Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai kesepakatan Donald Trump terkait pasokan diesel Rusia tidak efektif menekan harga energi global dan berisiko memperbesar perbedaan sikap di antara negara-negara Barat.
BRUSSELS – Kesepakatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membuka kembali pasokan diesel Rusia dinilai belum tentu mampu menekan harga energi global. Presiden Prancis Emmanuel Macron menilai tambahan pasokan tersebut tidak menyelesaikan persoalan pasar karena diesel Rusia telah beredar dan dibeli berbagai negara.
Kritik itu disampaikan Macron seusai pertemuan Dewan Eropa di Brussels, Belgia, Jumat (16/10/2026). Sebagaimana diberitakan Metro TV News, Sabtu (17/10/2026), Macron menilai kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan keraguan dan perpecahan di antara negara-negara yang memiliki pandangan berbeda mengenai hubungan dengan Rusia.
“Volume diesel yang keluar dari Rusia sudah ada, dibeli oleh berbagai negara, dan telah beredar di pasar global. Jadi, tidak benar bahwa pasokan itu akan menyelesaikan masalah pasar global,” kata Macron setelah pertemuan Dewan Eropa pada Jumat, 16 Oktober 2026.
“Saya kira ini tidak akan memberikan dampak bagi Presiden Trump,” tambahnya, seperti dikutip dari Anadolu.
Macron juga menilai keputusan tersebut tidak efektif untuk mencapai sasaran penurunan harga energi. Ia memperingatkan bahwa kebijakan itu “mengirimkan pesan negatif dan menjadi unsur perpecahan atau keraguan.” Ia juga menyebutnya sebagai langkah yang “tidak tepat dan tidak efektif.”
Menurut Macron, upaya menurunkan harga energi perlu didasarkan pada langkah yang benar-benar memengaruhi keseimbangan pasar, bukan sekadar membuka jalur pasokan yang produknya telah beredar secara internasional.
Ia mengatakan akan terus menjalin komunikasi dengan AS dengan itikad baik untuk menjelaskan data dan mencari langkah efektif guna menurunkan harga energi.
“Kita semua sepakat pada satu hal: harga diesel, bensin, dan gas harus turun. Namun, langkah ini tidak akan secara efektif menurunkan harga tersebut. Ini bukan jawaban yang tepat,” ujarnya.
Pekan sebelumnya, Trump mencabut sanksi terhadap ekspor diesel Rusia dengan tujuan menekan harga energi. Ia menyatakan Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 metrik ton atau sekitar 2,25 juta barel diesel ke pasar AS dan global.
Trump juga mengumumkan gencatan senjata terkait infrastruktur energi antara Rusia dan Ukraina. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari perkembangan diplomasi energi di tengah konflik kedua negara.
Namun, Macron mempersoalkan efektivitas kesepakatan tersebut dalam menghasilkan penurunan harga bagi konsumen. Menurut pandangannya, keberadaan pasokan tambahan tidak otomatis menyelesaikan persoalan pasar apabila volume yang diperdagangkan sebelumnya sudah tersedia melalui jalur perdagangan internasional.
Perbedaan pendekatan ini memperlihatkan tantangan bagi negara-negara Barat dalam menyeimbangkan kebutuhan menekan biaya energi dengan kebijakan terhadap Rusia. Langkah yang bertujuan memperbesar pasokan energi dapat memunculkan perbedaan pandangan mengenai konsekuensi politik dan hubungan antarnegara.
Di luar persoalan energi, Macron turut menyerukan ketenangan di tengah demonstrasi pelajar di Prancis. Ia menegaskan dukungannya terhadap pemerintah dan aparat keamanan, sembari mengingatkan pentingnya menjaga hak warga untuk menyampaikan pendapat.
“Saya menyerukan ketenangan dan rasa hormat untuk menjaga hak ini,” katanya, merujuk pada hak untuk berdemonstrasi.
Macron menegaskan bahwa hak untuk berdemonstrasi dan menyampaikan pendapat dijamin konstitusi serta dihormati sepenuhnya. Namun, menurut dia, hak tersebut harus disertai kewajiban untuk menghormati orang lain dan properti.
“Tidak boleh ada penghinaan maupun vandalisme,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan ketertiban umum. Macron menginginkan penyampaian aspirasi tetap berlangsung dengan menghormati hak masyarakat lainnya.
Macron juga mendesak kemajuan dalam pembahasan sumber pendapatan baru bagi anggaran Uni Eropa (UE). Ia memperingatkan agar usulan pemangkasan lebih lanjut terhadap Dana Daya Saing Eropa tidak diteruskan.
“Pesan kami adalah berhenti mengajukan proposal baru yang berujung pada pemangkasan. Sekarang kita harus membahas sumber daya sendiri. Eropa membutuhkan sumber pendapatan baru,” kata Macron.
Menurut Macron, proposal pemangkasan tersebut akan mengurangi paket pendanaan baru sebesar 30 miliar euro atau hampir USD34,8 miliar.
“Kita sudah melakukan banyak pemangkasan. Pada kenyataannya, paket negosiasi yang sedang kita bahas saat ini telah secara signifikan mengurangi fleksibilitas Komisi Eropa dan merugikan Dana Daya Saing,” ujarnya.
Meski demikian, Macron meyakini kesepakatan dapat dicapai sebelum akhir tahun. Ia menilai fokus pembahasan seharusnya diarahkan pada pencarian sumber pendapatan baru, bukan kembali mengurangi alokasi anggaran yang telah direncanakan.
Persoalan anggaran tersebut menjadi bagian dari perdebatan mengenai kemampuan UE membiayai berbagai prioritas bersama di tengah kebutuhan pendanaan yang terus berkembang.
Dalam pertemuan yang sama, Macron menyampaikan solidaritas Prancis kepada Spanyol terkait situasi di Ceuta, wilayah eksklave Spanyol di Afrika Utara yang mengalami penyeberangan ribuan migran dari Maroko.
Ia menggambarkan peristiwa itu sebagai “serangan yang tidak diragukan lagi berasal dari luar dan bersifat multipel.”
Macron mengatakan peristiwa tersebut menegaskan pentingnya solidaritas Eropa. Ia mengaku terkejut karena sejumlah negara Eropa tidak menunjukkan dukungan kepada Spanyol, meskipun negara-negara tersebut pernah memperoleh solidaritas dalam situasi serupa.
Rangkaian pernyataan Macron memperlihatkan sejumlah tantangan yang dihadapi Eropa, mulai dari kebijakan energi dan perbedaan pendekatan terhadap Rusia hingga pendanaan bersama serta persoalan migrasi. Macron berharap negara-negara Eropa dapat memperkuat koordinasi agar keputusan ekonomi dan politik yang diambil memberikan hasil nyata sekaligus menjaga solidaritas antarnegara. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan