Lomba Desain Batik Lulantatibu di Nunukan hampir menggandakan jumlah peserta dan membuka peluang bagi talenta baru untuk berkembang menjadi tenaga kreatif yang dibutuhkan industri batik lokal.
NUNUKAN – Lomba Desain Batik Lulantatibu di Kabupaten Nunukan mulai memperlihatkan potensi baru di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap desain batik. Jumlah peserta yang hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya menjadi salah satu indikator bahwa ajang tersebut mampu menjaring talenta dari berbagai latar belakang, termasuk guru dan pegawai.
Lomba yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan di Gelanggang Olahraga (GOR) Dwi Kora Nunukan, Minggu (04/10/2026), itu diikuti peserta dari kategori pelajar dan umum. Jika tahun sebelumnya jumlah peserta sekitar 30 orang, tahun ini pesertanya mendekati 60 orang.
Peningkatan partisipasi tersebut sekaligus membuka peluang bagi peserta untuk mengembangkan kemampuan desain menjadi keterampilan yang bernilai ekonomi. Pasalnya, pengrajin batik setempat masih membutuhkan tenaga yang mampu menggambar dan menata motif untuk mendukung pengembangan produk.
Salah satu anggota dewan juri, Reimita, mengatakan peserta diberi waktu maksimal dua jam untuk menyelesaikan desain. Panitia juga menyediakan perlengkapan serta referensi motif dasar Lulantatibu sebagai pijakan bagi peserta dalam mengembangkan karya.
“Waktu yang diberikan paling lama dua jam, kalau sebelum dua jam sudah selesai, tidak apa-apa, yang penting jangan lewat dari waktu yang ditentukan,” kata Reimita, Minggu (04/10/2026).
Sebagaimana diberitakan Simp4tik, Minggu, (04/10/2026), kreativitas menjadi salah satu aspek utama dalam penilaian. Juri melihat kemampuan peserta mengolah dan menempatkan motif agar menghasilkan rancangan yang menarik ketika diterapkan pada kain batik.
“Kriterianya tentu kreativitas, terutama bagaimana menata atau menempatkan motif karena ini desain motif untuk kain batik,” jelasnya.
Selain rancangan motif, penggunaan busana Lulantatibu juga menjadi salah satu unsur yang diperhatikan dalam perlombaan. Peserta yang mengenakan busana tersebut memperoleh penilaian sesuai ketentuan yang telah ditetapkan panitia.
Dalam aspek pewarnaan, peserta tetap diberi ruang untuk mengeksplorasi kreativitas, meskipun terdapat arahan warna yang telah ditentukan berdasarkan hasil pembelajaran dan kesepakatan sebelumnya. Menurut Reimita, hasil akhir karya tetap menjadi pertimbangan apabila peserta menggunakan pilihan warna berbeda.
“Kalau hasilnya lebih bagus dari yang sudah ditentukan pewarnanya, tentu yang terbaik itu yang kita ambil,” ujarnya.
Menurut Reimita, keragaman latar belakang peserta justru menjadi hal menarik dalam perlombaan tersebut. Tidak semua peserta merupakan desainer atau pengrajin batik yang selama ini berkecimpung di bidang tersebut.
“Di sini saya melihat ada guru, ada pegawai, dan mungkin di sinilah kita melihat kelebihan mereka, ternyata mereka punya bakat yang terpendam,” ungkapnya.
Potensi tersebut bahkan dapat berlanjut menjadi peluang kerja. Reimita yang juga merupakan pengrajin sekaligus pemilik usaha batik mengatakan peserta dengan karya terbaik berpeluang dilibatkan dalam pekerjaan desain apabila pengrajin membutuhkan tambahan tenaga.
“Kami sebagai owner batik sangat senang dan bangga dengan kegiatan seperti ini, kami juga akan melihat mana yang terbaik. Kalau ada orderan, mungkin bisa kami berikan pekerjaan tambahan, freelance,” katanya.
Kebutuhan tenaga desain, menurut Reimita, masih cukup terbuka karena pengrajin batik selama ini kerap mengembangkan rancangan secara bersama-sama akibat terbatasnya tenaga khusus yang memiliki kemampuan menggambar dan menata motif.
Kondisi tersebut membuat lomba desain tidak hanya berfungsi sebagai ajang kompetisi, tetapi juga berpotensi menjadi titik temu antara masyarakat yang memiliki kemampuan kreatif dengan kebutuhan industri batik lokal.
Reimita berharap lomba serupa dapat kembali digelar dengan cakupan peserta yang lebih luas. Ia secara khusus mendorong keterlibatan masyarakat dari desa-desa yang memiliki kemampuan menggambar dan mewarnai tetapi belum memperoleh ruang untuk mengembangkan keterampilannya.
“Harapannya ke depan bisa diadakan lagi dan lebih banyak lagi yang ikut,” ujarnya.
Ia juga berharap Pemkab Nunukan terus memberikan pembinaan kepada pengrajin Batik Lulantatibu dan membuka ruang kolaborasi dengan peserta yang memiliki kemampuan desain. Menurutnya, peserta terbaik perlu diarahkan agar dapat mengembangkan keterampilan melalui kerja sama langsung dengan pengrajin.
“Semoga pemerintah tetap dan terus membimbing dan memberikan binaan. Peserta yang juara bisa mungkin diarahkan untuk bekerja sama dengan para pengrajin batik,” katanya.
Pengembangan talenta desain tersebut diharapkan dapat memperkuat keberadaan Batik Lulantatibu sebagai identitas budaya Nunukan. Dengan dukungan pembinaan, kolaborasi antara pengrajin dan talenta baru, serta akses pasar yang lebih luas, karya batik khas daerah diharapkan mampu berkembang dari tingkat Kalimantan Utara (Kaltara) menuju pasar nasional hingga internasional. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan