{"id":3245,"date":"2014-06-19T14:53:34","date_gmt":"2014-06-19T06:53:34","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.co.id\/?p=3245"},"modified":"2022-10-18T01:32:35","modified_gmt":"2022-10-17T17:32:35","slug":"bandar-ss-dituntut-mati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/bandar-ss-dituntut-mati\/","title":{"rendered":"Bandar SS Dituntut Mati"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify\">Kejaksaan Negeri (Kejari) Balikpapan semakin garang menghadapi kasus narkoba. Korps Adhyaksa kini tak ragu lagi memberikan tuntutan hukuman berat, bahkan pidana mati.<\/div>\n<p><!--more--><\/p>\n<div style=\"text-align: justify\">\nDalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Balikpapan, kemarin, bandar internasional Amiruddin alias Amir Aco (38) dituntut hukuman mati. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Noviana Hermawati dan Aditia Eka Saputra mendakwa Aco dengan pasal 132 ayat 1 junto pasal 114 ayat 2 dan pasal 112 ayat 2 Undang-Undang (UU) Narkotika. Tuntutan tersebut tertuang dalam surat PNM\/221\/08\/2013.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nTuntutan itu buntut dari kepemilikan sabu-sabu 1,008 kilogram. Aco ditangkap Juni 2012 lalu, di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB Balikpapan di kamar Blok C-1. Dia berperan sebagai bos besar yang menyuruh Aspiyani Tendean (25) dan Dwi Sri Rahayu (25) untuk menerima paket kiriman sabu-sabu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nKeduanya akhirnya divonis 18 tahun penjara. Bahkan saat dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Balikpapan, Aco juga ditangkap karena mengendalikan peredaran narkoba.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nMendengar tuntutan JPU, raut muka Aco tak bisa menyembunyikan kekecewaan. \u201cDia meminta waktu dua minggu untuk menyiapkan pembelaan,\u201d kata Novi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nMengenakan baju putih celana hitam, sidang yang dipimpin I Wayan Wirjana dengan hakim anggota John Tony dan Makmurin, Aco menolak didamping pengacara. \u201cKami sudah menawarkan pengacara, tapi dia menolak,\u201d ujar Novi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nSidang Aco sendiri berbeda dengan biasanya. Dia didatangkan dengan pengawalan khusus dari Lapas Balikpapan. Bahkan sidang juga dilakukan lebih awal.<\/p>\n<p>\u201cInformasinya dia sudah berulah di Lapas. Dibawa sendiri agar lebih mudah mantaunya,\u201d terangnya, tanpa merinci ulah apa yang dilakukan pria kelahiran 23 November 1974 itu.<\/p><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nIni merupakan kali kedua dalam sebulan, Kejari Balikpapan memberikan tuntutan mati kepada terdakwa kasus narkoba. Sebelumnya, Nguyen Van No (43), warga negara Vietnam juga terancam pidana mati karena membawa sabu-sabu 4 kilogram.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nSetelah persidangan, Aco sempat menarik perhatian dengan perkataannya. Sedikit berteriak, dia mengatakan meminta kembali uang Rp 100 juta yang sudah diberikan kepada JPU.\u00a0 Pengakuan Aco ini sempat membuat heboh dan menjadi pembicaraan di PN Balikpapan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nSaat dikonfirmasi, Novi membantah perkataan Aco. \u201cTidak benar itu. Saya tidak pernah menerima uang dari dia (Aco),\u201d kata Novi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\nTidak hanya itu, Aco juga sempat beradu mulut dengan awak media. Dia terlihat kesal saat wartawan hendak memotretnya. [] RedFj\/KP<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kejaksaan Negeri (Kejari) Balikpapan semakin garang menghadapi kasus narkoba. Korps Adhyaksa kini tak ragu lagi memberikan tuntutan hukuman berat, bahkan pidana mati.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3246,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[467,19,26],"tags":[],"class_list":["post-3245","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-balikpapan","category-hotnews","category-kalimantan-timur-kaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3245","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3245"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3245\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23810,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3245\/revisions\/23810"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3245"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3245"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3245"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}