Lomba sound hajatan di Paras Perbatasan mempertemukan 22 grup atau unit sound system sekaligus membuka ruang bagi pelaku audio lokal untuk mengembangkan kreativitas dan potensi ekonomi kreatif.
NUNUKAN – Sebanyak 22 grup atau unit sound system menunjukkan kemampuan teknis dan kreativitas mereka dalam lomba sound hajatan pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan di Paras Perbatasan, Minggu (04/10/2026). Ajang tersebut sekaligus menjadi ruang bagi pekerja audio lokal untuk memperlihatkan bahwa usaha tata suara hajatan memiliki potensi sebagai bagian dari subsektor ekonomi kreatif.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah (Setda) Nunukan, Muhammad Amin, mengatakan perlombaan tidak semata-mata mengukur kemampuan menghasilkan suara keras. Menurut dia, kreativitas dan kemampuan menghibur masyarakat juga menjadi bagian penting dalam perkembangan usaha sound system yang selama ini dekat dengan berbagai kegiatan masyarakat.
“Saya melihat lomba sound hajatan seperti ini bukan sekadar perlombaan dan hiburan. Ini juga menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujar Amin.
Sebagaimana diberitakan Tanjungselor, Minggu, (04/10/2026), pembukaan lomba dilakukan Amin yang sekaligus menyampaikan pesan kepada para peserta agar menjadikan kompetisi tersebut sebagai kesempatan mengasah kemampuan dan meningkatkan kualitas layanan audio.
“Saya berharap seluruh peserta dapat mengikuti lomba ini dengan penuh semangat dan sportivitas. Jangan hanya mengejar suara yang paling keras, tetapi tunjukkan juga kualitas suara, kreativitas, dan kemampuan menghibur masyarakat,” tambahnya.
Kompetisi itu secara khusus memberikan kesempatan kepada pelaku dan teknisi sound system lokal untuk menguji kemampuan mereka di hadapan masyarakat. Para peserta terlihat mempersiapkan perangkat masing-masing sebelum tampil, mulai dari menata hingga menyesuaikan komponen audio untuk mendapatkan suara yang dinilai jernih dan nyaman didengar.
Salah satu juri lomba, Ari, mengatakan proses penilaian dilakukan menggunakan perangkat khusus untuk memantau DPA dan DPC berdasarkan hitungan standar teknis. Untuk menjaga objektivitas, seluruh peserta juga diwajibkan menggunakan satu lagu atau musik yang telah disiapkan panitia.
Selain aspek teknis, perkembangan usaha sound hajatan dinilai memiliki kaitan dengan sektor ekonomi kreatif. Industri tersebut tidak lagi sekadar dipandang sebagai layanan pendukung sebuah acara, tetapi telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang melibatkan pekerja, teknisi, penyedia perangkat, hingga pelaku jasa hiburan.
Dalam praktiknya, penggunaan sound system untuk hajatan memiliki beragam bentuk sesuai kebutuhan. Salah satunya sound miniatur yang umumnya digunakan untuk kegiatan berskala kecil, seperti karaoke di rumah atau acara keluarga dengan jumlah peserta terbatas.
Ada pula sound 8 mata yang memiliki kapasitas lebih besar dan digunakan dalam kegiatan dengan jumlah penonton lebih banyak, termasuk resepsi pernikahan dan acara akikah. Sistem tersebut dirancang untuk menjangkau area terbuka yang lebih luas dengan keluaran suara yang lebih bertenaga.
Keberadaan lomba ini dinilai dapat menjadi momentum untuk meningkatkan apresiasi terhadap pekerja seni audio sekaligus memperluas peluang usaha masyarakat. Penyelenggaraan secara rutin diharapkan mampu mempertemukan kreativitas, keterampilan teknis, hiburan, dan aktivitas ekonomi dalam satu ruang yang dapat memberi manfaat bagi pelaku sound system di Nunukan. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan