Demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup di lima kota Italia berujung bentrokan, melukai 141 petugas, menyebabkan kerusakan toko, dan membuat 28 orang ditangkap.
MILAN – Kerusuhan yang mewarnai demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup di Italia menyebabkan 141 petugas penegak hukum terluka, kerusakan sejumlah toko, serta penangkapan 28 orang, termasuk 12 anak di bawah umur. Aksi yang berlangsung pada Sabtu (17/10/2026) itu juga memicu pengamanan lanjutan di pusat Kota Milan hingga Minggu.
Selain penangkapan, kepolisian mengidentifikasi dan membawa 197 orang ke kantor polisi. Sebanyak 43 orang di antaranya dilaporkan kepada otoritas kehakiman untuk penanganan lebih lanjut.
Demonstrasi yang diorganisasi gerakan Italia in Piazza tersebut dipicu penolakan terhadap kenaikan biaya hidup, harga bahan bakar, dan tekanan pajak. Berdasarkan data kepolisian, aksi melibatkan sekitar 5.000 orang di Milan, 3.000 orang di Turin, 2.000 orang di Bologna, 600 orang di Brescia, dan 800 orang di Bergamo.
Di Milan, situasi memburuk ketika sejumlah kelompok melemparkan batu, botol, petasan, dan barikade ke arah petugas. Aparat merespons dengan menembakkan gas air mata serta menggunakan meriam air untuk membubarkan massa. Sejumlah toko di sekitar pusat kota rusak dan dijarah, sedangkan satu kendaraan milik Carabinieri, kepolisian militer Italia, hancur.
Sebagaimana diberitakan Sky TG24, Senin (19/10/2026), sebanyak 17 orang ditangkap di Milan. Asosiasi peritel Confcommercio memperkirakan kerugian yang dialami toko dan tempat usaha di kota tersebut mencapai lebih dari 500.000 euro.
Kericuhan juga terjadi di kota lain. Di Turin, polisi menangkap seorang dewasa karena melawan petugas dan tiga anak di bawah umur yang diduga membawa bom molotov. Sekelompok orang juga memasuki toko buku Feltrinelli di stasiun Porta Nuova dan melemparkan buku-buku ke lantai.
Sementara itu, di Bologna, lima anak di bawah umur ditangkap setelah bentrokan di dekat stasiun kereta api. Pengunjuk rasa dilaporkan melemparkan botol, batu, dan barikade, sehingga aparat kembali menggunakan gas air mata dan meriam air untuk mengendalikan situasi.
Peristiwa tersebut memicu tanggapan dari sejumlah pejabat Italia. Perdana Menteri Giorgia Meloni menyampaikan solidaritas kepada aparat penegak hukum dan meminta partai-partai oposisi mengutuk kekerasan. Namun, ia juga mengakui bahwa ribuan peserta lainnya menyampaikan aspirasi secara damai.
Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini mengatakan partainya, League, akan kembali mengusulkan aturan parlemen yang mewajibkan penyelenggara demonstrasi berisiko menyediakan jaminan keuangan untuk menutup kemungkinan kerusakan.
Wali Kota Milan Giuseppe Sala menilai keluhan masyarakat terkait biaya hidup dapat dipahami, tetapi kekerasan terhadap petugas dan perusakan fasilitas usaha tidak dapat dibenarkan. Senada dengan itu, Wali Kota Bologna Matteo Lepore mengecam kerusuhan dan meminta kaum muda tidak terlibat dengan kelompok yang memanfaatkan demonstrasi sebagai dalih melakukan kekerasan.
Besarnya jumlah korban dari kalangan aparat, penangkapan peserta, dan kerugian usaha memperlihatkan dampak serius bentrokan tersebut. Pemerintah dan aparat kini menghadapi tantangan untuk menjaga keamanan sekaligus memastikan masyarakat tetap dapat menyampaikan aspirasi secara damai. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan