Donald Trump menyatakan AS akan menghentikan bantuan militer tahunan senilai US$3,8 miliar kepada Israel, sementara waktu pelaksanaan dan kelanjutan kerja sama kedua negara belum dipastikan.
WASHINGTON – Rencana penghentian bantuan militer tahunan Amerika Serikat (AS) senilai US$3,8 miliar atau sekitar Rp70 triliun kepada Israel menandai potensi perubahan dalam hubungan strategis kedua negara. Presiden AS Donald Trump menyatakan keputusan tersebut telah disepakati bersama Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, meski Washington tetap membuka kemungkinan memberikan bantuan jika Israel membutuhkannya.
Pernyataan Trump disampaikan melalui wawancara telepon dengan Fox News pada Selasa (03/11/2026), bertepatan dengan pelaksanaan pemilihan paruh waktu di AS. Kebijakan itu menjadi perhatian karena bantuan militer Washington selama ini merupakan salah satu penopang utama kemampuan pertahanan Israel.
“Kami memberi Israel US$4 miliar (Rp72,5 triliun) per tahun, dan beberapa bulan lalu kami membuat kesepakatan bahwa kami akan menghentikannya,” kata Trump, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Rabu (04/11/2026).
Trump menyebut Netanyahu tidak keberatan dengan rencana penghentian bantuan tersebut. Menurutnya, kondisi ekonomi Israel saat ini dinilai cukup kuat sehingga tidak lagi bergantung pada dukungan keuangan tahunan dari Washington.
“Sekarang kami akan membantu Israel jika mereka membutuhkan,” kata Trump.
“Israel adalah negara yang sangat makmur. Mereka tidak membutuhkannya.”
Meski demikian, belum ada kepastian mengenai waktu pelaksanaan penghentian bantuan tersebut. Pernyataan Trump juga belum menjelaskan secara terperinci mekanisme penghentian maupun bentuk dukungan alternatif yang mungkin diberikan AS kepada Israel pada masa mendatang.
Selama ini, Israel menerima bantuan keuangan AS untuk pembelian persenjataan sekitar US$3,8 miliar setiap tahun. Sejak berdiri pada 1948, negara tersebut telah memperoleh bantuan ekonomi dan militer dari Washington lebih dari US$300 miliar jika disesuaikan dengan inflasi, menurut Council on Foreign Relations.
Keinginan mengurangi ketergantungan terhadap bantuan AS sebenarnya pernah disampaikan Netanyahu. Dalam wawancara dengan stasiun televisi CBS pada Mei lalu, ia menyatakan ingin menurunkan bantuan tersebut hingga tidak lagi diterima Israel.
Namun, pengumuman Trump justru memicu kritik dari tokoh oposisi Israel Gadi Eisenkot. Ia menilai keputusan tersebut menunjukkan persoalan serius dalam kepemimpinan Netanyahu, terutama karena perubahan hubungan strategis itu diketahui publik melalui pemberitaan media.
“Fakta bahwa aparat pertahanan Israel mengetahui perubahan dalam hubungan strategis kita melalui media, bersamaan dengan masyarakat Israel, menunjukkan betapa berbahayanya tindakan Benjamin Netanyahu,” kata Eisenkot dalam sebuah pernyataan. “Ia tidak lagi dapat dipercaya dan harus digantikan.”
Pengumuman tersebut juga bertepatan dengan pengumuman hasil pemilihan umum Israel. Kubu Netanyahu dilaporkan unggul, tetapi belum berhasil memperoleh mayoritas suara untuk membentuk pemerintahan.
Perubahan kebijakan bantuan AS berpotensi menjadi persoalan penting bagi hubungan kedua negara, terutama dalam menentukan pembiayaan pertahanan Israel dan arah kerja sama militer ke depan. Kepastian mengenai jadwal penghentian bantuan serta bentuk dukungan pengganti masih menjadi hal yang ditunggu. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan