{"id":2706,"date":"2014-06-13T01:13:05","date_gmt":"2014-06-12T17:13:05","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.co.id\/?p=2706"},"modified":"2022-10-17T11:32:22","modified_gmt":"2022-10-17T03:32:22","slug":"tinjau-lokasi-lurah-mengamuk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/tinjau-lokasi-lurah-mengamuk\/","title":{"rendered":"Tinjau Lokasi, Lurah Mengamuk"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Pasca diterjang air bah, Selasa (10\/6) sore lalu, rumah di areal Perumahan Dinas Balai Pemasyarakatan (Bapas) Klas II Samarinda di Jalan MT Haryono, mulai dibenahi. Tembok yang ambruk diterjang air bah pun mulai diperbaiki. Informasinya pembenahan tembok akan disusul perbaikan dinding bangunan yang difungsikan untuk garasi mobil, yang ikut jebol karena dihantam air bah. Keterangan diperoleh wartawan, perbaikan kerusakan tersebut dilakukan pihak Perumahan Meditrania sebagai bentuk tanggung jawab kejadian tersebut.<!--more--><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Karena diduga air bah bervolume besar dan deras itu berasal dari areal perumahan tersebut.<br \/>\nPagi kemarin, Lurah Karang Anyar Agus Sukmara bersama Lurah Teluk Lerong Ulu (TLU) Didik Purwanto melakukan pengecekan ke lokasi Perumahan Dinas Bapas Samarinda tersebut. Menurut Agus, masalah terjangan air bah itu bukan yang pertama terjadi. Karena sebelum Agus menjabat sudah beberapa kali terjadi. \u201cIni masalah lama yang tak pernah tuntas. Kami beberapa kali melakukan rapat dengan pihak pengembang perumahan. Namun sampai sekarang seakan tak ada solusinya,\u201d kata Agus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\nInformasinya beberapa bulan lalu, tembok yang sama juga pernah ambruk dan diperbaiki pihak pengembang Perumahan Meditrania. Saat melihat kualitas tembok, Agus mulai meradang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n\u201cBagaimana mau tahan jika kualitasnya seperti ini. Lihat saja pondasi hingga campuran semennya. Sepertinya sangat rapuh dan besi untuk tiang pondasi dibuat asal-asalan,\u201d terang Agus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\nSeakan tak puas, Agus dan Didik lalu meninjau areal pemukiman elit tersebut. Di sana Agus kembali ngamuk ketika melihat keadaan polder.<br \/>\n\u201cSaat rapat sempat dijanjikan akan dibuatkan polder. Kalau begini bagaimana mau maksimal menampung air, lihat saja. Mana poldernya,\u201d tandas Agus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\nPantauan Sapos, saat memasuki areal perumahan elit itu berjarak 100 meter persis di belakang kantor Dishub Samarinda, terdapat polder yang tak terlalu besar dan dangkal. Setelah itu dilanjutkan pengecekan areal kosong berjarak sekitar 100 meter dari polder pertama itu. Di situ, di lereng bukit dan dipenuhi ilalang Agus dan Didik kembali mengamuk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n\u201cKami sempat diberitahu kalau areal ini polder. Apanya yang polder kalau lereng bukit begini. Tak ada tampungan air, jelas saja air langsung turun dan tak terkendali kalau begini,\u201d ungkap Didik menimpali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\nAgus dan Didik juga melihat pembuatan polder di bagian tengah areal Perumahan Meditrania. \u201cLah, apa ini yang dinamakan polder. Luasnya tak seberapa, bagaimana mau menampung air. Ini lebih mirip kolam hias saja,\u201d beber Agus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\nAgus juga sempat beradu argumen dengan perwakilan Perumahan Meditrania yang menemui mereka usai melakukan tinjauan. \u201cKejadian ini harus ditangani serius. Kasihan warga kami, yang jadi sasaran malah pihak kelurahan karena dianggap tak becus mengurusinya,\u201d kata Agus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\nPerwakilan Perumahan Meditrania Christian saat dikonfirmasi Sapos, membantah jika pihaknya tak mengolah air dan diduga menjadi penyebab air bah tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n\u201cKami punya polder. Semula ada lima, karena satu tak difungsikan jadi tinggal empat. Bahkan salah satunya dalam proses pembuatan. Dua diantaranya adalah polder alam. Kami lagi tahap pembuatan polder yang lebih besar,\u201d beber Christian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\nSelain polder, untuk mengontrol air pihak pengembang juga sudah membuat bendungan di saluran air. Sehingga saat volume air besar bisa dikontrol.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n\u201cJarak tiap bendungan dalam saluran air kami sekitar 25 meter,\u201d tutur Christian.<br \/>\nChristian juga mengklaim, sebenarnya di lokasi yang sama, selain mereka ada pengembang pemukiman lain. Diduga air bercampur lumpur juga ada kaitan dengan aktivitas pengembang pemukiman tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n\u201cYang pasti kami sudah berusaha maksimal dalam pengolahan air,\u201d pungkas Christian.\u00a0 [] RedFj\/SP<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pasca diterjang air bah, Selasa (10\/6) sore lalu, rumah di areal Perumahan Dinas Balai Pemasyarakatan (Bapas) Klas II Samarinda di Jalan MT Haryono, mulai dibenahi. Tembok yang ambruk diterjang air bah pun mulai diperbaiki. Informasinya pembenahan tembok akan disusul perbaikan dinding bangunan yang difungsikan untuk garasi mobil, yang ikut jebol karena dihantam air bah. Keterangan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2707,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[6,26,37],"tags":[],"class_list":["post-2706","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-berita-lain","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2706","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2706"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2706\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23411,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2706\/revisions\/23411"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2706"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2706"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2706"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}