Korea Utara berencana mengaktifkan pengeras suara propaganda dan menempatkan regu tembak di perbatasan pada akhir Oktober setelah ketegangan dengan Korea Selatan meningkat akibat insiden ranjau dan saling tuding aktivitas militer.
SEOUL – Ketegangan di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan kembali meningkat setelah Pyongyang mengumumkan rencana mengaktifkan pengeras suara propaganda dan menempatkan regu tembak di kawasan perbatasan mulai akhir Oktober 2026. Langkah tersebut disebut sebagai persiapan untuk merespons ancaman keamanan, tetapi berpotensi memperbesar risiko bentrokan militer antara kedua negara.
Rencana itu disampaikan Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, melalui laporan kantor berita Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), Rabu (21/10/2026). Kim menyatakan pasukan Pyongyang akan mengambil tindakan cepat jika menilai Korea Selatan mengancam keamanan wilayahnya.
“Tim-tim pemburu taktis kami mengambil posisi baru, dan di bulan Oktober, pengeras suara untuk perang psikologis melawan Korea Selatan akan beroperasi di sepanjang perbatasan,” kata Kim Yo Jong, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Rabu (21/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Kim mengunjungi sejumlah titik perbatasan bersama Marsekal Angkatan Darat Pa Jong Chon. Dalam kunjungan itu, ia menyebut kawasan perbatasan kedua negara telah diblokade dan pengamanannya diperketat.
Kim juga menuduh Seoul menggunakan pengeras suara untuk menyampaikan peringatan serta melepaskan tembakan di dua lokasi perbatasan. Ia memperingatkan bahwa tindakan yang dianggap membahayakan wilayah atau personel Korea Utara akan dibalas dengan kekuatan militer.
“Jika tembakan peringatan provokatif melampaui tujuan dan mengakibatkan kerugian nyata bagi keselamatan wilayah kita atau tentara kita, pasukan perbatasan kita akan tanpa ampun melenyapkan para preman bersenjata yang telah kehilangan akal sehatnya,” kata Kim Yo Jong.
Peringatan tersebut muncul setelah hubungan kedua Korea kembali memanas pada bulan sebelumnya. Dua prajurit Korea Selatan dilaporkan terluka akibat ledakan ranjau di kawasan perbatasan. Seoul mengecam Pyongyang atas insiden tersebut dan meminta Korea Utara menghentikan seluruh kegiatan militer di wilayah itu.
Ketegangan berlanjut pada Selasa (20/10/2026), ketika pemerintah Korea Selatan menyatakan akan mengambil tindakan tegas terhadap setiap provokasi dari Korea Utara apabila aktivitas militernya terus berlanjut.
Rencana pengoperasian pengeras suara propaganda menambah potensi gesekan di perbatasan yang selama ini menjadi titik sensitif hubungan kedua negara. Penggunaan pengeras suara untuk menyebarkan pesan kepada pihak lawan dapat memperburuk suasana, terutama ketika kedua pihak saling melontarkan tuduhan dan meningkatkan kesiagaan pasukan.
Situasi tersebut membuat pengendalian militer dan komunikasi antarpihak menjadi penting untuk mencegah insiden di perbatasan berkembang menjadi bentrokan yang lebih luas. Hingga informasi tersebut dilaporkan, pernyataan Pyongyang mengenai rencana pengeras suara dan penempatan pasukan belum menunjukkan adanya kesepakatan untuk meredakan ketegangan dengan Seoul. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan