Pemkot Bontang menyosialisasikan Perwali Nomor 22 Tahun 2026 untuk memperkuat pencegahan penyakit melalui keterlibatan perangkat daerah, keluarga, fasilitas kesehatan, organisasi masyarakat, dan sekolah.
BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mendorong seluruh perangkat daerah dan unsur masyarakat terlibat dalam upaya pencegahan penyakit melalui penerapan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Langkah ini diperkuat dengan Peraturan Wali Kota (Perwali) Bontang Nomor 22 Tahun 2026 yang menjadi pedoman pelaksanaan program kesehatan secara terpadu, mulai dari lingkungan pemerintahan hingga keluarga dan sekolah.
Kebijakan tersebut disosialisasikan melalui kegiatan di Auditorium 3D Kota Bontang, Jumat (06/11/2026). Kegiatan dibuka Pelaksana Tugas (Plt.) Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Much. Cholis Edy Prabowo, yang membacakan sambutan tertulis Wali Kota Bontang.
Dalam sambutan tersebut ditegaskan bahwa pembangunan kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan. Upaya promotif dan preventif, perubahan perilaku, serta pembiasaan pola hidup sehat perlu diperkuat agar masyarakat dapat menjaga kesehatannya sejak dini.
GERMAS juga ditekankan bukan hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan (Dinkes), melainkan gerakan bersama yang membutuhkan dukungan seluruh sektor. Karena itu, Perwali Nomor 22 Tahun 2026 disiapkan sebagai landasan agar pelaksanaannya lebih terencana, terarah, terpadu, dan berkelanjutan.
Regulasi yang ditetapkan pada 2 Oktober 2026 tersebut mencakup tujuh ruang lingkup utama, yakni peningkatan aktivitas fisik, penerapan perilaku hidup sehat, penyediaan pangan aman dan sehat serta perbaikan gizi, pencegahan dan deteksi dini penyakit, peningkatan kualitas lingkungan, edukasi hidup sehat, serta pembinaan kesehatan tradisional.
Kepala Dinkes Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut diperlukan karena masyarakat menghadapi beban ganda penyakit. Penyakit menular masih menjadi persoalan, sementara penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan stroke terus meningkat.
Kondisi itu turut berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari, antara lain kurangnya aktivitas fisik, rendahnya konsumsi buah dan sayur, kebiasaan merokok, serta tidak rutin melakukan pemeriksaan kesehatan. Oleh sebab itu, pencegahan perlu dilakukan melalui perubahan perilaku dan keterlibatan berbagai pihak, bukan hanya melalui pelayanan pengobatan.
Perwali GERMAS juga mengatur integrasi program ke dalam perencanaan dan penganggaran perangkat daerah. Pelaksanaannya dilengkapi mekanisme pemantauan, evaluasi, dan pelaporan, termasuk pembentukan Forum GERMAS Daerah yang diketuai Sekretaris Daerah (Sekda).
Melalui sosialisasi tersebut, Pemkot Bontang mendorong setiap perangkat daerah memasukkan kegiatan GERMAS ke dalam program kerja sesuai tugas dan fungsinya. Koordinasi lintas sektor, penetapan indikator dan target yang terukur, serta evaluasi berkala diperlukan untuk memastikan kebijakan tidak berhenti pada dokumen regulasi, tetapi menghasilkan perubahan nyata bagi masyarakat.
Kegiatan menghadirkan tiga narasumber, yaitu Edy Gunawan dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Syahruddin dari Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Bontang, serta Palupi Setyo dari Dinkes Bontang. Materi yang dibahas mencakup substansi Perwali GERMAS, pengintegrasian program dalam perencanaan dan penganggaran daerah, serta penguatan peran lintas sektor.
Pada sesi pagi, kegiatan diikuti 54 undangan dari unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), asisten dan staf ahli, kepala perangkat daerah terkait, camat, lurah, pimpinan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), serta organisasi kemasyarakatan.
Sementara itu, sesi siang dijadwalkan membahas kebijakan GERMAS, Sekolah Sehat, dan stratifikasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dengan melibatkan perwakilan 52 satuan pendidikan se-Bontang. Pelibatan sekolah diharapkan memperluas pembiasaan perilaku hidup sehat sejak usia dini.
Penerapan GERMAS nantinya diharapkan terlihat melalui kegiatan sederhana dan berkelanjutan, seperti senam peregangan, penyediaan buah dan sayur, penerapan kawasan tanpa rokok, pemeriksaan kesehatan rutin, serta penguatan fungsi UKS. Dengan keterlibatan pemerintah, keluarga, tempat kerja, dan satuan pendidikan, kebijakan tersebut diharapkan mampu membangun lingkungan yang mendukung masyarakat Bontang lebih sehat dan produktif. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan