{"id":70173,"date":"2024-09-20T10:37:06","date_gmt":"2024-09-20T02:37:06","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=70173"},"modified":"2024-09-20T10:37:06","modified_gmt":"2024-09-20T02:37:06","slug":"pesawat-qantas-terpaksa-mendarat-darurat-setelah-kehilangan-tekanan-udara-di-ketinggian-30-000-kaki","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/pesawat-qantas-terpaksa-mendarat-darurat-setelah-kehilangan-tekanan-udara-di-ketinggian-30-000-kaki\/","title":{"rendered":"Pesawat Qantas Terpaksa Mendarat Darurat Setelah Kehilangan Tekanan Udara di Ketinggian 30.000 Kaki"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>AUSTRALIA &#8211;<\/strong> Pesawat maskapai Qantas dengan nomor penerbangan QF 1871 terpaksa melakukan pendaratan darurat setelah terjun bebas hingga 21.000 kaki atau 6.000 meter dalam 6 menit saat dalam penerbangan. QF 1871 sedang dalam perjalanan dari Brisbane ke Townsville pada Selasa (16\/9).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pesawat mulanya terbang dalam ketinggian lebih dari 30.000 kaki atau 9.144 meter. Lalu tiba-tiba, pesawat turun lebih dari 20.000 kaki atau 6.000 meter dalam beberapa menit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pilot kemudian mendesak pendaratan darurat di bandara terdekat. Permintan ini dengan cepat dikabulkan dan pesawat mendarat di Rockhampton pukul 07.15 waktu setempat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sekadar memberi tahu Anda, saat melewati ketinggian sekitar 29.000 kaki, kami kehilangan tekanan,&#8221; kata pilot tersebut di dalam kabin, dikutip 9 News.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam pernyataan resmi, Qantas mengaku pesawat sempat mengalami masalah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Penerbangan kami dari Brisbane ke Townsville dialihkan dengan selamat ke Rockhampton pada Selasa pagi setelah terjadi masalah penurunan tekanan,&#8221; kata juru bicara Qantas, dikutip Sky News Australia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jubir itu juga mengatakan penumpang ke Brisbane dialihkan menggunakan penerbangan alternatif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, Qantas mengakui insiden tersebut merupakan pengalaman yang meresahkan penumpang. Meski demikian, para penumpang dalam kondisi aman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Qantas juga menyatakan telah meluncurkan investigasi untuk memahami penyebab insiden tersebut<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebocoran tekanan pada pesawat bisa menimbulkan risiko kesehatan bagi penumpang karena kekurangan oksigen. Sementara itu, penurunan tekanan secara tiba-tiba juga menjadi ancaman dan membahayakan integritas struktur pesawat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penurunan cepat sebelum pendaratan merupakan praktik standar bagi pilot. Dia akan membawa pesawat ke ketinggian 10.000 kaki jika terjadi penurunan tekanan. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi08<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>AUSTRALIA &#8211; Pesawat maskapai Qantas dengan nomor penerbangan QF 1871 terpaksa melakukan pendaratan darurat setelah terjun bebas hingga 21.000 kaki atau 6.000 meter dalam 6 menit saat dalam penerbangan. QF 1871 sedang dalam perjalanan dari Brisbane ke Townsville pada Selasa (16\/9). Pesawat mulanya terbang dalam ketinggian lebih dari 30.000 kaki atau 9.144 meter. Lalu tiba-tiba, &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":70177,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2254],"tags":[],"class_list":["post-70173","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-berita-internasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/70173","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=70173"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/70173\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":70178,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/70173\/revisions\/70178"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/70177"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=70173"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=70173"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=70173"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}