Sebanyak 400 calon penerima manfaat program Paser Bertelur mengikuti pembekalan usaha ayam petelur dan penandatanganan NPHD menjelang penyaluran bibit ayam pada 27–30 Oktober 2026.
PASER – Sebanyak 400 calon penerima manfaat program Paser Bertelur mengikuti bimbingan teknis (bimtek) pengelolaan usaha ayam petelur yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paser melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) di Pendopo Lou Bapekat, Kamis (22/10/2026). Kegiatan yang dirangkai dengan penandatanganan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) tersebut bertujuan membekali masyarakat agar mampu mengembangkan peternakan ayam petelur secara berkelanjutan untuk meningkatkan pendapatan keluarga dan memenuhi kebutuhan protein hewani.
Kegiatan ini merupakan salah satu tahapan persiapan sebelum penyaluran bibit ayam yang dijadwalkan berlangsung pada 27–30 Oktober 2026. Melalui pembekalan tersebut, para calon penerima bantuan diharapkan memahami tata cara pemeliharaan ternak, pengelolaan pakan, serta upaya menjaga kesehatan ayam agar usaha yang dijalankan dapat memberikan hasil optimal.
Panitia Pelaksana Bimtek, Sriyatun, menjelaskan bahwa pelaksanaan program telah melalui sejumlah tahapan, mulai dari sosialisasi hingga pembangunan kandang sebagai sarana utama pemeliharaan ayam petelur.
“Pelaksanaan program ini diawali dengan sosialisasi, pendataan calon penerima dan calon lokasi (CPCL), verifikasi, penetapan CPCL, hingga pembangunan kandang,” ujar Sriyatun dalam laporannya.
Menurutnya, tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan calon penerima bantuan memenuhi persyaratan serta memiliki kesiapan sarana sebelum menerima bibit ayam.
Dalam pelaksanaannya, bimtek menghadirkan narasumber dari PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. dan Disbunak Paser. Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik pemeliharaan, manajemen kesehatan ternak, pengelolaan pakan, hingga keberlanjutan usaha peternakan.
“Melalui Bimtek ini para peserta akan mendapatkan pembekalan materi intensif terkait pemeliharaan pakan, manajemen kesehatan ayam, hingga strategi pengelolaan usaha ayam petelur secara berkelanjutan”, Imbuhnya.
Sriyatun menekankan pentingnya kesiapan teknis seluruh kelompok penerima bantuan menjelang kedatangan bibit ayam. Salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah kebersihan dan kelayakan kandang untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan ternak.
“Kami meminta seluruh kelompok untuk segera menuntaskan pembersihan dan sterilisasi kandang menggunakan desinfektan yang telah dibagikan, sesuai petunjuk teknis petugas. Pastikan kondisi kandang aman, tempat pakan dan minum sudah tersedia, serta pasokan air bersih siap digunakan,” tegasnya.
Selain kebersihan kandang, ketersediaan sarana pendukung menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap keberhasilan pemeliharaan ayam petelur. Persiapan tersebut perlu diselesaikan sebelum bibit ayam diserahkan kepada kelompok penerima.
Setelah pelaksanaan bimtek, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan NPHD sebagai bagian dari proses administrasi hibah daerah.
Penandatanganan tersebut diharapkan memperkuat komitmen penerima bantuan dalam memanfaatkan sarana dan bantuan peternakan secara bertanggung jawab, sekaligus mendorong pengelolaan usaha yang tertib dan berkelanjutan.
“Kami berharap Penerima dapat disiplin dalam pemeliharaan rutin, tertib melakukan pencatatan hasil usaha, serta mampu merencanakan keberlanjutan pakan dan biaya operasional usaha secara mandiri”, Pungkasnya.
Program Paser Bertelur merupakan salah satu upaya Pemkab Paser untuk mengembangkan peternakan ayam petelur berbasis masyarakat. Selain mendukung ketersediaan pangan, program tersebut diarahkan untuk membuka peluang usaha produktif dan memperkuat perekonomian keluarga.
Keberhasilan program tidak hanya bergantung pada penyaluran bantuan, tetapi juga kemampuan penerima dalam menjaga produktivitas ternak, mengelola biaya operasional, serta mempertahankan keberlanjutan usaha setelah bantuan diberikan.
Melalui bimtek dan penandatanganan NPHD, Pemkab Paser berharap kelompok penerima manfaat mampu mengembangkan usaha ayam petelur secara mandiri sehingga produksi telur lokal meningkat, kebutuhan protein hewani masyarakat lebih terpenuhi, dan pendapatan keluarga dapat terus bertambah. []
Penulis: Wiwik Rahmawati | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan