Pekan Budaya Borneo 2026 Hadirkan Maestro Nusantara di Balikpapan

Pekan Budaya Borneo 2026 menghadirkan maestro, pertunjukan seni, kuliner 30 paguyuban, dan pembelajaran tradisi bagi generasi muda sebagai upaya memperkuat pelestarian budaya Kaltim.

BALIKPAPAN – Pekan Budaya Borneo 2026 resmi dibuka di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), Jumat (06/11/2026) malam. Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, festival budaya ini menghadirkan para maestro, seniman, dan komunitas budaya dari berbagai daerah di Indonesia sekaligus direncanakan menjadi agenda tahunan untuk memperkuat pelestarian warisan budaya Nusantara.

Mengusung tema “Jejak Maestro: Merawat Simpul Para Penjaga Tradisi”, kegiatan yang berlangsung pada 4–8 November 2026 tersebut diselenggarakan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Kaltim, dengan Taman Bekapai sebagai pusat kegiatan.

Kepala BPK Wilayah XIV Kaltim, Lestari, mengatakan Balikpapan dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena memiliki karakter masyarakat yang multikultural. Keberagaman tersebut dinilai menjadi peluang untuk mempertemukan berbagai tradisi Nusantara dengan tetap mengutamakan kebudayaan asli Kaltim.

“Balikpapan merupakan kota multikultural. Karena itu, kami ingin mengakomodasi berbagai budaya yang ada di Kalimantan Timur. Kaltim ini adalah Nusantara, sehingga kami ingin menampilkan kebudayaan dari berbagai daerah, tetapi tetap mengutamakan kebudayaan asli Kalimantan Timur,” ujarnya.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Kalimantan Timur oleh Lestari, S.Si., M.P

Menurut Lestari, Pekan Budaya Borneo tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga bentuk penghargaan kepada para maestro yang berperan menjaga dan mewariskan pengetahuan budaya kepada generasi berikutnya.

Sejumlah warisan budaya takbenda dari Kaltim ditampilkan dalam festival tersebut, antara lain Besoyong, Belian, dan berbagai kesenian tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan ruang publik sebagai bentuk penghargaan kepada para maestro dan penjaga tradisi. Mereka inilah yang memiliki pengetahuan dan keterampilan budaya untuk diwariskan kepada generasi berikutnya,” jelasnya.

Lestari menjelaskan, kegiatan tersebut juga bertujuan mempertemukan generasi muda dengan para maestro agar proses pewarisan budaya dapat berlangsung melalui interaksi dan pembelajaran secara langsung.

Dengan pendekatan tersebut, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal warisan budaya sebagai pertunjukan, tetapi juga memahami pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai tradisi yang terkandung di dalamnya.

Pekan Budaya Borneo 2026 menghadirkan sejumlah maestro dan pelaku seni tradisional, di antaranya Suwis Santoso yang membawakan Besoyong, Didik Nini Thowok melalui seni tari topeng, serta Alif Fakod dengan pertunjukan musik tradisional Sape’.

Berbagai kesenian lainnya turut ditampilkan, seperti musik Sapeq, Belian Seba Sebi, Buto Kolosal, dan sejumlah ekspresi budaya dari berbagai daerah di Indonesia.

Pada Sabtu (07/11/2026), rangkaian kegiatan dijadwalkan menghadirkan Tari Topeng Penembe oleh Aji Maya Melati, Tari Gantar, Tari Saman, Jepin Tempurung, Tari Piring, Kuda Lumping, Bantengan, Wushu, hingga Barongsai.

Keberagaman pertunjukan tersebut menjadi sarana memperkenalkan kekayaan tradisi yang berkembang di Kaltim maupun daerah lain di Indonesia kepada masyarakat luas. Selain pertunjukan seni, festival ini menghadirkan program Maestro Mengajar yang berfokus pada pelestarian musik tradisional Tingkilan.

Program yang berlangsung pada 4–6 November 2026 tersebut melibatkan Busu Saipul dan Mbo’ Juita sebagai pengajar untuk membagikan pengetahuan dan keterampilan kepada generasi muda. Melalui pembelajaran langsung, peserta diperkenalkan pada teknik memainkan musik Tingkilan, karakteristik kesenian, serta nilai-nilai budaya yang menyertainya.

Program ini menjadi salah satu upaya memperkuat pewarisan pengetahuan antargenerasi agar musik tradisional tetap dikenal, dipelajari, dan dipraktikkan oleh masyarakat. Pekan Budaya Borneo 2026 juga menghadirkan kegiatan Jejak Rasa Nusantara yang melibatkan 30 paguyuban dari berbagai suku di Indonesia.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat mengenal kuliner tradisional sebagai bagian dari identitas budaya, termasuk pengetahuan mengenai bahan pangan, teknik pengolahan, penyajian, serta nilai-nilai yang diwariskan melalui tradisi kuliner.

Selain itu, kegiatan memasak secara langsung atau live cooking melibatkan para juru masak profesional dari asosiasi juru masak Indonesia di Balikpapan untuk memperagakan pengolahan makanan tradisional Kaltim.

Kegiatan tersebut menjadi sarana memperkenalkan kekayaan kuliner daerah sekaligus memperluas pemahaman masyarakat mengenai hubungan antara makanan dan warisan budaya. Rangkaian festival turut menghadirkan Tari Ronggeng Massal yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat langsung dalam kegiatan budaya.

Melalui gerakan tari yang sederhana dan terbuka bagi berbagai kalangan, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kebersamaan serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelestarian tradisi. Sementara itu, Kalimantan Culture Carnival dijadwalkan menjadi penutup rangkaian Pekan Budaya Borneo 2026 pada Minggu (08/11/2026).

Karnaval budaya tersebut direncanakan menampilkan kreativitas peserta melalui busana, musik, gerak, dan pertunjukan seni dengan rute melintasi Jalan Jenderal Sudirman hingga berakhir di Taman Bekapai.

Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi bagi komunitas budaya dan masyarakat untuk memperkenalkan kekayaan tradisi melalui pertunjukan yang dapat disaksikan di ruang publik. Lestari mengungkapkan, Pekan Budaya Borneo direncanakan menjadi agenda tahunan sebagai bagian dari upaya memperkuat pelestarian dan pemajuan kebudayaan.

Menurutnya, penyelenggaraan tahun 2026 merupakan pelaksanaan kedua di Balikpapan. Keberlanjutan kegiatan diharapkan dapat memperluas keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menjaga warisan budaya daerah.

“Kami berharap masyarakat Kalimantan Timur selalu mendukung program-program kebudayaan yang ada di sekitar kita. Mudah-mudahan kegiatan ini terus berlanjut dan menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal serta mencintai budaya daerah,” ungkapnya.

Melalui penyelenggaraan yang berkelanjutan, Pekan Budaya Borneo diharapkan tidak hanya menjadi ajang perayaan keberagaman, tetapi juga memperkuat hubungan antara maestro, komunitas budaya, dan generasi penerus.

Dengan demikian, pengetahuan serta keterampilan budaya dapat terus dipelajari, dipraktikkan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. []

Penulis: Irwanto Sianturi | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *