{"id":38470,"date":"2023-11-14T23:55:18","date_gmt":"2023-11-14T15:55:18","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=38470"},"modified":"2023-11-20T01:32:36","modified_gmt":"2023-11-19T17:32:36","slug":"pencegahan-dan-penanganan-stunting-harus-seiring","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/pencegahan-dan-penanganan-stunting-harus-seiring\/","title":{"rendered":"Pencegahan dan Penanganan Stunting Harus Seiring"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>PARLEMENTARIA SAMARINDA<\/strong> &#8211; Anak di usia 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah usia rentan, periode awal pertumbuhan organ vital. Tidak tepat dalam penanganan menyebabkan anak jadi <em>stunting <\/em>atau pendek, berisiko menghambat perkembangan otak anak di usia selanjutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kondisi anak <em>stunting<\/em> di Kota Samarinda cukup tinggi, sebagaimana diungkapkan\u00a0Sekretaris Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda Deni Hakim Anwar, angkanya mencapai 25,3 persen. Menurut dia, bukan saja penanganan terhadap <em>stunting<\/em> yang perlu difokuskan, tetapi juga diperlukan upaya pencegahan agar tidak ada lagi kasus <em>stunting<\/em> baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menargetkan angka <em>stunting<\/em> turun jadi 20 persen di tahun 2023 ini, dan di tahun 2024, ditarget turun jadi 11 persen. Agar target tersebut terwujud, Deni Hakim Anwar mengingatkan kepada Pemkot Samarinda untuk memprogramkan penanganan dan pencegahan <em>stunting<\/em> secara bersamaan, yang <em>stunting<\/em> dipulihkan kondisinya, yang normal dicegah agar tak jadi <em>stunting<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDua hal ini harus berjalan seiring dan tidak terpisah. Langkah pencegahan pun harus dilakukan sejak dini,\u201d kata Deni, sapaan akrab anggota legislatif dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) saat diwawancara awak media di Kantor DPRD Samarinda, Jalan Basuki Rahmat, Selasa (14\/11\/2023).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Deni juga mengapresiasi upaya Pemkot Samarinda dalam menangani kasus <em>stunting<\/em>, terutama dalam sinergi yang telah dibangun untuk mewujudkan target penurunan angka <em>stunting<\/em>. Ia meminta agar sinergi tersebut terus ditingkatkan, terutama kepada lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, dan Kementerian Agama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sinergi tersebut, kata dia, dilakukan dalam rangka memberikan penguatan terhadap kader kesehatan di lapangan, serta pendampingan bagi calon pengantin, ibu hamil, dan bagi ibu dengan bayi di bawah dua tahun.\u00a0\u201cSemua tahapan harus dijaga secara maksimal, terutama di masa seribu hari pertama kehidupan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Deni juga menyoroti kendala yang dihadapi dalam penanganan <em>stunting<\/em>. Salah satunya adalah anggaran kecil untuk para kader pendamping di lapangan.\u00a0\u201cMasih banyak kader yang bekerja dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Ini harus menjadi perhatian, Pemkot harus memberikan perhatian khusus kepada para kader pendamping,\u201d kata Deni Hakim Anwar. []\n<p>Penulis: Selamet | Penyunting: Hadi Purnomo<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PARLEMENTARIA SAMARINDA &#8211; Anak di usia 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah usia rentan, periode awal pertumbuhan organ vital. Tidak tepat dalam penanganan menyebabkan anak jadi stunting atau pendek, berisiko menghambat perkembangan otak anak di usia selanjutnya. Kondisi anak stunting di Kota Samarinda cukup tinggi, sebagaimana diungkapkan\u00a0Sekretaris Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":21,"featured_media":37037,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,6585,26,37],"tags":[6996,6995,6997,6313,6493],"class_list":["post-38470","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-dprd-kota-samarinda","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda","tag-calon-pengantin","tag-ibu-hamil","tag-penanganan-stunting","tag-pencegahan-stunting","tag-stunting"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38470","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/21"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38470"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38470\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":38499,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38470\/revisions\/38499"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/37037"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38470"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38470"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38470"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}