kecamatan Lempake, Samarinda Utara, yang kondisinya memprihatinkan, benar-benar ambruk, kemarin (9\/6). \u00a0Jembatan kayu itu ambruk sekira pukul 01.30 Wita, karena dilintasi ekskavator. Sopir alat berat itu diduga melarikan diri. Tak ayal, enam RT di Desa Muang terisolasi karena jembatan itu merupakan satu-satunya akses warga.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2385,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,26,37],"tags":[],"class_list":["post-2384","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2384","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2384"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2384\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23199,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2384\/revisions\/23199"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2384"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2384"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2384"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}