{"id":3029,"date":"2014-06-16T02:39:08","date_gmt":"2014-06-15T18:39:08","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.co.id\/?p=3029"},"modified":"2022-10-17T13:43:45","modified_gmt":"2022-10-17T05:43:45","slug":"ispa-diare-dan-demam-berdarah-mengancam-warga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/ispa-diare-dan-demam-berdarah-mengancam-warga\/","title":{"rendered":"ISPA, Diare, dan Demam Berdarah Mengancam Warga"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify\">Hingga pertengahan Juni ini, perubahan cuaca masih sering terjadi. Terkadang panas kemudian hujan secara tiba-tiba atau sebaliknya. Tidak hanya berimbas pada lingkungan, tapi dapat menguntungkan bagi sebagian bakteri dan virus.<\/div>\n<p><!--more--><\/p>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">CUACA yang tak menentu, terkadang membuat virus mampu berkembang pesat, yang kemudian masuk ke dalam tubuh manusia. Akhirnya berujung dengan beragam teror penyakit. Farah Alkatiri, dokter umum Rumah Sakit Pertamina Balikpapan ini menyebut, ada tiga penyakit yang kian berkembang di Balikpapan. Yakni, Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), diare, dan demam berdarah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Ketiganya merupakan dampak dari perubahan cuaca yang tidak menentu. \u201cPenularan tidak terjadi secara langsung. Tetapi, berawal pada kuman dan bakteri,\u201d ucapnya. Jika cuaca sedang panas, kata dia, sumber air bersih semakin minim. Hingga membuat nyamuk berlomba menempatkan telur dan larva di tempat-tempat air bersih, seperti bak kamar mandi, penampungan air terbuka.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Menurutnya, dengan berkurangnya air bersih, penderita diare semakin bertambah. Sebab meminum air yang mengandung patogen atau sumber bakteri mengganggu sistem pencernaan. Ditambah udara bersih kian berkurang sebab polusi udara merajalela. \u201cJumlah penderita ISPA pun kian bertambah,\u201d jelasnya. Tiga penyakit ini dapat terjadi pada siapa pun, tanpa terkecuali. Ini yang ditakutkan Farah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Penyakit-penyakit tersebut perlahan-lahan menyerang manusia terutama anak-anak. Karena, anak paling rawan dan masih rendah sadar akan kebersihan. Disebabkan penyakit tersebut masuk secara oral. Bagian paling dituju ialah tangan si anak, maupun orang berusia lanjut sebab daya tahan tubuhnya semakin berkurang, berbeda dengan yang masih berada pada usia produktif.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\u201cTidak hanya faktor lingkungan, perkembangan penyakit juga bisa dipengaruhi kebersihan. Misalkan, makanan yang dikonsumsi telah terpapar bakteri dan kuman. Bisa jadi, karena tangan tidak bersih atau bahan yang dipergunakan tidak steril,\u201d jelasnya. Ia mengatakan, sebenarnya manusia dapat beradaptasi dengan perubahan cuaca. Wajarnya, manusia mampu beradaptasi di suhu 18 hingga 35 derajat celsius.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Tetapi, pada patogen dan vektor transisi penularan penyakit turut berubah. Meski kuman memiliki masa hidup berbeda, dan sebagian mampu bertahan dalam suhu yang tinggi. Dirinya memberikan contoh berbeda, seperti suhu panas berlebihan seperti di Arab Saudi. \u201cKetika menunaikan ibadah umrah dan haji, tubuh terpapar sinar matahari secara terus-menerus. Para jamaah bisa saja terkena penyakit kulit, gangguan pernapasan, heat stroke, dan dehidrasi,\u201d terangnya. [] RedFj\/KP<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hingga pertengahan Juni ini, perubahan cuaca masih sering terjadi. Terkadang panas kemudian hujan secara tiba-tiba atau sebaliknya. Tidak hanya berimbas pada lingkungan, tapi dapat menguntungkan bagi sebagian bakteri dan virus.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3030,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[467,26],"tags":[],"class_list":["post-3029","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-balikpapan","category-kalimantan-timur-kaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3029","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3029"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3029\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23658,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3029\/revisions\/23658"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3029"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3029"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3029"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}