Wamensos Agus Jabo Priyono dan Husein Ja’far Al Hadar menekankan pentingnya empati, keteladanan, serta lingkungan bebas kekerasan dalam mendampingi siswa Sekolah Rakyat.
JAWA BARAT – Pendamping siswa Sekolah Rakyat diminta memahami pengalaman hidup dan kondisi psikologis anak sebelum menilai perilaku mereka. Pendekatan yang mengutamakan empati, kasih sayang, dan keteladanan dinilai penting untuk mencegah kekerasan serta membantu siswa dari keluarga miskin membangun kepercayaan diri dan kemandirian.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono bersama pendakwah dan kreator konten keislaman Husein Ja’far Al Hadar dalam kegiatan Penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) Sekolah Rakyat di Harris Hotel and Conventions Cibinong City Mall, Kabupaten Bogor (Bogor), Kamis (05/11/2026) malam.
Dalam pembekalan yang diikuti sekitar seribu peserta dari berbagai daerah di Indonesia itu, Husein Ja’far mengingatkan bahwa perilaku negatif siswa tidak selalu mencerminkan kenakalan. Sebagian anak mungkin membawa pengalaman traumatis dan persoalan keluarga yang memengaruhi sikap mereka.
“Kenakalan mereka itu bukan muncul dari kebencian mereka, tetapi bisa muncul dari trauma,” ujarnya dalam keterangan tertulis, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Jumat, (06/11/2026).
Ia meminta para pendamping membangun komunikasi secara rutin agar dapat memahami kondisi dan pengalaman siswa. Dengan mengenali latar belakang anak, pendamping diharapkan tidak mudah menghakimi maupun meluapkan kemarahan ketika menghadapi perilaku yang dianggap bermasalah.
“Sering-seringlah ngobrol bersama mereka, sampai anda bisa merasakan pahit getir posisi mereka. Agar anda tidak gampang marah kepada mereka,” pesannya.
Husein Ja’far juga menekankan bahwa tugas mendampingi siswa Sekolah Rakyat tidak semata-mata pekerjaan, tetapi merupakan pengabdian kemanusiaan yang harus dijalankan dengan ketulusan dan profesionalitas. Ia mengingatkan bahwa pengelolaan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin menyangkut masa depan mereka.
Mengutip Surah Al-Ma’un ayat 1 dan 2, ia mengingatkan bahwa pengelolaan Sekolah Rakyat yang tidak profesional dapat berdampak pada nasib anak-anak yang membutuhkan dukungan.
“Tahukah kamu pendusta agama? mereka yang bermain dengan nasib orang miskin. Mereka yang tidak profesional dalam mengelola Sekolah Rakyat (berarti) itulah pendusta agama. Sehingga anda sekarang mau lompat ke neraka atau ke surga semua tergantung bagaimana memposisikan niat di Sekolah Rakyat,” paparnya.
Selain membangun karakter, ia menegaskan sekolah harus menjadi ruang aman bagi seluruh siswa. Perundungan, pelecehan, dan tindakan kekerasan lainnya tidak boleh ditoleransi karena dapat menghambat perkembangan anak.
“Sekolah yang baik adalah sekolah yang tidak pernah memberikan toleransi terhadap bullying, pelecehan dan terhadap segala hal-hal buruk yang tidak seharusnya ada di sekolah. Itu kuncinya,” kata dia.
Sementara itu, Agus Jabo meminta seluruh unsur Sekolah Rakyat menerapkan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara melalui prinsip momong, among, dan ngemong. Ketiga prinsip tersebut menekankan pengasuhan dengan kasih sayang, pendidikan melalui keteladanan, serta pendampingan untuk mengembangkan potensi anak.
“Momong itu mengasuh dengan kasih sayang. Among mendidik melalui keteladanan. Ngemong membimbing dan mengembangkan potensi anak,” tuturnya.
Agus Jabo menjelaskan Sekolah Rakyat tidak hanya berorientasi pada pendidikan formal, tetapi juga pembentukan karakter dan rehabilitasi sosial. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025.
Menurutnya, siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang menghadapi berbagai keterbatasan. Persoalan yang mereka alami tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga dapat berupa minimnya perhatian dan kasih sayang, rendahnya rasa percaya diri, hingga hilangnya harapan.
Kondisi tersebut membuat pendampingan tidak cukup dilakukan di ruang kelas. Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, wali asuh, wali asrama, hingga satuan pengamanan perlu mengambil peran sebagai figur panutan dalam keseharian siswa.
“Mereka tidak punya figur karena di rumah, orang tuanya sibuk mempertahankan kehidupan ekonomi dan anak tidak dapat perhatian. Mereka butuh idola di Sekolah Rakyat, makanya harus hati-hati sekali berperilaku di depan anak di Sekolah Rakyat,” kata Agus Jabo.
Ia menambahkan, setiap unsur sekolah memiliki tanggung jawab berbeda dalam mendukung tumbuh kembang siswa. Guru berperan mengembangkan pengetahuan sekaligus memberikan keteladanan, wali asrama membangun disiplin dan kemandirian, sedangkan wali asuh memberikan perhatian, pendampingan, dan kasih sayang.
Keberhasilan Sekolah Rakyat, lanjut Agus Jabo, tidak semestinya hanya diukur dari prestasi akademik. Pembentukan karakter dan keterampilan juga menjadi bagian penting agar siswa mampu hidup mandiri, berdaya, serta membantu keluarganya keluar dari kemiskinan.
“Sehingga kemiskinan yang diresahkan oleh Bapak Presiden selama ini, melalui Sekolah Rakyat bisa dientaskan dan kemiskinan ekstrem bisa diselesaikan,” pungkas dia.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Sosial (Kemensos) Muhammad Hasan Chabibie, Staf Ahli Menteri sekaligus Pelaksana Tugas (Plt) Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Afrizon Tanjung, serta sejumlah tenaga ahli dan pejabat Kemensos.
Para peserta berasal dari unsur guru bimbingan konseling, wali asuh, wali asrama, satuan pengamanan, dan operator Sekolah Rakyat. Melalui penguatan kapasitas tersebut, pemerintah berharap seluruh pendamping mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, manusiawi, dan mendukung anak-anak mengembangkan potensi mereka agar memiliki masa depan yang lebih baik. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan