{"id":43944,"date":"2023-12-27T08:00:55","date_gmt":"2023-12-27T00:00:55","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=43944"},"modified":"2023-12-30T12:44:32","modified_gmt":"2023-12-30T04:44:32","slug":"pemprov-kaltim-terpilih-sebagai-penerima-fcpf-cf-atas-deklarasikan-kaltim-green","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/pemprov-kaltim-terpilih-sebagai-penerima-fcpf-cf-atas-deklarasikan-kaltim-green\/","title":{"rendered":"Pemprov Kaltim Terpilih Sebagai Penerima FCPF-CF Atas Deklarasikan Kaltim Green"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>ADVERTORIAL &#8211;<\/strong> Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov. Kaltim) menjadi satu-satunya Prov. di Pulau Kaltim yang terpilih sebagai penerima program Forest Carbon Partnership Facility &#8211; Carbon Fund (FCPF-CF) tahun 2023, berkat komitmennya meningkatkan pembangunan hijau.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Program ini merupakan program penurunan emisi berbasis Reducing Emission from Deforestation and forest Degradation (REDD+)\u00a0 dengan status Result Based Payment, yang memberikan insentif kepada pemerintah daerah (Pemda) dan masyarakat yang berhasil mengurangi emisi karbon dari sektor kehutanan dan perubahan penggunaan lahan,&#8221; kata Kepala Bidang Insiden Keselamatan Pasien (IKP) dan Kehumasan \u00a0Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Irene Yuriantini, pada konferensi pers yang digelar di Hotel Fugo Samarinda, Rabu (27\/12\/2023).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menyebutkan, REDD+ adalah upaya dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memberikan insentif kepada negara berkembang yang mampu mengurangi emisi gas rumah kaca yang berasal dari deforestasi dan degradasi hutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Program FCPF-CF katanya merupakan bentuk pengakuan dan apresiasi dari dunia internasional terhadap komitmen Kaltim dalam menerapkan program pembangunan hijau yang berdampak positif terhadap tata kelola lahan dan pemanfaatan sumber daya alam (SDA).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sejak 2010, Pemprov Kaltim telah mendeklarasikan Kaltim Green sebagai visi pembangunan yang berwawasan lingkungan,&#8221; ujar Irene.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menjelaskan, Pemprov Kaltim juga telah melaksanakan berbagai kegiatan dan inisiatif yang mendukung program FCPF-CF, seperti moratorium izin baru untuk perkebunan kelapa sawit, peningkatan kualitas dan kuantitas hutan lindung dan konservasi, serta pemberdayaan masyarakat dan desa dalam pengelolaan lahan secara berkelanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Melalui konferensi pers ini diharapkan, informasi mengenai prestasi luar biasa Kaltim dalam pembangunan hijau dapat disebarkan lebih luas kepada masyarakat,&#8221; ucapnya.<\/p>\n<p>Selain itu juga ia berharap dukungan dan komitmen dari semua pihak dalam pembangunan hijau yang berkelanjutan di masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara, perwakilan dari Dewan Daerah Perubahan Iklim (DDPI) Kaltim Wahyudi menekankan program FCPF-CF ini merupakan hasil dari kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, NGO, dan mitra lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia mengapresiasi peran dan kontribusi dari semua pihak yang terlibat dalam program ini, baik dalam hal kajian, perencanaan, pelaksanaan, maupun pemantauan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wahyudi berharap program FCPF-CF ini dapat memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat Kaltim, khususnya yang tinggal di daerah-daerah prioritas program ini, yaitu Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kutai Kartanegara (Kukar), Berau, dan Mahakam Ulu (Mahulu).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kami juga berharap program ini dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi provinsi-provinsi lain di Indonesia dalam upaya mengurangi emisi karbon dan menjaga kelestarian lingkungan,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Bagian SDA Biro Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Prov. Kaltim Muhammad Arnains menjelaskan program FCPF-CF ini memiliki target untuk mengurangi emisi karbon sebesar 10,6 juta ton CO2e selama periode 2016-2024.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Program ini juga memiliki mekanisme penyaluran insentif RBF FCPF CF untuk pemerintah desa dan kelompok masyarakat terkait, yang berdasarkan pada kinerja pengurangan emisi yang dicapai,&#8221; ucap Arnains.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun program ini masih menghadapi beberapa tantangan, seperti verifikasi independen, peraturan perundang-undangan, dan koordinasi antar lembaga, pihaknya tetap optimis bahwa program ini dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kami juga terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk memastikan bahwa program ini dapat memberikan dampak yang positif bagi pembangunan hijau di Kaltim,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diketahui bahwa konferensi pers tersebut menghadirkan narasumber dari Biro Perekonomian Setda Provinsi Kaltim, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Prov. Kaltim, serta Dewan Daerah Perubahan Iklim (DDPI) Prov. Kaltim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka memaparkan tentang proses, capaian, dan tantangan yang dihadapi dalam implementasi program FCPF-CF di Kaltim. (ADV\/AZIS\/DISKOMINFO.KALTIM)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ADVERTORIAL &#8211; Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov. Kaltim) menjadi satu-satunya Prov. di Pulau Kaltim yang terpilih sebagai penerima program Forest Carbon Partnership Facility &#8211; Carbon Fund (FCPF-CF) tahun 2023, berkat komitmennya meningkatkan pembangunan hijau. &#8220;Program ini merupakan program penurunan emisi berbasis Reducing Emission from Deforestation and forest Degradation (REDD+)\u00a0 dengan status Result Based Payment, yang &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":43945,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2,6873],"tags":[7346],"class_list":["post-43944","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-advertorial","category-dinas-komunikasi-dan-informatika-kaltim","tag-fcpf-cf"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43944","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43944"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43944\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":43946,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43944\/revisions\/43946"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/43945"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43944"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43944"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43944"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}