Foto: Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Kukar, Leni Astuti (Berita Borneo/Reza)

Tenaga Laboratorium Medik di Kukar Minim, Dinkes Dorong Generasi Muda

Dinkes Kukar mendorong generasi muda menekuni profesi laboratorium medik untuk mengatasi kekurangan tenaga kesehatan sekaligus mengingatkan masyarakat akan risiko diabetes dan hipertensi akibat pola hidup tidak sehat.

KUTAI KARTANEGARA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengungkapkan bahwa jumlah tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) di daerah tersebut masih belum mencukupi kebutuhan pelayanan kesehatan. Untuk mengatasi kondisi itu, Dinkes Kukar mendorong peningkatan minat generasi muda menempuh pendidikan di bidang laboratorium medik.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinkes Kukar, Leni Astuti, mengatakan keterbatasan tenaga ATLM perlu mendapat perhatian karena profesi tersebut memiliki peran penting dalam mendukung pemeriksaan laboratorium sebagai bagian dari pelayanan kesehatan.

Menurutnya, diperlukan program yang mampu menarik minat masyarakat, khususnya lulusan sekolah menengah, untuk melanjutkan pendidikan di bidang teknologi laboratorium medik.

“Kebutuhan kita untuk tenaga ahli laboratorium memang masih sangat-sangat kurang. Harapannya, ada program yang bisa menjadi daya tarik bagi masyarakat sehingga semakin banyak generasi muda yang tertarik bersekolah menjadi tenaga ahli laboratorium,” ujarnya di Tenggarong, Sabtu (07/11/2026).

Leni berharap peningkatan minat terhadap pendidikan laboratorium medik dapat membantu memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di Kukar secara bertahap.

Selain menyoroti kekurangan tenaga ATLM, Leni mengingatkan masyarakat mengenai risiko penyakit tidak menular (PTM), khususnya diabetes melitus dan hipertensi, yang juga dapat menyerang kelompok usia muda.

Menurutnya, pola hidup yang kurang sehat menjadi salah satu faktor risiko berkembangnya penyakit tersebut. Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, minuman tinggi gula, kurang beraktivitas fisik, serta pola tidur tidak teratur perlu mendapat perhatian masyarakat.

Leni secara khusus menyoroti konsumsi minuman kekinian yang mengandung gula tinggi. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut, apabila berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi pola hidup sehat, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

“Jangan salah, minuman seperti boba dan sejenisnya memiliki kadar gula yang cukup tinggi. Sekarang usia muda juga sudah mulai terkena diabetes melitus dan hipertensi. Karena itu, kita harus lebih memperhatikan pola hidup, aktivitas fisik, serta makanan yang dikonsumsi,” jelasnya.

Sebagai langkah pencegahan, Leni mendorong masyarakat menerapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) melalui pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik secara teratur, serta pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi faktor risiko penyakit sejak dini.

Ia menilai peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan dan deteksi dini menjadi bagian dari upaya mengendalikan risiko PTM di Kukar.

Melalui penguatan sumber daya manusia kesehatan dan penerapan Germas, pelayanan kesehatan serta upaya pencegahan penyakit diharapkan dapat berjalan lebih optimal sehingga masyarakat semakin terlindungi dari risiko penyakit tidak menular. [] (ADV)

Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *