Kematian seorang teknisi laboratorium di Irkutsk memicu pengawasan medis terhadap hampir 200 orang, sementara Rusia masih menyelidiki penyebab penyakit dan Amerika Serikat ikut memantau perkembangan kasus.
MOSKOW – Dugaan kematian akibat pes pneumonik di wilayah Irkutsk, Siberia, Rusia, mendorong perluasan pengawasan medis terhadap hampir 200 orang. Kasus tersebut menjadi perhatian setelah seorang teknisi laboratorium berusia 28 tahun dilaporkan meninggal dunia, sementara penyebab kematiannya masih dalam penyelidikan dan belum dikonfirmasi sebagai pes pneumonik.
Seorang pejabat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan pihaknya telah menerima laporan mengenai kasus fatal yang diduga berkaitan dengan pes pneumonik di Oblast Irkutsk. Pemerintah Amerika Serikat juga memantau perkembangan kasus tersebut bersama Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) serta mitra antarlembaga lainnya.
“Kami mengetahui adanya laporan mengenai kasus fatal dugaan pes pneumonik di Oblast Irkutsk, Rusia. Kami memantau situasi ini dengan cermat bersama CDC [Centers for Disease Control and Prevention] dan mitra antarlembaga kami lainnya,” ujar seorang pejabat Departemen Luar Negeri kepada Al Jazeera.
Pejabat tersebut menekankan bahwa informasi mengenai kasus itu masih terbatas dan belum seluruhnya terverifikasi. Karena itu, otoritas Rusia didorong untuk segera memberikan informasi yang akurat dan transparan kepada publik internasional.
“Banyak rincian yang belum terkonfirmasi. Kami mendorong pihak berwenang Rusia untuk berbagi informasi yang akurat secara cepat dan terbuka,” kata pejabat tersebut.
Sebagaimana diberitakan Sindonews, Senin, (05/10/2026), Gubernur Buryatia Alexei Tsydenov sebelumnya menyampaikan melalui kanal Telegram pada 3 Oktober bahwa seorang perempuan di wilayah tetangga, Irkutsk, meninggal dunia dan diduga berkaitan dengan wabah pes.
Sementara itu, kantor berita resmi Rusia, TASS, melaporkan bahwa badan pengawas konsumen Rusia, Layanan Federal untuk Pengawasan Perlindungan Hak Konsumen dan Kesejahteraan Manusia (Federal Service for Surveillance on Consumer Rights Protection and Human Wellbeing/Rospotrebnadzor), menyatakan seorang pegawai Institut Penelitian Anti-Wabah Irkutsk di wilayah Siberia dan Timur Jauh didiagnosis mengalami “pneumonia dengan etiologi yang tidak diketahui”.
Rospotrebnadzor juga memperluas pengujian terhadap sampel pasien tersebut. Hasil pemeriksaan awal tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan aktivitas pekerjaan pasien.
Pes pneumonik merupakan bentuk pes yang disebabkan bakteri Yersinia pestis. Bakteri tersebut umumnya ditemukan pada mamalia kecil dan kutu yang hidup pada hewan tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut penyakit pes sebagai penyakit yang dapat menular dan berpotensi fatal apabila tidak ditangani sejak dini.
Media setempat mengidentifikasi perempuan yang meninggal itu sebagai Darya Shipilova, teknisi laboratorium berusia 28 tahun. Di tengah belum pastinya penyebab kematian, pihak berwenang di Irkutsk dilaporkan telah menempatkan hampir 200 orang dalam pengawasan medis sebagai langkah pemantauan dan pencegahan terhadap kemungkinan penyebaran penyakit. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan