{"id":94287,"date":"2025-04-12T16:21:12","date_gmt":"2025-04-12T08:21:12","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=94287"},"modified":"2025-04-12T16:21:12","modified_gmt":"2025-04-12T08:21:12","slug":"ambil-bola-di-tepi-kanal-bocah-kutim-diterkam-buaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/ambil-bola-di-tepi-kanal-bocah-kutim-diterkam-buaya\/","title":{"rendered":"Ambil Bola di Tepi Kanal, Bocah Kutim Diterkam Buaya"},"content":{"rendered":"<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"412\" data-end=\"742\"><strong data-start=\"412\" data-end=\"427\">KUTAI TIMUR<\/strong> \u2013 Peristiwa tragis menimpa seorang anak laki-laki berusia delapan tahun bernama Nur Romadhon di Desa Sepaso Selatan, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Ia tewas setelah diterkam seekor buaya sepanjang tiga meter saat hendak mengambil bola yang jatuh ke tepi kanal, Selasa (8\/4\/2025) sore.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"744\" data-end=\"1052\">Kapolsek Bengalon, AKP Mohamad Yazid, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa korban sedang bermain bersama kakaknya ketika bola yang digunakan terjatuh ke pinggir kanal rawa. \u201cBenar telah terjadi penerkaman warga oleh buaya, korban merupakan anak-anak berusia 8 tahun,\u201d ujarnya, Rabu (09\/04\/2025).<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1054\" data-end=\"1293\">Menurut keterangan kepolisian, korban sempat diperingatkan oleh kakaknya agar tidak mengambil bola yang jatuh. Namun, imbauan tersebut tidak diindahkan. Saat korban mendekati tepian kanal, buaya tiba-tiba muncul dan menerkam kaki kanannya.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1295\" data-end=\"1347\">\u201cKorban diterkam di bagian kaki kanan,\u201d jelas Yazid.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1349\" data-end=\"1566\">Kakak korban berusaha menyelamatkan adiknya dengan menarik tangannya, tetapi upaya itu gagal karena tarikan buaya sangat kuat. Sang kakak pun berteriak meminta pertolongan warga yang berada di sekitar lokasi kejadian.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1568\" data-end=\"1744\">Warga segera melakukan pencarian dan berhasil menangkap buaya yang diduga menyerang korban. Namun, setelah hewan predator itu dibelah, tubuh korban tidak ditemukan di dalamnya.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1746\" data-end=\"1876\">\u201cBuaya itu sempat ditangkap dan dibelah warga, tapi tidak ditemukan (jasadnya), hingga pencarian dilakukan kembali,\u201d tambah Yazid.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1878\" data-end=\"2100\">Setelah upaya pencarian dilanjutkan, akhirnya tubuh korban ditemukan di kanal sekitar pukul 19.22 WITA dalam kondisi tidak bernyawa. Dari hasil pemeriksaan awal, ditemukan luka gigitan pada kaki kanan dan paha kiri korban.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2102\" data-end=\"2360\">Kapolsek Bengalon mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati, terutama saat beraktivitas di sekitar kawasan rawa atau kanal yang diketahui merupakan habitat buaya. \u201cKami minta warga agar meningkatkan kewaspadaan demi menghindari kejadian serupa,\u201d tutupnya. []\n<p data-start=\"2102\" data-end=\"2360\">Redaksi03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI TIMUR \u2013 Peristiwa tragis menimpa seorang anak laki-laki berusia delapan tahun bernama Nur Romadhon di Desa Sepaso Selatan, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Ia tewas setelah diterkam seekor buaya sepanjang tiga meter saat hendak mengambil bola yang jatuh ke tepi kanal, Selasa (8\/4\/2025) sore. Kapolsek Bengalon, AKP Mohamad Yazid, membenarkan kejadian tersebut. &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":51,"featured_media":94288,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,480],"tags":[],"class_list":["post-94287","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-timur"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94287","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/51"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94287"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94287\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":94289,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94287\/revisions\/94289"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/94288"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94287"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94287"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94287"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}