{"id":4082,"date":"2014-06-30T22:37:48","date_gmt":"2014-06-30T14:37:48","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.co.id\/?p=4082"},"modified":"2022-10-18T19:49:43","modified_gmt":"2022-10-18T11:49:43","slug":"wawali-sarankan-satpol-pp-bentuk-tim-khusus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wawali-sarankan-satpol-pp-bentuk-tim-khusus\/","title":{"rendered":"Wawali Sarankan Satpol PP Bentuk Tim Khusus"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify\">Bulan Ramadan biasanya menjadi surga bagi para pengemis dan anak jalanan untuk mengadu nasib di Kota Samarinda. Tak heran, selama Puasa biasanya mereka kerap terlihat mangkal di tempat perbelanjaan, masjid dan persimpangan jalan lampu merah guna meraup imbalan belas kasih dari warga. Melihat fenomena tadi, Wakil Wali Kota Samarinda H Nusyirwan Ismail meminta kepada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk segera melakukan penertiban kepada anjal dan pengemis tadi secara terus menerus dan setiap hari. Caranya jelas dia dengan melakukan patroli.<\/div>\n<p><!--more--><\/p>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\u201dKalau ditemukan langsung angkut karena nantinya mereka akan kita bina melalui kerja sama Dinas Sosial Kota maupun Provinsi Kaltim,\u201d kata Wawali. Bahkan kata Nusyirwan, rumah singgah yang ada sekarang bisa dimanfaatkan sebagai wadah untuk melakukan pembinaan kepada mereka tentunya dengan melibatkan kerja sama melalui pondok pesantren yang ada di Samarinda.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\u201dBagaimana kalau dananya tidak ada untuk membina mereka di Dinas Sosial, maka kita bisa memanfaatkan dana infaq warga yang diambil dari Badan Amil Zakat kota Samarinda, nanti saya yang akan menkoordinasikannya,\u201d ungkap Wawali.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Intinya persimpangan maupun perempatan jalan harus tertib dari anjal maupun pengemis sehingga suasana Ramadan menjadi indah. Bahkan dirinya mengusulkan kepada Satpol PP\u00a0bila perlu untuk membentuk regu khusus anjal atau pengemis sehingga kinerja dari aparat tadi bisa fokus konsisten dan berhasil, bukan hanya kerja sesaat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\u201dSebenarnya semua tujuan kita ini lebih kepada memanusiakan mereka. Jangan biarkan \u00a0terlantar tanpa ada pembinaan di jalanan dengan masa depan yang tak jelas. Karena pemerintah juga berupaya mereka harus bersekolah,\u201d urai Wawali.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Kendati keberadaan anjal dan pengemis tadi ada yang mengkoordinir. Untuk itu tugas dari Satpol PP agar memutus mata rantai koordinator. \u201dBila perlu lakukan proses hukum apabila koordinator anjal ikut terangkut saat melakukan penertiban,\u201d pinta Wawali.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Pemerintah tambah dia juga mengimbau kepada masyarakat maupun pengguna jalan agar tidak memberi imbalan dalam bentuk apapun kepada mereka.\u201d Apalagi makanan berbuka karena mereka ini tidak puasa sehingga sisa kotak makanan sering terhambur di taman kota,\u201d pesannya. Kalau ingin memberikan donasi ataupun sedekah sebaiknya warga Samarinda bisa menyalurkan melalui Bazda maupun lembaga lainnya yang dananya dikelola untuk mendidik mereka. [] RedFj\/KP<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bulan Ramadan biasanya menjadi surga bagi para pengemis dan anak jalanan untuk mengadu nasib di Kota Samarinda. Tak heran, selama Puasa biasanya mereka kerap terlihat mangkal di tempat perbelanjaan, masjid dan persimpangan jalan lampu merah guna meraup imbalan belas kasih dari warga. Melihat fenomena tadi, Wakil Wali Kota Samarinda H Nusyirwan Ismail meminta kepada Satuan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4083,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,37],"tags":[],"class_list":["post-4082","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4082","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4082"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4082\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24178,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4082\/revisions\/24178"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4082"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4082"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4082"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}