{"id":87235,"date":"2025-02-24T14:55:15","date_gmt":"2025-02-24T06:55:15","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=87235"},"modified":"2025-02-26T14:58:33","modified_gmt":"2025-02-26T06:58:33","slug":"program-p2l-di-akpol-semarang-langkah-nyata-menuju-kemandirian-pangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/program-p2l-di-akpol-semarang-langkah-nyata-menuju-kemandirian-pangan\/","title":{"rendered":"Program P2L di Akpol Semarang: Langkah Nyata Menuju Kemandirian Pangan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>JAKARTA &#8211; <\/strong>Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang diluncurkan oleh Polri dan Bhayangkari di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Senin (24\/02\/2025), diharapkan dapat menjadi percontohan bagi ketahanan pangan di Indonesia. Program ini bertujuan untuk memanfaatkan pekarangan secara maksimal guna mendukung ketahanan pangan nasional serta mendukung program makan bergizi gratis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua Umum Bhayangkari, Ny. Juliati Sigit Prabowo, menjelaskan bahwa P2L tidak hanya akan menjadi program di Akpol, tetapi diharapkan dapat diterapkan di seluruh jajaran Polri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBhayangkari bersama Polri memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan dengan memanfaatkan pekarangan rumah, asrama, kantor polisi, hingga sekolah-sekolah di bawah Yayasan Kemala Bhayangkari. P2L adalah langkah konkret kami dalam meningkatkan kemandirian pangan,\u201d ujar Juliati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akpol Semarang menjadi model penerapan P2L dengan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Program ini mencakup seluruh tahapan, mulai dari produksi hingga pengelolaan limbah. Berbagai fasilitas juga sudah disiapkan, seperti Kolam Nila, Taman Hidroponik, serta Edu Wisata Ketahanan Pangan yang ada di beberapa lokasi asrama Akpol. Dengan demikian, Akpol diharapkan bisa menjadi contoh bagi institusi lainnya dalam mengelola ketahanan pangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Juliati juga berharap P2L dapat diterapkan di seluruh jajaran kepolisian Indonesia, dari Polda hingga Polsek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya berharap P2L bisa diterapkan di seluruh Polda, SPN, lembaga pendidikan Polri, serta Polres dan Polsek sebagai bentuk nyata komitmen Bhayangkari dan Polri dalam mendukung ketahanan pangan nasional,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, pada acara tersebut, juga dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Akpol yang akan menyuplai makanan bergizi bagi 3.000 siswa per hari, termasuk anak-anak di TK dan SD Kemala Bhayangkari 04 Akpol. Gubernur Akpol Irjen Pol Krisno Halomoan Siregar menjelaskan bahwa hasil panen dari program P2L akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan warga asrama, disalurkan melalui Koperasi Akpol, dan dipasok ke dapur Program Makan Bergizi Gratis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDengan semangat kebersamaan dan sinergi berbagai pihak, kami berharap P2L dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam upaya mencapai kemandirian pangan bagi masyarakat,\u201d tandas Gubernur Akpol. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang diluncurkan oleh Polri dan Bhayangkari di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Senin (24\/02\/2025), diharapkan dapat menjadi percontohan bagi ketahanan pangan di Indonesia. Program ini bertujuan untuk memanfaatkan pekarangan secara maksimal guna mendukung ketahanan pangan nasional serta mendukung program makan bergizi gratis. Ketua Umum Bhayangkari, Ny. Juliati Sigit Prabowo, &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":51,"featured_media":87237,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-87235","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-serba-serbi"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87235","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/51"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=87235"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87235\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":87238,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/87235\/revisions\/87238"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/87237"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=87235"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=87235"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=87235"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}