Antiklimaks di Debat Terakhir

JAKARTA – BERHARAP debat pamungkas berlangsung panas, yang terjadi malah banyak membaca di atas kertas. Anies yang pada debat sebelumnya tampil garang, kini berlaku manis dan tak lagi menyerang. Terlebih Prabowo dari Koalisi Indonesia Maju, yang justru banyak setuju dengan program capres 03 dan 01. Sementara Ganjar tampil ambyar, kering dan datar.

Debat kelima atau terakhir bagi para calon presiden (capres) yang akan berkontestasi di pemilihan presiden 14 Februari 2024 ini seakan menjadi anti-klimaks. Capres 01 Anies Rasyid Baswedan, 02 Prabowo Subianto dan 03 Ganjar Pranowo, bermain aman dalam debat yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta Convention Center (JCC), Minggu (04/02/2024) malam.

Prediksi pengamat yang memperkirakan bahwa debat akan berlangsung panas seperti debat capres sebelumnya, nyatanya berakhir antiklimaks. Bahkan tak jarang, para capres memuji program capres lainnya.

“Saya kok harus mengakui bahwa saya banyak sependapat dengan dua (capres yang lain). Berarti keberpihakan kita pada kaum pekerja di luar negeri itu sama, semua benar,” ujar Prabowo saat mengomentari jawaban dari Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo dalam debat tersebut.

Prabowo yang mengenakan kemeja biru telur asin dan berdiri di tengah diapit Anies dan Ganjar nampaknya bisa bernafas lega. Kekhawatiran bahwa ia akan kembali diserang seperti pada debat sebelumnya, benar-benar tak terjadi.

Harus diakui, debat terakhir yang mengambil tema: Kesejahteraan Sosial, Kebudayaan, Pendidikan, Teknologi Informasi, Kesehatan, Ketenagakerjaan, Sumber Daya Manusia, dan Inklusi itu di luar ekspektasi.

 

MAIN AMAN

Banyak pihak yang memprediksi –dan sebenarnya mengharapkan– debat capres terakhir ini adalah klimaks, di mana kritik-kritik pedas dan keras dilayangkan dan bom-bom serangan dilontarkan. Namun yang terjadi adalah debat capres yang anti-klimaks. Baik Anies, Prabowo maupun Ganjar cenderung ‘main aman’ dan normatif.

Debat tersebut lebih banyak didominasi dengan kata ‘setuju’, ‘sepakat’, ‘bagus’ dan ‘meneruskan’. Tidak ada ‘serangan’ berarti. Jikapun ada, sekadar tipis-tipis saja untuk sekadar menjadi pembeda dengan capres yang lain.

“Saya harus mengatakan, substansinya hampir nggak ada di debat sesi kelima tadi. Debat terbuka saya harus katakan antiklimaks. Kalau menurut saya, betul-betul jenuh ya, terlihat masing-masing kandidat ingin menyelesaikan waktu saja,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya saat dihubungi, Senin (05/02/2024).

Senada, Analis politik dan Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Arifki Chaniago menilai, debat Pilpres 2024 terakhir berakhir antiklimaks sebagai debat pamungkas yang ditunggu-tunggu oleh publik.

Menurutnya, debat terakhir cenderung terlihat kalem, kering, dan datar. Meskipun Anies dan Ganjar menyinggung soal isu bantuan sosial (bansos), Arifki menilai tampaknya debat tidak memanas karena tidak terjadi dialog atau debat yang bisa menjadi konten negatif.

“Sepertinya, para capres lebih menjaga konten yang keluar pasca debat. Apalagi pemilihan tinggal beberapa hari lagi,” ujar Arifki, Senin (05/02/2024).

Satu-satunya yang bisa diambil dalam debat terakhir, kapitalisasi terhadap gagasan masing-masing capres. “Tema debat terakhir Pilpres lebih ringan dibandingkan debat sebelumnya. Tetapi, para capres terlihat lebih berhati-hati menjalankan debat,” katanya.

Sementara menurut Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam, meski debat pamungkas dari rangkaian debat Pilpres 2024 ini anti-klimaks namun mengisyaratkan spirit politik rekonsiliasi.

Tidak seperti debat-debat sebelumnya yang sarat dengan intensitas serangan panas, debat kelima ini kata dia, justru menunjukkan sejumlah sikap yang cukup simpatik di antara para kontestan.

“Memang ada serangan terkait politisasi distribusi bansos, isu ketimpangan dan ketidakadilan, serta isu konflik kepentingan. Namun takaran serangannya, tidak sekuat debat-debat sebelumnya,” jelasnya kepada wartawan, Minggu (04/02/2024).

Dikatakannya, debat pamungkas ini seolah memberikan pesan tentang proses pendinginan (cooling down), sehingga politik pecah belah tidak berkembang jelang Pemilu 14 Februari nanti.

KONSISTENSI PESONA PARA CAPRES

Jika merujuk penampilan ketiga calon presiden di debat ke lima itu, secara substansi pesona masing-masing capres masih konsisten. Anies dengan perubahannya, Prabowo dengan keberlanjutannya dan Ganjar dengan kebimbangannya antara perubahan dan keberlanjutan.

Prabowo Subainto yang memperoleh giliran presentasi pertama memaparkan proyek-proyek strategis di bawah payung gagasan Strategi Transformasi Bangsa. Ketua Umum DPP Partai Gerindra ini menekankan pada program makan gratis untuk mengatasi persoalan stunting dan tingginya angka kematian ibu hamil.

Menurut Prabowo, program makan gratis memiliki multiplayer effect, termasuk pertumbuhan ekonomi di angka 1-1,5 persen. Di bidang kesehatan, dia ingin membangun rumah sakit modern di tiap kabupaten/kota dan puskesmas modern di tiap desa serta menambah jumlah fakultas kedokteran untuk meningkatkan jumlah dokter.

Di bidang pendidikan, program populis Prabowo adalah pemberian beasiswa ke luar negeri untuk bidang studi prioritas Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Program-program tersebut terus direpetisi oleh Prabowo untuk merespons pertanyaan dari panelis dan capres lain.

Berbeda dengan Prabowo yang fokus pada program kerja, capres 03 Ganjar Pranowo menyeimbangkan antara program kerja dan kritiknya kepada kekuasaan. Mantan Gubernur Jawa Tengah ini mencanangkan satu desa satu fasilitas kesehatan satu tenaga kesehatan. Di samping itu, program Ganjar berupa fasilitas pendidikan yang baik dan sekolah inklusi.

Capres yang diusung PDI Perjungan dan PPP ini juga menyinggung soal aspirasi buruh untuk me-review Undang-Undang (UU) Cipta Kerja, namun tidak dielaborasi lebih mendalam dalam sesi-sesi berikutnya, baik oleh Ganjar maupun kedua capres yang lain.

Persona Ganjar sebagai sosok yang merakyat tetap melekat. Ia menyebut beberapa nama untuk menyampaikan beberapa isu strategis. Ini menyiratkan bahwa program tersebut merupakan aspirasi dari bawah.

Dia juga memajukan program internet gratis, yang kemudian dibandingkan dengan program makan gratis Prabowo. Sementara kritik keras dari Ganjar terhadap kondisi yang berkembang saat ini adalah soal konflik kepentingan dan menurunnya integritas dan demokrasi.

Bahkan, kader senior PDI Perjuangan ini memungkasi debat dengan closing statement yang membentur dinding-dinding pusat kekuasaan dan oligarki. Dia menutup dengan semangat perlawanan: melawan politik dinasti, kepentingan keluarga dan sepertiga oligarki ekonomi untuk memastikan track demokrasi berjalan dengan baik.

Lebih keras lagi, Ganjar meminjam pernyataan Jokowi dalam debat capres 2019 untuk menyerukan: “jangan pilih pemimpin yang punya potongan diktator dan pelanggar HAM (Hak Asasi Manusia -red).” Jikapun ada kejutan dalam debat terakhir ini, closing statement Ganjar masuk di dalamnya, dan menjadikan dia lebih oposisi ketimbang Anies.

Bagaimana dengan Anies Baswedan? Seperti debat-debat sebelumnya, mantan Gubernur DKI Jakarta ini selalu memotret persoalan-persoalan akut yang ada di republik ini. Mulai dari ketidakadilan dan ketimpangan, penguasaan segelintir orang terhadap perekonomian Indonesia, pengangguran, hingga persoalan jaminan sosial, kesehatan dan pendidikan.

Persoalan-persoalan tersebut dikemas dengan diksi-diksi yang powerfull yang memang khas Anies Baswedan. Diksi-diksi bernas adalah senjatanya, matching dengan setelan jas dan peci hitam yang ia kenakan; menampilkan kesan orang sekolahan.

Capres yang diusung Partai NasDem, PKB dan PKS ini konsisten mengambil jalan yang berseberangan dengan kekuasaan saat ini. “Oposisi berangkat dari persoalan, sementara the ruling candidate berangkat dari capaian,” katanya.

Di tengah gelapnya persoalan berbangsa dan bernegara tersebut, capres yang berpasangan dengan Muhaimin Iskandar ini ingin hadir sebagai pembawa lentera, yang menjadi penerang bangsa agar masyarakatnya hidup sehat, tumbuh cerdas, keluarga sejahtera, menjunjung tinggi etika dan intinya hidup dalam persatuan dengan rasa keadilan.

Begitulah cita-cita Anies, yang menurut dia, juga cita-cita para pendiri republik ini. Untuk mencapai cita-cita itu, dalam debat pamungkas kali ini, Anies memajukan pendirian kementerian kebudayaan, yang juga disetujui oleh capres lain, Prabowo.

Gagasan dan program capres nomor urut satu ini lebih banyak menekankan pada sektor pendidikan. Sederet program ‘konkret’ bisa disebutkan: mulai dari kesejahteraan pendidik dengan penghasilan yang adil, percepatan sertifikasi guru, pengangkatan guru honorer, beasiswa untuk anak guru dan dosen serta tenaga kependidikan, tunjungan dosen dan peneliti berdasarkan kinerja, dan mengurangi beban administrasi dosen.

Sektor pendidikan memang dikuasai betul oleh Anies Baswedan. Ini bisa dipahami karena latar belakang dia sebagai pendidik, mantan rektor perguruan tinggi, hingga mantan menteri pendidikan dan kebudayaan. []

Penulis | Penyunting : Agus P Sarjono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com