PTAM Intan Banjar dan BPAM Banjarbakula mengolah air dari Irigasi Riam Kanan dengan kapasitas gabungan 300 liter per detik untuk menjaga pasokan pelanggan Banjarbaru dan Martapura setelah kebocoran pipa transmisi di Mandikapau.
BANJARBARU – Pasokan air bersih bagi pelanggan di Banjarbaru dan Martapura diupayakan tetap terjaga setelah kebocoran pipa transmisi air baku di kawasan Sei Landas, Desa Mandikapau, Kabupaten Banjar. PT Air Minum (PTAM) Intan Banjar bersama Balai Pengelolaan Air Minum (BPAM) Banjarbakula mengoptimalkan pemanfaatan air dari jaringan Irigasi Riam Kanan dengan kapasitas produksi gabungan mencapai 300 liter per detik.
Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi dampak gangguan pasokan dari jaringan transmisi utama. Kedua instansi berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III Banjarmasin guna memperoleh izin pemanfaatan air irigasi sebagai sumber air baku alternatif.
Humas PTAM Intan Banjar, Mahyuni, mengatakan pengolahan air dari sumber alternatif tersebut mulai dilakukan pada Sabtu (10/10/2026) sekitar pukul 17.00 WITA. Air hasil pengolahan kemudian dialirkan ke reservoir sebelum didistribusikan kepada pelanggan.
“Sejak pukul 17.00 WITA, kami bersama BPAM Banjarbakula sudah mulai mengolah air baku dari Irigasi Riam Kanan. Saat ini air hasil pengolahan sudah masuk ke reservoir dan selanjutnya akan disalurkan kepada pelanggan,” ujar Mahyuni di Banjarbaru, Senin (12/10/2026), sebagaimana diberitakan Media Center Kalimantan Selatan.
Meski air olahan telah tersedia di reservoir, pelanggan belum dapat menikmati distribusi secara normal dalam waktu bersamaan. Pemulihan tekanan jaringan membutuhkan waktu agar air dapat menjangkau seluruh wilayah pelayanan, terutama daerah yang berada jauh dari pusat distribusi.
“Air sudah masuk ke reservoir, tetapi tekanan jaringan harus dipulihkan terlebih dahulu. Jadi, distribusi dilakukan bertahap dan tidak bisa langsung menjangkau seluruh pelanggan secara bersamaan,” jelasnya.
Mahyuni menegaskan, koordinasi dengan BWS Kalimantan III menjadi faktor penting dalam memastikan ketersediaan sumber air alternatif. Pemanfaatan air dari jaringan irigasi memerlukan persetujuan instansi yang berwenang dalam pengelolaan sumber daya air.
Manajemen PTAM Intan Banjar juga menyampaikan apresiasi kepada BWS Kalimantan III atas dukungan dan kerja sama dalam penanganan gangguan tersebut. Kolaborasi lintas instansi dinilai membantu menjaga kesinambungan pelayanan air bersih ketika pasokan dari jaringan utama mengalami kendala.
“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada BWS Kalimantan III atas dukungan dan koordinasi yang terjalin. Sinergi ini sangat membantu upaya kami bersama BPAM Banjarbakula untuk menjaga pelayanan air bersih kepada masyarakat di tengah gangguan yang terjadi,” ungkap Mahyuni.
Gangguan serupa bukan kali pertama terjadi di kawasan Mandikapau. Kebocoran pipa transmisi Banjarbakula juga pernah terjadi pada April dan September 2024. Pada kedua kejadian tersebut, pemanfaatan air baku dari Irigasi Riam Kanan menjadi salah satu alternatif untuk membantu mempertahankan pelayanan selama perbaikan berlangsung.
Pengalaman itu menjadi dasar bagi manajemen untuk memperkuat koordinasi dengan instansi terkait, mengoptimalkan sumber air alternatif, dan mempercepat langkah penanganan ketika infrastruktur pemasok air baku mengalami gangguan.
Mahyuni menegaskan, meskipun kebocoran terjadi pada infrastruktur pemasok air baku di luar jaringan distribusi PTAM Intan Banjar, perusahaan tetap berupaya meminimalkan dampak terhadap pelanggan. Pemulihan tekanan dan penyaluran air secara bertahap diharapkan dapat membantu mengembalikan pelayanan secara bertahap hingga kondisi jaringan kembali normal.
“Prinsip kami, pelayanan kepada masyarakat harus tetap diupayakan semaksimal mungkin. Karena itu, koordinasi dengan BPAM Banjarbakula dan BWS Kalimantan III terus dilakukan agar dampak gangguan dapat ditekan dan distribusi air bersih bisa segera pulih,” tegasnya. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan