601 Kecelakaan Kapal Sepanjang 2026, DPR Desak Perbaikan Sertifikasi

Catatan 601 operasi pencarian dan pertolongan akibat kecelakaan kapal hingga pertengahan Agustus 2026 mendorong DPR mendesak evaluasi sertifikasi kelaikan dan pengawasan teknis armada pelayaran.

JAKARTA – Evaluasi sertifikasi kelaikan kapal dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menekan angka kecelakaan transportasi laut di Indonesia. Wakil Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Syaiful Huda mendesak perbaikan sistem sertifikasi menyusul kebakaran Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Batumandi di alur masuk Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, Selasa (20/10/2026).

Desakan tersebut muncul di tengah catatan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) yang menangani 601 operasi pencarian dan pertolongan terkait kecelakaan kapal sepanjang Januari hingga 15 Agustus 2026. Rentetan kejadian itu memperkuat urgensi evaluasi keselamatan pelayaran, termasuk pemeriksaan teknis sebelum kapal memperoleh izin beroperasi.

“Kami memahami bahwa sertifikasi kelaikan kapal hanya salah satu masalah dari banyak pemicu kecelakaan kapal di Indonesia, tapi ini merupakan hulu masalah yang memang harus diperbaiki di samping masalah lain agar darurat pelayaran nasional tidak terus berlarut,” ujar Huda dalam keterangannya, Rabu (21/10/2026), sebagaimana diberitakan Kompas, Kamis (22/10/2026).

Huda menilai, kecelakaan kapal tidak cukup dijelaskan hanya melalui faktor cuaca. Menurut dia, sistem penilaian kelaikan kapal perlu mendapat perhatian, terutama untuk memastikan kondisi teknis armada yang diizinkan berlayar benar-benar memenuhi persyaratan keselamatan.

Ia mencontohkan KM Virgo Transport 8 yang disebut telah berusia 39 tahun ketika mengalami kecelakaan. Menurut Huda, kapal berusia tua yang masih mengantongi sertifikat kelaikan dan diizinkan menempuh perjalanan jauh menjadi alasan untuk mengevaluasi ketepatan proses pemeriksaan kapal.

Sorotan juga diarahkan kepada Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), yang berkaitan dengan aspek klasifikasi dan pemeriksaan teknis kapal. Huda menekankan pentingnya memastikan kondisi struktur kapal, mesin, instalasi kelistrikan, serta perlengkapan keselamatan memenuhi ketentuan yang berlaku.

“Banyak kasus kecelakaan kapal yang dipicu aspek kelayakan teknis mulai dari struktur kapal, permesinan, kelistrikan hingga perlengkapan keselamatan (safety equipment) yang menjadi tanggung jawab BKI. Ini salah satu masalah struktural yang harus diselesaikan,” tegas Huda.

Data Basarnas memperlihatkan bahwa kecelakaan pelayaran sepanjang 2026 memiliki beragam penyebab dan bentuk kejadian. Dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR pada 19 Agustus 2026, Kepala Basarnas Syafi’i menyampaikan catatan operasi pencarian dan pertolongan selama periode Januari hingga 15 Agustus tahun ini.

“Berdasarkan hasil operasi yang kami laksanakan, terhitung mulai bulan Januari sampai 15 Agustus 2026, kami mencatat ada 601 kali operasi SAR (search and rescue) yang dilaksanakan,” ujar Syafi’i.

Dari keseluruhan operasi tersebut, kejadian awak kapal atau penumpang jatuh ke laut (man overboard) menjadi kategori terbanyak dengan 178 kasus. Berikutnya, kapal mati mesin sebanyak 103 kasus, kapal hilang kontak 92 kasus, kapal tenggelam 63 kasus, dan kapal terbalik 52 kasus.

Selain itu, Basarnas menangani 52 kasus evakuasi medis (medical evacuation), 15 kapal terbakar, 13 kapal kandas, 12 kapal bertubrukan, 12 kapal bocor, enam kapal hanyut, dua kapal mengalami kerusakan konstruksi, serta satu kapal miring.

Secara keseluruhan, 601 operasi tersebut melibatkan 3.607 korban. Sebanyak 3.165 orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, 239 orang meninggal dunia, sedangkan 203 orang lainnya berstatus hilang.

Salah satu kejadian terbaru dalam catatan kecelakaan pelayaran tersebut adalah kebakaran KMP Batumandi saat memasuki jalur penyeberangan Merak pada Selasa (20/10/2026) sore. Kapal itu sedang berlayar dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung, menuju Pelabuhan Merak, Banten.

Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Heru Widodo menyatakan, seluruh 420 penumpang berhasil dievakuasi dengan selamat meskipun sejumlah penumpang mengalami luka-luka.

Berdasarkan keterangan perusahaan, percikan api pertama kali terdeteksi di bagian buritan kapal, tepatnya pada dek atas yang digunakan untuk kendaraan kecil. Api kemudian berhasil dipadamkan pada pukul 21.02 WIB.

Meski seluruh penumpang berhasil dievakuasi, kondisi 89 kendaraan yang berada di dalam kapal saat kejadian belum diketahui. Bagian badan kapal serta dek pertama dan kedua yang menjadi area parkir kendaraan dilaporkan hangus terbakar. Penyebab kebakaran masih dalam pemeriksaan pihak berwenang.

Rangkaian kejadian tersebut menempatkan evaluasi keselamatan pelayaran sebagai persoalan yang perlu ditangani secara menyeluruh. Perbaikan sertifikasi, pengawasan kondisi teknis kapal, serta pemenuhan perlengkapan keselamatan diharapkan dapat berjalan beriringan untuk mengurangi risiko kecelakaan dan melindungi penumpang maupun awak kapal. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *