Beda Versi TNI dan Warga, Penurunan Bendera Bulan Bintang Berujung Maut

Insiden penurunan Bendera Bulan Bintang di Pidie Jaya mengakibatkan satu warga meninggal dan 13 lainnya terluka, sementara TNI AD dan seorang warga menyampaikan keterangan berbeda mengenai pemicu bentrokan serta arah tembakan.

ACEH – Perbedaan keterangan antara Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dan warga mewarnai peristiwa penurunan Bendera Bulan Bintang yang berujung penembakan di wilayah Pidie Jaya, Aceh. Insiden saat kegiatan peringatan Maulid Nabi tersebut mengakibatkan 14 warga menjadi korban, terdiri atas satu orang meninggal dunia dan 13 lainnya mengalami luka-luka.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD Donny Pramono menyampaikan, sebelum penertiban dilakukan, personel TNI dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) telah berkomunikasi dengan panitia penyelenggara agar Bendera Bulan Bintang tidak dikibarkan. Namun, menurutnya, mediasi tersebut tidak menghasilkan kesepakatan karena panitia tetap ingin mengibarkan bendera.

Donny menjelaskan, kegiatan Maulid Nabi yang semula direncanakan berlangsung di Desa Udeung Poroh kemudian dipindahkan ke Makam Abdullah Syafi’i, Cubo, Bandar Baru, Pidie Jaya.

Dalam proses penertiban di Desa Pulo Keunari, situasi disebut meningkat setelah terjadi pelemparan batu dan kayu ke arah personel TNI. Ia juga mengklaim sejumlah orang membawa senjata tajam.

“Dalam proses penertiban di Desa Pulo Keunari, situasi meningkat dan terjadi aksi pelemparan batu serta kayu ke arah personel TNI. Sejumlah orang juga terlihat membawa senjata tajam,” klaim Donny dalam keterangan tertulis, Kamis (05/11/2026).

Menurut Donny, personel kemudian berupaya membubarkan massa menggunakan perlengkapan pengendalian huru-hara. Ia menyebut tindakan massa yang dinilai anarkis membuat keselamatan personel terancam sehingga aparat meningkatkan upaya pengamanan secara bertahap, mulai dari tembakan peringatan menggunakan amunisi hampa hingga amunisi karet.

“Setelah massa membubarkan diri, personel TNI menurunkan Bendera Bulan Bintang di lokasi kegiatan,” jelasnya.

“Dalam peristiwa tersebut, tercatat 14 warga menjadi korban, yaitu satu orang meninggal dunia dan 13 orang mengalami luka-luka,” imbuhnya.

Korban meninggal dunia diketahui bernama Abzalul Riza, warga Desa Dayah Gampong Baro, Kecamatan Tiro, Pidie. Donny menyebut jenazah korban telah dimakamkan pada Kamis (05/11/2026) pukul 01.00 Waktu Indonesia Barat (WIB).

“TNI AD menyampaikan keprihatinan dan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya warga dalam peristiwa tersebut serta berharap seluruh korban luka segera pulih,” katanya.

Namun, keterangan berbeda disampaikan seorang warga Pulo Keunari bernama Amran. Berdasarkan informasi yang diterima CNN Indonesia, warga setempat diduga sempat mengadang personel TNI yang hendak menurunkan bendera dan berusaha mencegah aparat memasuki pekarangan musala.

Amran menyebut tembakan aparat tidak lagi diarahkan ke udara, melainkan ke arah kerumunan warga yang mengadang personel.

“Cukup jelas tembakan itu diarahkan ke kami ada banyak korban luka-luka akibat kena tembak dan ada yang meninggal,” kata Amran saat dikonfirmasi.

Perbedaan keterangan tersebut memperlihatkan adanya dua versi mengenai situasi di lapangan, khususnya terkait pemicu bentrokan dan arah tembakan. TNI AD menyatakan penggunaan kekuatan dilakukan secara bertahap karena personel menghadapi ancaman, sedangkan warga menyebut tembakan diarahkan ke kerumunan.

Sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Kamis (05/11/2026), insiden ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, tetapi juga menyisakan pertanyaan mengenai rangkaian kejadian saat penertiban berlangsung. Penelusuran lebih lanjut terhadap peristiwa tersebut diperlukan untuk memperjelas kronologi, memastikan fakta di lapangan, serta memberikan kejelasan dan pertanggungjawaban atas jatuhnya korban. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *