Breaking News
Home / Hotnews / Menilik Geliat Pembangunan Mahakam Ulu

Menilik Geliat Pembangunan Mahakam Ulu

 

Desember 2012 lalu, sebuah kabupaten baru di selatan Kaltim terbentuk. Namanya Mahulu, pemekaran dari Kubar. Bagai terbangun dari sebuah keterbelakangan, Mahulu terus menggeliat. Bagaimana kondisinya sekarang?

CUMA ada satu cara yang memungkinkan untuk sampai ke pusat Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), kabupaten termuda di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) ini, yakni lewat Sungai Mahakam. Bidin (35), motoris berkulit gelap menghampiri satu per satu calon penumpang di Dermaga Tering, Kutai Barat (Kubar), yang hendak mudik ke Mahulu pukul lima sore Rabu (2/4) itu.

Hanya akses Sungai Mahakam yang paling efektif untuk dilalui menuju pusat Kabupaten Mahakam Ulu. Foto: KP

Hanya akses Sungai Mahakam yang paling efektif untuk dilalui menuju pusat Kabupaten Mahakam Ulu. Foto: KP

Dia harus berhasil merayu satu per satu penumpang agar sudi berangkat sore itu. Sebab, dia mesti tetap dapat keuntungan dari speedboat sepanjang 3,5 meter berkapasitas 20 orang ini. Setiap penumpang dikenai tarif Rp 300 ribu untuk sampai ke Ujoh Bilang, ibu kota Mahulu. Tapi, karena penumpang tak sampai 20 orang, nego pun terjadi. Bahkan kami sempat ditawari harga lebih mahal, yakni Rp 500 ribu per orang.

Jika ingin sampai di Mahulu, hanya ada waktu antara pukul 7 pagi hingga 5 sore. Kesempatan 10 jam itu bisa digunakan untuk hilir mudik yang aman. Memang pada jam itu saja speedboat bisa beroperasi, sisanya hanya dalam keadaan darurat pada malam hari. Atau, ada yang mencarter. Tapi, risikonya, jika berangkat sore, akan dapat harga lebih mahal karena penumpang kurang, dan sampai lebih lama karena melintasi malam di sepanjang sungai.

Awalnya keberangkatan ditunda esok pagi, karena kuota tak mencukupi dan tidak cukup untuk membeli bahan bakar. Setiap speedboat minimal berangkat dengan persediaan membawa modal 3,5 juta. Ini untuk mengisi kurang lebih satu drum bensin. Barang yang sudah dinaikkan ke atap speedboat dan kabin, bukan jaminan akan berangkat. Jika tidak cukup kuota, barang penumpang dinaikkan lagi ke dermaga.

Thomas Igang, seorang inspektur –sekelas kepala dinas–  di Inspektorat Mahulu bersama empat rekannya, harus mengangkat kembali sepeda motor matik dari speedboat, karena keberangkatan ditunda. Padahal, besok paginya mereka harus menjalankan aktivitas pemerintahan.“Ya, Mas, kalau mudik sore seperti ini untung-untungan. Kalau ada motoris yang berangkat, ya, untung. Kalau mereka tak cukup beli BBM, ya, tunda besok pagi,” ujarnya.

Angin segar datang ketika dua penumpang tiba di dermaga. Walau tujuan mereka hanya sampai di Kampung Mamahak Besar, tak sejauh yang lain, motoris memutuskan berangkat. Lagi-lagi puluhan tas dan sepeda motor dinaikkan lagi ke speedboat, dan pukul 17.30 berangkat menuju Mahulu. Sedikit tidak nyaman, karena ruang speedboat yang tak lebar itu, diisi sepeda motor, barang bawaan, dan manusia. Kami melintasi Mahakam yang penuh batang pohon, dengan kecepatan 80 kilometer per jam pada malam hari.

Meski mata terhibur dengan pemandangan alam sekitar, suasana tiba-tiba berubah senyap ketika matahari terbenam. Deru mesin speedboat Yamaha 200pk seakan jadi musik pengantar perjalanan. Tak lama, Bidin menghentikan kapalnya karena mulai gelap. Dia mengeluarkan kepala dari atap speedboat dengan bantuan kotak speaker yang membuat tubuhnya lebih tinggi di kursi. Ini supaya pandangan mudah menghindari batang. Ya, musuh utama motoris di Mahakam memang hanya batang. Tak sedikit speedboat terjungkal dan terbang karena tersandung batang pohon yang larut di sepanjang sungai.

Hari semakin gelap. Kiri dan kanan tepian tak lagi terlihat. Lagi-lagi motoris menghentikan speedboat, ternyata lampu penerangan bermasalah. Hampir setengah jalan, rombongan kami, bersandar di batang besar rumah penduduk untuk memperbaiki lampu.

Arus malam itu cukup deras, kuning pekat seperti lumpur. Gelombang kecil karena badan speedboat dihempas angin kecepatan tinggi, seperti berkendara di jalanan berbatu –terguncang namun tenang.  Angin dingin mulai menusuk, sementara langit dihiasi kilat menyambar. Malam itu hujan, namun motoris tetap memutuskan lanjut.

Tampaknya medan terlalu berat. Kecepatan speedboat mulai berkurang, hanya sekitar 40-60 kilometer per jam. Itu pun dengan kondisi sesekali speedboat menikung tiba-tiba menghindari batang. Sekali waktu terbentur keras dan gas kendur, atau masuk di buritan karena terhempas ombak dari kapal besar dan terombang-ambing sambil menunggu tenang, kemudian lanjut lagi. Itu ditambah suasana gelap gulita di dalam speedboat yang minim penerangan.

Namun ketegangan mereda ketika speedboat berhenti di lima kecamatan sepanjang Mahulu, karena ada penumpang yang turun.

Untuk sampai ke Mahulu, butuh waktu tiga jam jika siang hari. Namun, pada malam hari, sampai lima jam. Kabupaten termuda di Benua Etam ini meliputi lima kecamatan, yakni Laham, Long Hubung, Long Bagun, Long Pahangai, dan Long Apari. Menaungi 50 kampung di sepanjang aliran Mahakam.

PRIORITAS UTAMA

Untuk sampai ke Mahulu sebenarnya ada jalur lain, yakni melalui udara. Jika dari Sendawar, terbang dari Bandara Melalan dan mendarat di Datah Dawai. Namun, karena akses darat ke sana belum memadai, tetap saja harus melewati jalur sungai di kawasan Long Pahangai sampai Long Bagun. Selain itu, jalur ini lebih berbahaya, karena mesti melewati riam besar, dan hanya menggunakan speedboat bermesin dua yang bisa melewati kawasan ini.

Pusat pemerintahan Mahulu perlahan dan terus menggeliat. Foto: KP

Pusat pemerintahan Mahulu perlahan dan terus menggeliat. Foto: KP

Maka jalur sungai antara Tering ke Ujoh Bilang lah yang menjadi jalur vital yang menghubungkan Mahulu-Kutai Bararat. Bupati saja lebih memilih lewat sungai daripada udara, karena lebih singkat. Setelah disahkan DPR RI pada 14 Desember 2012 lalu, denyut nadi bisnis transportasi air di Mahulu mulai menggeliat.

Berkat menjembatani 28 ribu jiwa di Mahulu, sebagian besar warga yang berbisnis speedboat kecipratan rezeki lebih. Untuk “jalur padat” pagi hingga siang hari, motoris bisa mengantongi sekitar Rp 5 juta untuk 20 penumpang per sekali berangkat.

Jika menempuh jalan darat dari Kubar, bisa memakan waktu tiga jam melintasi jalur perusahaan. Sayang, jika hujan, hanya mobil bergardan ganda yang bisa lewat. Itu pun hanya sampai di Kecamatan Long Hubung. Untuk menyeberang ke Kecamatan Laham, dipisahkan Sungai Ratah yang cukup lebar.

Karena itu dalam perencanaan Kota Mahulu, jembatan di Long Hubung menjadi prioritas. Jika sudah terhubung, diyakini perekonomian daerah ini semakin berkembang.

Selama ini, jalur Sungai Mahakam menjadi “jalan raya” utama. Baik untuk lalu lintas bahan makanan/sembako, pengantaran orang, semua bergantung kondisi air sungai.

Jika surut, kapal besar tak bisa melintas. Warga dengan semangat bercampur lesu bercerita betapa mahalnya harga kebutuhan ketika kemarau.

Bahkan gas elpiji 12 kg meroket hingga mencapai Rp 190 ribu, alasannya karena pedagang harus berganti-ganti kapal untuk membawa barang-barang jualannya sampai ke Mahulu.

Biasanya pedagang membawa semua barang menggunakan kapal penumpang yang berangkat dari pelabuhan Sungai Kunjang Samarinda.

Untuk sampai ke Kecamatan Long Bagun, membutuhkan waktu 2 hari. Jika air surut, kapal tak bisa lanjut dan barang harus dibawa menggunakan long boat, dan akomodasi menjadi berkali-kali lipat.

Sebenarnya, ada jalur darat dari Kubar ke Mahulu, namun hanya sampai di Kecamatan Long Hubung. Itu pun memakan waktu 3 jam melintasi jalur perusahaan kayu. Namun sayangnya jika hujan, hanya mobil bergardan ganda saja yang bisa lewat. Namun setelah sampai Long Hubung, perjalanan pun “putus” karena terpisah Sungai Ratah yang cukup lebar, untuk menyeberang ke Kecamatan Laham.

Karena itu dalam perencanaan Mahulu, jembatan di Long Hubung menjadi prioritas. Dan jembatan di kawasan Long Pahangai, jika sudah terhubung diyakini akan meningkatkan perekonomian via jalur darat. Selama ini, selama jalan darat masih putus-putus, warga di perbatasan merasa lebih murah ketika berbelanja ke kawasan Malaysia.

PUSAT AKTIVITAS

Dulunya, Ujoh Bilang merupakan kampung di Kecamatan Long Bagun ketika masih bergabung dengan Kutai Barat. Kini statusnya naik kelas menjadi pusat kabupaten karena letaknya di tengah-tengah 5 kecamatan Mahulu.

Pusat kabupaten ini berbentuk pasar, kecil dan menyatu dengan dermaga yang dilengkapi jembatan kayu. Hanya ada 2 penginapan di tempat ini, tak jauh dari dermaga.

Untuk semalam, tarif menginap Rp 150 ribu, kamarnya berukuran 2,5 x 2,5 meter persegi dilengkapi ranjang kayu kasur kapuk. Hanya ada kipas angin yang ditempel di dinding ulin yang dicat minyak warna putih. Kamar mandi terpisah, dan bergantian dengan tamu penginapan lainnya.

Tepat pukul 12 malam, listrik tiba-tiba padam, 5 menit penginapan ini gelap gulita, kemudian perlahan lampu menyala namun tak terang dan berkedip-kedip tanda listrik disuplai genset. Listrik di Ujoh Bilang masih kembang kempis, minuman dingin dari kulkas dan ingar-bingar televisi hanya bisa terdengar dari pukul 6 sore sampai 12 malam.

Ketika pagi, untuk mencari sarapan di Ujoh Bilang tak banyak pilihan. Hanya ada 3 warung. Nasi kuning, warung lalapan dan warung bakso. Harganya memang mahal untuk ukuran pinggiran. Dua porsi bakso dan air mineral, dihargai Rp 60 ribu.

Kawasan Ujoh Bilang ini tidak besar. Dengan berjalan kaki setengah jam, bisa memutari semua bagian kampung. Jarak per kecamatan dipisahkan bukit, seperti dari pusat kota ke kantor bupati sekitar 1 kilometer.

Warga di Mahulu sebagian besar berladang dan berjualan. Karena itu di sini tidak ada ojek, sebagai pendatang, yang ingin berjalan-jalan pilihannya jalan kaki atau menyewa sepeda motor warga.

Menyewa tidak sulit, warga langsung mau memberikan, harganya 100 ribu/hari. Tak ada rasa curiga dan khawatir. Pikir mereka, sejauh-jauhnya pencuri di Ujoh Bilang tak bisa lari ke mana-mana. Benar saja, media ini jauh mengendarai  sepeda motor hingga ke Long Bagun, dan ternyata si pemilik tetap bisa menemukan.

Perkembangan Ujoh Bilang sedang digenjot, kantor bupati menempati bekas kantor kecamatan Long Bagun. Bertempat di atas bukit, sekelilingnya ada kantor Radio Republik Indonesia (RRI) dan instansi lainnya. Sementara kantor dinas tersebar di kampung dengan menyewa rumah-rumah warga.

Bagi kabupaten yang mendapat dana hibah sekitar Rp 150 miliar dari Kaltim, tentu tak banyak yang bisa dilakukan di awal selain melakukan perencanaan dan penataan pusat kabupaten. Kompleks pemerintahan sedang dalam proses awal pembangunan, banyak ditemui aktivitas pengukuran tanah hibah warga ke pemerintah.

Sementara itu, untuk lowongan pekerjaan, berita dibutuhkannya banyak tenaga kerja di Mahulu ternyata berembus di seluruh pelosok negeri. Terbukti pelamar untuk instansi pemerintahan berdatangan. Pada setiap tes, diikuti ratusan lulusan yang siap untuk bekerja di Mahulu.

Pantas saja, di penginapan yang ada, selama beberapa hari tampak penuh. Ini jarang sekali terjadi. Ternyata ada banyak calon pekerja bidang kesehatan yang menginap. Mereka muda, gagah, dan cantik-cantik, mereka sedang melakukan pembekalan prakerja.

“Di sini peluangnya besar, tidak apa-apa jauh. Yang penting kami kerja dan bisa menyalurkan ilmu kami. Mau bagaimana lagi, kalau rezekinya di sini ya tidak apa-apa,” ujar Ani, salah seorang calon pegawai di Dinas Kesehatan.

Rombongan Ani tidak semua dari Kaltim. Bahkan ada dari Jogjakarta hingga Sulawesi. Mulai dari lulusan apoteker hingga ilmu kesehatan. Mereka mengaku mendengar kabar di Mahulu banyak membutuhkan tenaga kerja, dan mereka siap mengadu nasib hingga akhirnya diterima.

AKSES KOMUNIKASI

Kehadiran Telkomsel di seluruh pelosok Kaltim bak “pahlawan” bagi komunikasi warga setempat. Sejauh mata memandang, ketika ada perkampungan di sepanjang sungai ini, pasti ada tower menjulang di balik rimbunnya hutan Kaltim.

Tapi sayangnya kehadiran sinyal ini hanya bisa dinikmati sebatas telepon, meskipun ada jaringan sinyal EDGE/GPRS, warga masih kesulitan akses internet. Untuk berbalas pesan melalui BlackBerry Messenger (BBM) saja hanya bisa ketika pagi hari, sekitar pukul 5 subuh hingga 7 pagi.

Karena penduduk di Mahulu ini semua rata-rata punya HP dan banyak anak muda yang berusaha untuk mendapat sinyal internet, akhirnya jalur data yang disediakan operator habis.

“Kami tak masalah apapun operatornya, yang penting telepon dan internet mudah,” ujar Marten, pemuda yang mengaku harus keluar rumah untuk mencari sinyal. Maksudnya, secara harfiah benar-benar berkeliling mencari spot yang paling enak menerima sinyal.

Di pusat pemerintahan, menggunakan jaringan Very Small Aperture Terminal (VSAT), untuk pengiriman data dan kebutuhan internet pemerintahan kabupaten. Namun sayangnya tidak bisa mobile, jika ingin internet hanya bisa dilakukan di kantor kabupaten.

KONDISI KESEHATAN

Lanjut berbicara soal kesehatan, rupanya di Ujoh Bilang kasus demam berdarah mulai naik. Kasus demam berdarah memang sering muncul di Kampung Ujoh Bilang. Tak heran, imbauan waspada demam berdarah tersebar, ditempel di papan pengumuman dan rumah warga.

Untungnya, sarana kesehatan sudah jadi prioritas. Buktinya ada penambahan tenaga kesehatan, sehingga pengawasan penyakit demam berdarah bisa lebih baik.

Sementara untuk ketersediaan air bersih di Mahulu masih terbatas. Di penginapan di Ujoh Bilang, untuk mandi dan sikat gigi masih menggunakan air Sungai Mahakam.

DAYA TARIK WISATA

Sementara itu dari sisi wisata, sebenarnya Mahulu memiliki daya tarik tersendiri. Riam-riam menuju Long Apari, yang terlihat menantang karena arus deras dan berbatu besar seperti arena arung jeram ini, punya daya tarik natural.

Warung terapung menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong. Foto: KP

Warung terapung menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong. Foto: KP

Ada riam Haloq, riam Udang, dan riam Panjang, nama-nama berikut cukup terkenal, jika membuka YouTube banyak rekaman warga yang pernah melewati riam-riam itu sembari berwisata.

Tapi sayangnya, untuk sampai ke tempat ini tak sembarang motoris (sebutan pengemudi kapal kecil) yang bisa mengantar. Hanya beberapa yang benar-benar paham alurnya. Jika menggunakan speedboat, harus menggunakan yang bermesin ganda, ketika 1 mesin mati karena tak kuat melawan jeram, masih ada cadangan.

Ketika melintasi riam Udang juga tak semua orang berani naik kapal, sebagian memilih turun dan jalan kaki lewat pinggir tebing.

Sementara itu eksotisnya pemandangan tebing dinding raksasa dengan beberapa titik sarang burung walet sepanjang perjalanan menuju Long Apari menjadi dambaan penikmat alam yang melintas. Apalagi, ada titik yang dihiasi dengan air terjun.

“Kami kadang berkemah di sana, mancing ikan patin. Biasanya kalau berlibur bersama keluarga ke sana,” ujar Fani, siswa kelas 2 SMP yang menimba ilmu di Tering Kubar ketika bercerita di speedboat dalam perjalanan milir ke Kubar.

Tradisi yang menjadi ciri khas dalam perjalanan siang mudik, yaitu berhenti di warung-warung kayu pinggir sungai di Datah Bilang untuk istirahat makan. Tempat itu menjadi tempat wajib disinggahi speedboat untuk rehat sejenak. Di warung Tepian ini tersedia makanan prasmanan dengan menu khas ikan patin goreng/bakar, sayur pindang dilengkapi ikan asin yang digoreng kering dengan sambal tomat ulek. Dijamin membuat rindu.

Persinggahan ini seperti “pasar kaget”, karena banyak juga penjual durian, rambutan, dan langsat asli daerah ini. Ada juga penjual beras dan ketan dari hasil ladang mereka yang terkenal legit. [] RedHP/KP

5,365 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

About adminredaksi

adminredaksi

One comment

  1. Avatar

    pak bupati yth. tolong di kebut pembangunan infrastruktur di mahulu, terutama, jemabatan dan jalan darat, sarana air bersih, sarana komunkasi…masyarakat sangat membutuhkan dengan segera, kami ingin segera merasakan kemudahan dan kemurahan dalam mencari kebutuhan kami utnuk menyambung hidup….tolong pak

     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Portal Berita Borneo Powered By : PT Media Maju Bersama Bangsa