{"id":49780,"date":"2024-03-05T09:05:43","date_gmt":"2024-03-05T01:05:43","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=49780"},"modified":"2024-03-05T15:12:46","modified_gmt":"2024-03-05T07:12:46","slug":"kaki-bocah-9-tahun-di-buton-putus-akibat-ditebas-odgj","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kaki-bocah-9-tahun-di-buton-putus-akibat-ditebas-odgj\/","title":{"rendered":"Kaki Bocah 9 Tahun di Buton, Putus Akibat Ditebas ODGJ"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>BUTON &#8211; <\/strong>Viral video seorang bocah kakinya putus di tebas orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Buton, Sulawesi Tenggara( Sultra), Sabtu, (02\/03\/2024). Dalam video itu, tampak bocah berbaju kuning berbaring di tanah. Bocah berumur 9 tahun itu merintih kesakitan akibat kakinya ditebas ODGJ.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tangannya sesekali menggenggam erat dedaunan di sekitarnya untuk menahan rasa sakit. Bocah itu tidak menangis sama sekali meski kakinya ditebas ODGJ. &#8220;Ihh sakit sekali,&#8221; kata bocah tersebut, Minggu (03\/03\/2024). Terdengar pula suara meminta tolong dari para teman bocah tersebut. Hal itu lantas mendapat beragam komentar dari para warga net.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Diketahui, bocah tersebut bernama Riski Sumardin, berumur 9 tahun. Peristiwa ODGJ menebas kaki bocah ini terjadi di desa Wlompo, Kecamatan(Kec) Sotapina, Kabupaten (Kab.) Buton, Sultra. Akibat dari peristiwa itu kaki bocah tersebut putus sehingga harus dibawa ke rumah sakit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kami mendapat informasi kompresi, korban Riski yang mengalami luka pada kaki kirinya akibat benda tajam,&#8221; kata Kepala Polisi sektor (Kapolsek) Siotapina, Inspektur Polisi Satu (Iptu) Almuhalid di lokasi kejadian, Jumat (23\/02\/2024).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (16\/2\/2024) Lalu. Saat itu korban bersama dengan teman sebayanya sedang bermain di tepi pantai. Sementara itu, pelaku yang diduga ODGJ, inisial NS, sedang membuat gagang parang tak jauh dari para bocah tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Riski kemudian mendekatinya dan mencoba bercanda dengan NS. Merasa kesal, NS langsung menebas kaki bocah tersebut. &#8220;Akibatnya kaki Riski langsung putus atau terpotong,&#8221; katanya lagi. Ia menjelaskan, dari informasi yang diperoleh warga sekitar, pelaku NS mengalami gangguan kejiwaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Namun kami dari pihak kepolisian akan melakukan proses pemeriksaan ahli kejiwaan untuk bagaimana proses lebih lanjut,&#8221; ucap Almuhalid. Sementara itu korban Riski langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cUntuk sementara kami akan melakukan pemeriksaan saksi-saksi dan untuk pelaku ini kami akan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk pemeriksaan di rumah sakit jiwa,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Redaksi 02<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BUTON &#8211; Viral video seorang bocah kakinya putus di tebas orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Buton, Sulawesi Tenggara( Sultra), Sabtu, (02\/03\/2024). Dalam video itu, tampak bocah berbaju kuning berbaring di tanah. Bocah berumur 9 tahun itu merintih kesakitan akibat kakinya ditebas ODGJ. Tangannya sesekali menggenggam erat dedaunan di sekitarnya untuk menahan rasa sakit. Bocah &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":29,"featured_media":49787,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[6],"tags":[1124,8012,7535,7772],"class_list":["post-49780","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-berita-lain","tag-bocah","tag-buton","tag-odgj","tag-sultra"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49780","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/29"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=49780"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49780\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":49788,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49780\/revisions\/49788"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/49787"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=49780"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=49780"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=49780"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}