{"id":96203,"date":"2025-04-22T16:02:01","date_gmt":"2025-04-22T08:02:01","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=96203"},"modified":"2025-04-22T16:02:01","modified_gmt":"2025-04-22T08:02:01","slug":"monolog-gibran-di-youtube-panen-22-ribu-dislike","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/monolog-gibran-di-youtube-panen-22-ribu-dislike\/","title":{"rendered":"Monolog Gibran di Youtube Panen 22 Ribu Dislike"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>JAKARTA<\/strong> &#8211; Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan publik setelah merilis sebuah video monolog di kanal YouTube miliknya. Dalam video berdurasi sekitar delapan menit tersebut, Gibran membahas berbagai isu, mulai dari potensi bonus demografi, prestasi Timnas Indonesia U-17, hingga apresiasinya terhadap industri animasi nasional yang ia soroti lewat kesuksesan film Jumbo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, alih-alih menuai pujian, video tersebut justru memancing gelombang kritik dari warganet. Di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), tanggapan negatif bermunculan. Banyak pengguna membagikan tangkapan layar yang menunjukkan perbandingan tajam antara jumlah \u201cdislike\u201d dan \u201clike\u201d pada video tersebut\u2014dengan angka tidak menyenangkan, yakni sekitar 22 ribu tidak menyukai dan hanya sekitar 3 ribu yang menyukai video itu, Senin (21\/04\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu sumber kekecewaan warganet muncul dari pernyataan Gibran yang menyoroti keberhasilan film animasi Jumbo. Dalam monolognya, Gibran menyebut film karya Ryan Adriandhy sebagai penanda era baru dalam industri animasi Indonesia dan menyebutnya sebagai bukti kapasitas anak muda dalam berkarya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, pernyataan itu dinilai sebagian warganet sebagai bentuk pengambilan kredit atas kesuksesan kreator yang tidak didukung oleh pemerintah. \u201c(Film) Jumbo dibikin tanpa bantuan pemerintah, sukses besar. Orang yang mengagung-agungkan AI ikut <em>riding the wave<\/em>. Karbit,\u201d tulis seorang pengguna. Sementara itu, komentar lain berbunyi, \u201cFilm Jumbo dibikin tanpa AI, dia ikutan riding the wave. Padahal dia orang nomor satu yang mengglorifikasi penggunaan AI. Bener-bener gak tahu malu.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak berhenti di situ, beberapa warganet juga mempertanyakan substansi pernyataan Gibran soal bonus demografi yang dinilai tidak jelas arah pesannya. \u201cSampai akhir enggak paham doi ngomongin bonus demografi, intinya anak muda disuruh ngapain sama doi,\u201d tulis seorang warganet lainnya. Komentar senada muncul, \u201cDia sendiri enggak faham sama script yang dibikin timnya.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ungkapan-ungkapan bernada sindiran seperti \u201cBang fufufafa, bikin teks naskah ini pakai ChatGPT apa Gemini?\u201d hingga \u201cBonus demografi: kerjaan dicariin orang tua,\u201d menjadi cerminan keresahan publik atas cara penyampaian dan isi narasi yang dinilai kurang membumi dan terkesan artifisial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hingga hari ini, video tersebut telah mengundang lebih dari 11 ribu komentar di berbagai platform media sosial, mayoritas bernada kritik. Fenomena ini menunjukkan adanya jurang ekspektasi antara publik dengan komunikasi yang dibangun oleh pejabat publik, terutama ketika menyangkut representasi dunia kreatif yang selama ini tumbuh secara organik tanpa banyak campur tangan dari birokrasi. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi03<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan publik setelah merilis sebuah video monolog di kanal YouTube miliknya. Dalam video berdurasi sekitar delapan menit tersebut, Gibran membahas berbagai isu, mulai dari potensi bonus demografi, prestasi Timnas Indonesia U-17, hingga apresiasinya terhadap industri animasi nasional yang ia soroti lewat kesuksesan film Jumbo. Namun, alih-alih &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":51,"featured_media":96213,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,19,35],"tags":[],"class_list":["post-96203","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-hotnews","category-berita-nasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96203","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/51"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=96203"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96203\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":96214,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96203\/revisions\/96214"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/96213"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=96203"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=96203"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=96203"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}