Eksplorasi Goa Batu Hapu Ungkap Interaksi Ular dan Kelelawar

Eksplorasi Meratus UNESCO Global Geopark menemukan ular berwarna keemasan yang memangsa kelelawar serta ornamen menyerupai gajah di Goa Batu Hapu, memperkuat potensi wisata edukasi dan konservasi di Kabupaten Tapin.

TAPIN – Keberadaan ular berwarna kuning keemasan yang memangsa kelelawar menjadi salah satu temuan dalam eksplorasi Goa Batu Hapu, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Temuan ular Orthriophis taeniurus grabowskyi tersebut memperlihatkan interaksi pemangsa dan mangsa di habitat alami sekaligus memperkuat potensi kawasan itu sebagai destinasi wisata berbasis edukasi, geologi, dan konservasi.

Eksplorasi yang dilakukan Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark itu juga mengungkap kekayaan bentukan geologi di dalam goa. Selain satwa yang hidup di dalamnya, tim menemukan ornamen alami menyerupai gajah yang berpotensi menjadi materi interpretasi geologi bagi pengunjung.

Sebelumnya, tim telah mengidentifikasi tiga jenis kelelawar yang menghuni goa tersebut. Penemuan ular yang memangsa kelelawar Taphozous longimanus menambah informasi mengenai hubungan ekologis ant satwa dan menunjukkan pentingnya menjaga habitat agar proses alami di dalam ekosistem tetap berlangsung.

Geolog Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, M. Aditya Rathomy, mengatakan kondisi goa yang relatif terjaga mendukung keberadaan berbagai satwa dan bentukan geologi.

“Goa Batu Hapu masih memiliki kondisi yang cukup terjaga. Di dalamnya kita dapat menemukan habitat alami berbagai satwa, sekaligus ornamen-ornamen goa yang terbentuk secara alami,” ujar M. Aditya Rathomy di Tapin, Jumat (23/10/2026).

Selain menjadi bagian dari kekayaan geologi, ornamen yang menyerupai gajah dapat dikembangkan sebagai sarana edukasi tanpa mengubah bentuk aslinya. Pendekatan ini dapat membantu pengunjung memahami proses alam yang membentuk ornamen goa dalam kurun waktu panjang.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan ialah suiseki, yaitu seni mengapresiasi keindahan bentuk alami tanpa mengubah wujud aslinya. Konsep tersebut mendorong pengunjung mengamati keunikan bentukan alam sekaligus memahami pentingnya menjaga keasliannya.

“Bentukan seperti ini menarik karena pengunjung dapat diajak untuk mengamati sendiri bentuk-bentuk alami yang ada di dalam goa. Kita tidak perlu mengubahnya, cukup menjaga dan menginterpretasikannya dengan baik,” jelasnya.

Dari sisi pengembangan pariwisata, perwakilan Bidang Promosi dan Pemasaran, M. Fredly Andri, menilai kombinasi keunikan satwa, interaksi ekologis, dan ornamen geologi dapat menjadi materi promosi untuk memperkenalkan Goa Batu Hapu kepada masyarakat luas.

“Kemudahan akses menjadi salah satu keunggulan Goa Batu Hapu. Dengan adanya keunikan satwa, interaksi alami di dalam goa, serta ornamen yang menarik, kawasan ini sangat potensial untuk dikunjungi,” ujar M. Fredly Andri.

Menurut Fredly, informasi mengenai temuan satwa dan geologi dapat dikemas sebagai materi edukatif agar pengalaman berkunjung tidak hanya berfokus pada keindahan visual, tetapi juga meningkatkan pemahaman tentang keanekaragaman hayati Kalimantan Selatan.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan, Penelitian dan Konservasi Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, Ramadhan Jayusman, menilai keberadaan Orthriophis taeniurus grabowskyi berpotensi menjadi daya tarik wisata minat khusus, terutama bagi penggemar reptil dan herpetofauna.

Pengembangan potensi Goa Batu Hapu perlu disertai upaya perlindungan habitat dan pengelolaan kunjungan yang bertanggung jawab. Dengan demikian, kekayaan satwa dan bentukan geologi kawasan tersebut dapat menjadi sumber edukasi sekaligus mendukung pariwisata alam tanpa mengganggu keseimbangan ekosistemnya. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *