{"id":3081,"date":"2014-06-16T21:02:44","date_gmt":"2014-06-16T13:02:44","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.co.id\/?p=3081"},"modified":"2022-10-17T18:01:52","modified_gmt":"2022-10-17T10:01:52","slug":"hobi-yang-tak-melulu-negatif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/hobi-yang-tak-melulu-negatif\/","title":{"rendered":"Hobi yang Tak Melulu Negatif"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify\"><strong>SALAH<\/strong> seorang <em>tattoo artist<\/em> yang ambil bagian dalam 3th Anniversary Balikpapan Tattoo Lovers (BTL) di Sport Center Balikpapan Baru, akhir pekan lalu adalah Rondy. Pemilik Round Die Studio di Jalan Anggur, Samarinda ini, mengawali pekerjaannya itu sejak SMA. \u201cTahun \u201990-an pertama kali saya membuat tato di tubuh sendiri. Dari kumpul bersama kawan, kami saling membuat tato,\u201d kenang pria kalem ini.<\/div>\n<p><!--more--><\/p>\n<div style=\"text-align: justify\">\nHijrah ke Samarinda pada 2001, ia menekuni jasa tato profesional pada 2003. Saat itu kawan yang datang dari Jawa membawakannya majalah tato. Akhirnya ia mulai membuat mesin tato sendiri dan belajar ke sejumlah <em>tattoo artist<\/em> yang lebih dulu terkenal di Jawa dan Bali.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nBaginya, salah jika menganggap orang yang bertato dengan pandangan negatif. Sebab tak semua pria bertato itu punya sifat yang jahat.<\/p>\n<p>\u201cJustru yang saat ini menjadi penjahat dan berurusan dengan hukum, malah orang yang berpenampilan baik atau lebih ngetren dengan sebutan penjahat berdasi. Lihat saja koruptor, mana ada yang bertato seperti ini,\u201d selorohnya sembari tawa lepas.<\/p><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nSenada, Suganda Saputra, dedengkot seni tato di Balikpapan, acara ini adalah perayaan ketiga tahun berdirinya Balikpapan Tattoo Lovers yang jatuh tepat 10 Juni. Dari total 28 <em>tattoo artist<\/em> yang meramaikan acara ini, semuanya berasal dari Kaltim.<\/p>\n<p>\u201cSayang persiapannya terlalu mepet. Jadi teman-teman dari luar Kaltim tidak bisa ambil bagian. Tapi malah lebih ramai acara tahun ini dibanding tahun lalu yang diikuti <em>tattoo artist<\/em> dari Jawa,\u201d jelas pria berambut gondrong ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nWanda &#8211;panggilan Suganda Saputra menjelaskan, tarif pemasangan tato mulai Rp 300 ribu hingga jutaan rupiah. Angkanya tergantung rumit dan besar-kecil gambar tato. \u201cKalau per bulan bisa cukup lah untuk biayai hidup dari pekerjaan ini,\u201d katanya, yang enggan menyebut detail pendapatan per bulan dari usaha tato.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nLebih lanjut Wanda membeberkan, tato di kawula muda trennya meningkat. Termasuk makin banyaknya studio tato di Balikpapan. \u201cTahun ini juga berbeda, karena ada <em>hand tapping<\/em>, yang merupakan seni tato tradisional,\u201d paparnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nRencana ke depan, ia dan rekan-rekan sesama <em>tattoo artist<\/em> akan membuat <em>tattoo exhibition<\/em> dalam skala nasional. [] RedFj\/KP<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SALAH seorang tattoo artist yang ambil bagian dalam 3th Anniversary Balikpapan Tattoo Lovers (BTL) di Sport Center Balikpapan Baru, akhir pekan lalu adalah Rondy. Pemilik Round Die Studio di Jalan Anggur, Samarinda ini, mengawali pekerjaannya itu sejak SMA. \u201cTahun \u201990-an pertama kali saya membuat tato di tubuh sendiri. Dari kumpul bersama kawan, kami saling membuat &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3082,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[467,6,26],"tags":[],"class_list":["post-3081","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-balikpapan","category-berita-lain","category-kalimantan-timur-kaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3081","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3081"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3081\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23694,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3081\/revisions\/23694"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3081"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3081"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3081"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}