Transformasi Digital Sekolah di Berau, Guru dan Kepemimpinan Jadi Kunci

Empat mahasiswa program doktor Universitas Ahmad Dahlan memaparkan penelitian tentang kepemimpinan sekolah, kompetensi guru, literasi digital, dan integrasi kearifan lokal untuk mendorong transformasi pembelajaran di Berau.

BERAU – Transformasi pendidikan digital di Kabupaten Berau tidak cukup dilakukan dengan menyediakan perangkat teknologi, tetapi membutuhkan kepemimpinan sekolah yang adaptif, kesiapan guru, penguatan literasi digital, serta pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif. Temuan tersebut mengemuka dalam diseminasi hasil penelitian empat mahasiswa program doktor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta di SMAS Muhammadiyah Tanjung Redeb, Rabu (14/10/2026).

Forum yang dimulai sekitar pukul 15.30 Waktu Indonesia Tengah (WITA) itu mengangkat tema “Transformasi Pendidikan di Era Digital: Sinergi Teknologi, Kepemimpinan, Literasi, dan Pembelajaran Berpusat pada Siswa”. Kegiatan tersebut diikuti guru dari sejumlah sekolah di Berau untuk membahas penerapan teknologi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Salah satu penelitian yang dipaparkan Julita Lindriany menyoroti peran kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam mendorong penggunaan teknologi di lingkungan pendidikan. Penelitian itu menunjukkan bahwa keberhasilan digitalisasi sekolah berkaitan dengan kemampuan pemimpin membangun budaya kolaborasi, menyiapkan guru, dan memberikan pendampingan secara berkelanjutan.

“Transformasi digital sekolah bukan hanya soal perangkat, tetapi juga bagaimana kepemimpinan mampu menggerakkan guru untuk beradaptasi dan berinovasi dalam pembelajaran,” ujarnya.

Penelitian Julita mengidentifikasi empat dimensi kepemimpinan transformasional, yakni pengaruh ideal, motivasi inspirasional, stimulasi intelektual, dan pertimbangan individual. Keempat dimensi tersebut menjadi aspek penting dalam mendorong guru beradaptasi dengan perubahan metode pembelajaran.

Aspek kesiapan pendidik juga menjadi perhatian dalam penelitian yang dipaparkan Iim mengenai penerimaan dan penggunaan teknologi dalam pembelajaran berpusat pada siswa atau Student-Centered Learning (SCL) di sekolah menengah kejuruan (SMK) di Berau.

“Teknologi menjadi bermakna ketika diterima guru, mendapat dukungan dari sekolah, dan diterapkan dalam pedagogi yang berpusat pada siswa,” ujarnya.

Dalam penelitian tersebut, penggunaan aplikasi Canva, video, dan layar Liquid Crystal Display (LCD), serta penerapan model Project Based Learning (PjBL), Problem Based Learning (PBL), dan blended learning dinilai dapat mendukung proses pembelajaran yang lebih interaktif.

Pendekatan itu berpotensi mendorong motivasi belajar, kemandirian, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, hingga kesiapan kerja siswa. Namun, pemanfaatannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran dan dukungan yang tersedia di sekolah.

Sementara itu, Datu Muhammad Nasaruddin mengangkat pentingnya membangun budaya literasi digital secara berkelanjutan melalui pendekatan pendidikan transformatif di sekolah menengah atas (SMA) di Berau.

“Literasi digital tidak cukup hanya dengan bisa menggunakan teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi dimanfaatkan secara kritis, etis, dan produktif,” ujarnya.

Menurut penelitian tersebut, literasi digital perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum dan budaya sekolah agar tidak berhenti pada kemampuan teknis menggunakan perangkat. Siswa juga perlu dibekali kemampuan menilai informasi, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta memanfaatkannya untuk memperkuat proses berpikir dan keterlibatan dalam pembelajaran.

Dimensi budaya lokal turut menjadi perhatian dalam penelitian Dinar Pratama mengenai transformasi pembelajaran puisi Bahasa Indonesia melalui integrasi teknologi digital dan kearifan lokal di SMA negeri di Berau.

“Teknologi bukan hanya menjadi alat bantu pembelajaran, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar, produksi, ekspresi, kolaborasi, komunikasi, dan publikasi karya,” ujarnya.

Dinar menjelaskan, kearifan lokal Berau dapat menjadi sumber inspirasi dalam pembelajaran puisi sehingga materi lebih dekat dengan pengalaman dan lingkungan siswa. Perpaduan teknologi digital dengan budaya daerah juga berpotensi memperkuat apresiasi terhadap sastra sekaligus memperkenalkan identitas lokal melalui karya kreatif.

Kegiatan diseminasi tersebut diikuti 18 guru dari sejumlah sekolah. Peserta terdiri atas 10 guru SMAS Muhammadiyah Tanjung Redeb, masing-masing satu guru dari SMAN 1 Berau dan SMAN 4 Berau, dua guru dari SMAN 7 Berau, dua guru dari SMAS Integral Hidayatullah, serta dua guru dari SMK Muhammadiyah.

Beragam hasil penelitian itu memperlihatkan bahwa transformasi pendidikan digital memerlukan pendekatan menyeluruh yang menghubungkan kepemimpinan sekolah, kompetensi pendidik, literasi digital, kreativitas, dan keterlibatan siswa. Penguatan aspek-aspek tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi sekolah di Berau untuk mengembangkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan kebutuhan siswa dan kearifan lokal. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *