Kongres Paraguay menolak pengunduran diri Santiago Pena dan melanjutkan proses pemakzulan menyusul dugaan kelalaian serta konflik kepentingan dalam kebangkrutan Ueno Bank yang berdampak pada jutaan nasabah.
PARAGUAY – Kongres Paraguay menolak pengunduran diri Presiden Santiago Pena dan tetap melanjutkan proses pemakzulan terhadap dirinya. Keputusan tersebut membuka jalan bagi pemeriksaan dugaan kelalaian dan upaya menutupi kebangkrutan Ueno Bank, yang berdampak pada jutaan nasabah serta pengelolaan dana publik.
Pena mengajukan pengunduran diri pada Kamis (05/11/2026), di tengah tekanan publik setelah Ueno Bank dinyatakan tidak lagi memenuhi ketentuan rasio solvabilitas. Dalam pidato yang direkam, ia menyebut keputusan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas negara dan mempertahankan lembaga demokrasi.
“Saya melakukan ini dengan mempertimbangkan stabilitas negara kita, perdamaian sosial, dan kebutuhan untuk melestarikan lembaga-lembaga demokrasi kita,” kata Pena, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Jumat, (06/11/2026).
Namun, langkah tersebut tidak menghentikan tekanan politik. Majelis Rendah Kongres memberikan suara 78-0 untuk memakzulkan Pena, sedangkan Senat mulai menjalankan proses pemakzulan dan memanggilnya menghadiri sidang pada Jumat (6/11/2026).
Sidang gabungan Kongres yang membahas pengunduran diri Pena sempat kehilangan kuorum setelah sejumlah anggota parlemen dari Partai Colorado, partai yang menaungi presiden, meninggalkan ruangan. Mereka mengambil langkah tersebut ketika terlihat tidak cukup dukungan untuk menerima pengunduran diri Pena.
Dukungan terhadap pemakzulan juga datang dari mantan presiden sekaligus pemimpin Partai Colorado, Horacio Cartes. Melalui media sosial, ia menyatakan penolakan terhadap dugaan penyalahgunaan dana yang berkaitan dengan krisis bank tersebut.
“Kami tidak akan berpihak pada pencurian dana publik, swasta, dan dana pensiun,” tulis Cartes.
“Kita harus memikirkan rakyat dan nilai-nilai yang kita junjung tinggi di Partai Colorado,” lanjutnya.
Persoalan ini berpotensi membawa konsekuensi hukum bagi Pena. Berdasarkan aturan di Paraguay, mantan presiden umumnya memperoleh status senator seumur hidup setelah meninggalkan jabatan. Status tersebut memberikan kekebalan hukum dari penuntutan, tetapi hak istimewa itu tidak berlaku apabila seorang presiden dinyatakan bersalah dalam persidangan pemakzulan.
Krisis yang menyeret Pena bermula setelah bank sentral Paraguay mengumumkan Ueno Bank tidak lagi memenuhi rasio solvabilitas yang diwajibkan secara hukum. Hasil koreksi pembukuan menunjukkan modal bank tersebut kurang dari setengah batas minimum yang ditetapkan untuk menanggung potensi kerugian.
Sebelum dinyatakan bangkrut, Ueno mengklaim memiliki sekitar tiga juta nasabah dari total penduduk Paraguay yang mencapai 6,5 juta jiwa. Keruntuhan bank itu membuat banyak nasabah kehilangan akses ke rekening, termasuk dana pensiun yang disalurkan melalui lembaga keuangan tersebut.
Bank sentral kemudian memutuskan memindahkan sisa dana Ueno ke lembaga keuangan lain. Namun, kebijakan pengawasan bank sentral turut menjadi sorotan karena dinilai gagal mengawasi operasional Ueno. Kepala Bank Sentral Paraguay, Carlos Carvallo, kemudian mengundurkan diri.
Keterkaitan Pena dengan perusahaan induk Ueno Bank, Grupo Vazquez, juga menjadi perhatian anggota parlemen. Pena sebelumnya memiliki saham di perusahaan tersebut dan mengaku telah menjualnya pada 2025. Meski demikian, sejumlah anggota parlemen masih mempertanyakan kemungkinan konflik kepentingan serta dugaan upaya menutupi kondisi keuangan bank sebelum dinyatakan bangkrut.
Editor Al Jazeera untuk Amerika Latin, Lucia Newman, menyebut Pena menghadapi tuduhan kelalaian dan dugaan keterlibatan dalam upaya menutupi kondisi bank tersebut.
“Dia dituduh setidaknya melakukan kelalaian dan terlibat dalam upaya menutupi fakta bahwa bank tersebut bangkrut,” kata Newman.
Tekanan terhadap Kongres juga datang dari masyarakat. Sejumlah warga berkumpul di luar gedung Kongres untuk mendesak anggota parlemen menolak pengunduran diri Pena agar proses pemakzulan tetap berjalan.
Sebelum mengalami kebangkrutan, Ueno berkembang dari perusahaan khusus menjadi bank berskala menengah. Lembaga keuangan tersebut bahkan mengelola dana publik hampir US$850 juta atau sekitar Rp15,4 triliun.
Jaksa Agung Paraguay telah memerintahkan tiga penyelidikan kriminal terkait kebangkrutan Ueno. Penyelidikan itu akan menelusuri pengawasan terhadap bank serta penempatan dana publik di lembaga keuangan tersebut.
Pena menyatakan bersedia bekerja sama dengan para penyelidik. Ia juga berharap pemerintah dapat menjamin pengembalian dana nasabah dan melindungi uang publik.
“Harapan terbesar saya adalah agar pengembalian dana tersebut dijamin, agar dana jaminan deposito memenuhi tujuannya, dan agar dana publik, serta sumber daya yang menjadi hak seluruh warga Paraguay, dilindungi,” kata Pena.
Apabila proses pemakzulan berakhir dengan pencopotan Pena, Wakil Presiden Pedro Alliana berpeluang mengambil alih jabatan presiden. Sementara itu, belum ada pernyataan resmi dari Ueno Bank terkait kebangkrutannya. Kelanjutan proses politik dan penyelidikan kriminal kini menjadi penentu pertanggungjawaban atas krisis yang memengaruhi nasabah dan dana publik di Paraguay. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan