{"id":99141,"date":"2025-05-06T12:20:05","date_gmt":"2025-05-06T04:20:05","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=99141"},"modified":"2025-05-06T12:20:05","modified_gmt":"2025-05-06T04:20:05","slug":"buaya-serang-warga-dprd-kotim-minta-penangkaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/buaya-serang-warga-dprd-kotim-minta-penangkaran\/","title":{"rendered":"Buaya Serang Warga, DPRD Kotim Minta Penangkaran"},"content":{"rendered":"<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"359\"><strong>KOTAWARINGIN TIMUR<\/strong>&#8211; Ketua Komisi I DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Angga Aditya Nugraha, memberikan tanggapan mengenai serangan buaya buas yang terjadi di pesisir aliran Sungai Sampit. Tanggapan ini muncul setelah insiden seorang warga Desa Ramban, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, diterkam buaya saat berwudhu di tepi Sungai Sampit pada Sabtu malam (03\/05\/2025).<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"361\" data-end=\"523\">\u201cKami meminta Pemerintah Kotim segera berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan terkait konservasi dan penangkaran buaya,\u201d kata Angga Aditya Nugraha, Senin (05\/05\/2025).<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"525\" data-end=\"878\">Angga menilai bahwa penangkaran buaya di Kotim sangat diperlukan, mengingat serangan buaya di wilayah tersebut sudah sering terjadi. Hal ini disebabkan karena masih banyak warga yang bergantung pada Sungai Sampit sebagai mata pencaharian mereka. Angga menambahkan, jika Sungai Sampit terus dibiarkan menjadi habitat buaya, dapat menimbulkan korban jiwa.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"880\" data-end=\"1128\">Pihaknya berharap pemerintah dan dinas terkait melakukan kajian lebih lanjut tentang keberadaan buaya tersebut. \u201cPenangkaran buaya sangat penting, karena selain mengurangi serangan terhadap manusia, hal ini bisa menjadi objek wisata baru,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1130\" data-end=\"1406\">Angga juga menjelaskan bahwa buaya yang sering menyerang warga merupakan spesies dilindungi. Oleh karena itu, ia meminta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kotim untuk segera mendata populasi buaya di wilayah tersebut, agar langkah yang tepat dapat diambil ke depannya.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1408\" data-end=\"1677\">\u201cJika tidak tercipta keseimbangan antara buaya dan warga, populasi buaya harus dikendalikan,\u201d tambahnya. Angga menekankan bahwa jika populasi buaya tidak terkendali dan pasokan makanannya di Sungai Sampit berkurang, buaya bisa mengincar warga sebagai mangsa berikutnya.<\/p>\n<p class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1679\" data-end=\"2095\">Peristiwa serangan buaya ini diduga disebabkan oleh kerusakan habitat buaya untuk bertelur dan mencari makan. Untuk bertahan hidup, buaya buas tersebut terpaksa memangsa ternak milik warga pesisir sungai, bahkan manusia. \u201cKami juga mengingatkan warga, khususnya yang tinggal di bantaran Sungai Sampit, untuk lebih berhati-hati dan tidak membuang sampah di sungai, karena dapat memancing keberadaan buaya,\u201d tandasnya.[]\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1679\" data-end=\"2095\">Redaksi12<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KOTAWARINGIN TIMUR&#8211; Ketua Komisi I DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Angga Aditya Nugraha, memberikan tanggapan mengenai serangan buaya buas yang terjadi di pesisir aliran Sungai Sampit. Tanggapan ini muncul setelah insiden seorang warga Desa Ramban, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, diterkam buaya saat berwudhu di tepi Sungai Sampit pada Sabtu malam (03\/05\/2025). \u201cKami meminta Pemerintah &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":61,"featured_media":99142,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2259,2266],"tags":[],"class_list":["post-99141","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-tengah","category-kabupaten-kotawaringin-timur-provinsi-kalimantan-tengah"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99141","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/61"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=99141"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99141\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":99143,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/99141\/revisions\/99143"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/99142"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=99141"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=99141"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=99141"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}