China menambah 23 ton emas pada September 2026 hingga total cadangannya mencapai sekitar 2.410 ton sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset dan penguatan ketahanan finansial menghadapi risiko geopolitik.
BEIJING – Cadangan emas China yang mencapai sekitar 2.410 ton mencerminkan perubahan strategi dalam menjaga ketahanan ekonomi di tengah meningkatnya risiko geopolitik dan potensi pembatasan keuangan internasional. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada aset yang rentan terhadap tekanan politik, tanpa harus meninggalkan dominasi dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan global.
Bank Rakyat China (People’s Bank of China/PBOC) dilaporkan membeli tambahan 23 ton emas pada September 2026. Pembelian tersebut menjadi yang terbesar dalam hampir tiga tahun terakhir sekaligus memperpanjang tren akumulasi emas selama 23 bulan berturut-turut.
Sebagaimana diberitakan Sindonews, Selasa, (20/10/2026), strategi China tersebut sejalan dengan langkah sejumlah bank sentral lain, termasuk Polandia, Uzbekistan, dan Kazakhstan, yang turut meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari pengelolaan cadangan devisa.
Salah satu faktor yang mendorong perubahan strategi ini adalah pembekuan cadangan devisa Rusia oleh negara-negara Barat setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa aset keuangan yang disimpan di luar negeri dapat terkena pembatasan ketika konflik politik dan kepentingan internasional meningkat.
Bagi Beijing, emas yang disimpan di dalam negeri menawarkan perlindungan berbeda dibandingkan aset keuangan yang bergantung pada sistem atau lembaga asing. Emas tidak memiliki kewajiban pembayaran dari penerbit luar negeri sehingga relatif lebih sulit dibekukan melalui mekanisme keuangan yang berada di bawah yurisdiksi negara lain.
Meski demikian, peningkatan cadangan emas tidak serta-merta menunjukkan bahwa China akan meninggalkan dolar AS. Mata uang tersebut masih memiliki keunggulan dalam likuiditas perdagangan internasional, sementara pasar obligasi pemerintah AS tetap menjadi salah satu pasar keuangan terdalam di dunia.
Karena itu, penambahan emas lebih tepat dipahami sebagai upaya mendiversifikasi cadangan dan mengurangi risiko ketergantungan pada satu sistem keuangan. Beijing tetap membutuhkan aset likuid untuk mendukung perdagangan, transaksi internasional, dan stabilitas ekonominya.
Perubahan strategi juga terlihat di dalam negeri China. Ketidakpastian sektor properti dan gejolak pasar keuangan mendorong sebagian rumah tangga serta investor mencari instrumen penyimpan kekayaan alternatif. Dalam situasi tersebut, emas menjadi salah satu pilihan karena dinilai dapat membantu menjaga nilai kekayaan ketika kepercayaan terhadap aset lain melemah.
Selain menambah cadangan resmi, China berupaya memperluas infrastruktur perdagangan emas internasional melalui Hong Kong. Langkah ini berpotensi memperkuat peran China dalam perdagangan emas sekaligus memperluas pilihan transaksi di luar jalur keuangan yang selama ini didominasi negara-negara Barat.
Namun, emas tetap memiliki keterbatasan sebagai aset cadangan. Berbeda dengan instrumen berbunga, emas tidak menghasilkan pendapatan bunga. Harganya juga dapat mengalami koreksi tajam dan dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS serta suku bunga riil.
Dari sisi likuiditas, emas juga belum dapat sepenuhnya menggantikan dolar AS maupun pasar obligasi pemerintah AS yang memiliki kapasitas besar untuk mendukung transaksi keuangan global. Oleh sebab itu, peningkatan kepemilikan emas tidak otomatis mengakhiri peran dolar dalam sistem moneter internasional.
Meski memiliki keterbatasan, pembelian emas secara konsisten menunjukkan bahwa bank sentral semakin mempertimbangkan faktor keamanan geopolitik dalam mengelola cadangan devisa. Keputusan investasi tidak lagi hanya ditentukan oleh potensi keuntungan dan kemudahan pencairan, tetapi juga oleh risiko pembekuan aset akibat perselisihan antarnegara.
Tren tersebut dapat mendorong bank sentral lain meninjau kembali komposisi cadangan mereka sesuai kebutuhan masing-masing. Bagi China, emas menjadi instrumen untuk memperkuat ketahanan finansial, meskipun efektivitas strategi itu tetap bergantung pada perkembangan harga, kondisi ekonomi global, dan hubungan geopolitik. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan