Selasa , Juni 18 2019
Breaking News
Home / Advetorial / Pemkab Kutai Kartanegara / Ini Dia Bangunan Religius Paling Bersejarah di Tenggarong

Ini Dia Bangunan Religius Paling Bersejarah di Tenggarong

 
Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin, meskipun lokasinya berdekatan dengan masjid terbesar dan termegah di Kukar, Masjid Agung, namun Masjid Jami tetap 'makmur'. Kala ibadah shalat Jumat, shalat id, selalu dipenuhi umat.

Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin, meskipun lokasinya berdekatan dengan masjid terbesar dan termegah di Kukar, Masjid Agung, namun Masjid Jami tetap ‘makmur’. Kala ibadah shalat Jumat, shalat id, selalu dipenuhi umat.

KUTAI KARTANEGARA – Saat berwisata ke Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), pasti yang dicari adalah lokasi-lokasi yang unik dan menarik. Mau tahu salah satu bangunan paling monumental dan bersejarah di Tenggarong? Bangunan itu terletak di Jalan Sutoyo, tepat berada di depan Pendopo Bupati Kukar atau di samping Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura.

Nama bangunan itu adalah Masjid Jami Aji Amir Hasanoedin. Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Agama (Depag) Provinsi Kaltim nomor WQ/2/2526 tahun 1981, Masjid Jami ditetapkan sebagai salah satu tempat ibadah  monumental dan bersejarah di Indonesia. Masjid jami sangat cocok jadi destinasi wisata religius.

Keputusan Kanwil Depag  Kaltim menetapkan  Masjid Jami Tenggarong sebagai masjid  bersejarah merupakan kesimpulan Seminar Sejarah Islam di Kaltim  yang diselenggarakan   Nopember 1981 di Samarinda. Seminar memperingati 15 abad masuk  Islam di Nusantara itu juga menyepakati penamaan menjadi Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin hingga kini.

Masjid  yang letaknya juga berada di belakang Museum Mulawarman ini sudah ada sejak abad ke-19. Periode pembangunannya dilakukan secara bertahap, pertama dengan bangunan yang sederhana tanpa ada tiang tinggi seperti yang ada saat ini. Dilakukan di  masa Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura  ke-17 yaitu Sultan Aji Muhammad Sulaiman.

Kemudian dilanjutkan di masa pemerintahan Sultan ke-18,   Alimuddin. Di akhir abad ke-18 tepatnya tahun 1874 pembangunan masjid ini seperti bentuknya sekarang dimulai. Dilakukan bergotong royong sebelum  umat  saat itu melaksanakan solat  subuh. Ditandai  peletakan 16 tiang kayu ulin yang ditebang di hutan sekitar kota raja Tenggarong sebagai batu pertamanya.

Memasuki priode kedua  atau setelah usia masjid mencapai 60 tahun bangunannya mengalami banyak kerusakan. Sultan Alimuddin menunjuk  putranya Haji Aji  Amir Hasanudin bersama menteri agama kesultanan saat  itu Tuan Guru Said Sagaf Baraqbah untuk merenovasi tanpa mengubah bentuk bangunannya. Renovasi diantaranya  mengganti lantai yang dulunya  berlantai papan ulin diganti menjadi coran semen yang didatangkan dari Belanda.

Kemudian memasang instalasi listrik dan sound system (sistem suara) yang saat itu masjid masjid di Kaltim belum teraliri listrik dan terpasang alat pengeras suara. Karena  listriknya dipasok Pembangkit Lstrik Tenaga Uap Batu bara berkapasitas 10 mega watt yang berada di Loa Kulu. Kemudian pembuatan tanki penampung air hujan berkapasitas 20 ribu liter terbuat dari cor semen sebagai sediaan air wudhu.  Usai direnovasi besar-besaran, masjid Jami sebagai tempat ibadah yang megah dan cantik.

Tiang-tiangnya masih berupa kayu dengan ornamen bergaya klasik.

Tiang-tiangnya masih berupa kayu dengan ornamen bergaya klasik.

Karena bangunannya selain  bercorak moderen  juga  terang benderang  di malam hari.  Wajar jika jelang malambanyak warga Tenggarong saat itu berkumpul  di masjid  hingga jelang tengah malam, bahkan ada di antaranya menginap di teras Masjid sambil  menunugu solat subuh.

Ketua Pengurus Masjid Awang Yakub Lukman mengatakan, masjid ini merupakan aset Kesultanan Kutai dengan pembina Sultan saat ini Aji Muhammad Salehudin II. Sehingga masjid ini menjadi masjidnya Sultan dan para kerabatnya. Kendati demikian banyak umat islam melakukan solat di masjid ini.

Diakuinya pula, kapasitas masjid yang  tidak sesuai dengan jumlah umat yang  beribadah  maka jika di dalam masjid penuh sesak umat  bisa beribadah di Kedaton Sultan yang ada di samping masjid. Renovasi maupun menambahan fasilitas masjid jami ini  terus dilakukan oleh pegurusnya mulai adanya kehadiran angota satpam,  pembangunan menara setinggi 30 meter pada tahun 1980-an hingga bangunan kantor sekretariat masjid dan halaman parkir yang cukup luas. [] Adv/Hms

3,057 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Portal Berita Borneo Powered By : PT Media Maju Bersama Bangsa