Minggu , Agustus 18 2019
Breaking News
Home / Hotnews / Terkuaknya Misteri Pemenggalan Kepala ABG Cantik

Terkuaknya Misteri Pemenggalan Kepala ABG Cantik

 

Tato-Tangan-Kiri

SELASA (4/8/2015) lalu, mungkin jadi hari yang tak terlupakan bagi Edi Yanto (40), seorang warga Kota Bangun yang berprofesi sebagai nelayan. Pagi hari itu, adalah kebiasaannya sehari-hari, mencari ikan. Sekitar pukul 06.00 Wita, di sekitar Jembatan Martadipura yang berada di Desa Liang Ilir, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), ia mengalami peristiwa mengerikan.

Jala yang ia lempar, tak seperti biasa, memperoleh banyak ikan, malah mendapat sesuatu yang berat. Setelah diangkat, justru  bungkusan berbau yang menyembul ke permukaan sungai Mahakam. Sebuah karung plastik berukuran besar terangkat. Berlumuran darah, karung juga mengeluarkan aroma tak sedap. Dalam hati, Edi meyakinkan bahwa itu hanya sampah atau bangkai binatang.

Tapi, kegamangannya terjawab. Dua kaki manusia keluar dari pembungkus membuat Edi bergidik. “Saya yakin, itu mayat,” cerita Edi. Ia lalu menghubungi ketua Rukun Tetangga (RT) setempat. Bersama warga, mereka melaporkan peristiwa tersebut ke Mapolsek Kota Bangun, Kukar.

KotaBangun-2015-evakuasimayattanpakepala2

Tak perlu waktu lama, petugas mendatangi lokasi dan melihat kondisi mayat berada dalam karung. Posisinya makin jelas ketika tali pengikat karung terbuka. Namun,  arus sungai sedang deras. Pengangkatan mayat lebih sukar.

Kapolres Kukar AKBP Handoko melalui Kapolsek Kota Bangun AKP Juwadi menyatakan, sembari mengangkat jenazah, tim gabungan diturunkan. Mereka terdiri dari unit opsnal, pidana umum, serta tim identifikasi Polres Kukar. Ada pula anggota Reskrim Kota Bangun. Sekitar pukul 09.30 Wita kemarin, mayat dibawa ke bibir sungai. Tim Identifikasi Polres Kukar segera mengolah tempat kejadian.

Sejumlah petunjuk didapat. Kaur Inafis Polres Kukar Bripka Dian Heri Wahyudi menemukan benda semacam pemberat. Diduga, alat itu digunakan untuk menenggelamkan jenazah tanpa kepala itu. Petugas memang tak menemukan satu pun identitas yang melekat di diri korban. Namun, beberapa tato tersebar di tubuhnya menjadi petunjuk penting yang lain. Di lengan tangan kanan korban terdapat tato bertulis “Ririn”. Di lengan kiri terdapat tato abstrak. Di tato yang kedua itu bertulis “Yudi”.

Petugas juga meneliti bagian tubuh yang lain. Korban diketahui mengenakan cat kuku ungu. Warna ungu sepertinya digemari oleh perempuan muda tersebut. Pergelangan tangannya berhias untaian gelang ungu. Ada pula cincin di jari tengah tangan kanan. “Kami belum memastikan nama korban adalah Ririn, seperti tulisan di tato. Tapi, itu sudah merupakan petunjuk,” terang Juwadi.

Tim identifikasi sementara menyimpulkan, mayat tersebut baru dibuang dua hari terakhir. Kondisi tubuh belum rusak. Darah segar pun masih menetes di leher. Adapun ciri-ciri korban yakni berkulit putih bersih. Di kaki sebelah kiri terdapat luka lebam seperti terkena benturan keras berkali-kali.

Jenazah perempuan itu telah dibawa ke RSUD AW Sjahranie di Samarinda untuk diautopsi. Selain lebih mendalami ciri-ciri korban, autopsi berguna untuk mengetahui penyebab kematian. Tambahan informasi itu berguna bagi kepolisian mengungkap misteri pembunuhan sang gadis bertato tersebut.

MENGUNGKAP TABIR

Hari itu juga, petugas bergerak cepat. Kapolsek Kota Bangun AKP Juwadi langsung menghubungi semua kepala desa di kecamatan itu. Dia memastikan informasi warga yang hilang. Namun, cara itu tak banyak membantu. Tak seorang pun warga Kota Bangun mengaku kehilangan anggota keluarga. Petugas sempat mendapat informasi tentang orang hilang di Desa Kahala, Kecamatan Kenohan, Kukar. Namun, si “orang hilang” rupanya sudah kembali ke rumah.

Polisi terus mencoba beragam cara. Sebuah harapan ditemukan tatkala seorang ibu dari Samarinda mengaku kehilangan putrinya. Ciri-cirinya cocok dengan korban yang ditemukan di Kota Bangun. Dengan pilu, Herlina Rahmawati (67), warga Gang Manunggal, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, mengaku sudah dua bulan kehilangan putrinya. Kepada wartawan, dia mengatakan, anaknya bernama Meliana Sendra Putri (16). Baru saja lulus SMP.

Meski belum bisa dipastikan jenazah itu adalah anaknya, Herlina sudah tak mampu menahan tangis. Sembari memegang foto anaknya, dia bercerita tak ada masalah dengan putrinya. Hingga dua bulan lalu, Meliana meminta izin membelikan sang ibu makanan. Herlina sedang menderita tumor sehingga anak gadisnya itu yang merawat. Ibu dan anak tersebut baru empat bulan menetap di Samarinda dan menyewa sebuah rumah.

Meliana keluar dari rumah kontrakan untuk membeli makanan. Dan, dia tak pernah kembali. “Saya sudah mencari ke mana-mana. Sampai sekarang, tidak ada kabar. Lapor polisi sudah tapi belum juga ditemukan,” aku Herlina.

Dia bercerita bahwa putrinya sempat dekat dengan seorang sopir truk pengangkut pasir berinisial Kk (32). Namun, sopir yang kerap ke rumah Herlina itu disebut tidak sopan. Kk sering mengajak Meliana keluar malam. Herlina mengaku, dia tidak merestui hubungan mereka. Namun, kemungkinan bahwa jenazah itu adalah putrinya masih kecil. Apalagi Herlina tahu bahwa Meliana tidak bertato.

Selain Herlina, polisi menerima informasi yang lain. Beberapa warga mengaku mengetahui ciri-ciri korban. Namun, polisi masih merahasiakan pengakuan seorang warga yang mengaku mengenal Ririn, jika benar itu nama korban. Seorang sumber wartawan di Polres Kukar mengatakan, warga tadi menginformasikan bahwa Ririn adalah warga Kutai Barat yang sering ke Kota Bangun. Informasi itu tersebut diyakini lebih valid karena ciri-ciri orang hilang itu sama persis.

Kapolsek Kota Bangun AKP Juwadi menolak berspekulasi ketika dikonfirmasi petunjuk tersebut. Dia hanya mengatakan, petugas telah menemukan titik terang. Polisi pun sudah memegang nama tersangka. Semalam, dua tim dibentuk untuk meringkus pembunuh “Ririn”.

 Penemuan jenazah kali ini turut membuka memori serupa, beberapa bulan silam. Seorang PNS cantik di Pemkab Kukar bernama Muniarti, ditemukan tak bernyawa di tepi jalan Desa Jahab, Kecamatan Tenggarong, Kukar. Setelah melewati penyelidikan panjang, polisi menangkap seseorang bernama Maksi Risat. Sopir angkutan gelap yang memberikan tumpangan kepada Muniarti itu sebelumnya PNS di Dinas Pendidikan Samarinda. Setelah dipecat, dia terlilit utang. Diduga, motif Maksi membunuh karena ingin merampas harta benda korban.

BANDAR NARKOBA

Sehari setelah ditemukan jasad wanita tak dikenal tersebut, identitas  jasad mulai terungkap. Gadis belia itu benar bernama Ririn, seperti tato yang tertulis di tangannya. Perempuan malang itu semasa hidup merupakan pekerja di dunia gemerlap malam. Itu diketahui dari akun facebook yang ditemukan pihak kepolisian. Ririn –yang menulis aku Facebook-nya dengan nama Ririn Anisa– kerap berpindah tempat tinggal.

Seorang perempuan mengaku kenal dengan selusin tato di tubuh Ririn. Kepada polisi, teman Ririn yang menjadi pekerja seks komersial (PSK) di sebuah lokalisasi di Kukar itu bercerita panjang. Dia mengaku, bertemu Ririn terakhir kali pada 2014.

“Kami sering nongkrong di Samarinda. Ririn pernah tinggal di sebuah rumah di Sempaja,” sebutnya. Masih kepada polisi, perempuan tersebut mengatakan, Ririn bekerja di beberapa pub di Kota Tepian.

abg ririn

Sejak awal tahun ini, Ririn menjadi kupu-kupu malam di sebuah lokalisasi di Kutai Barat (Kubar). Di situ, Ririn dekat dengan banyak pria. Beberapa di antara mereka, disebut-sebut pernah tersangkut urusan narkoba.

Di akun pertemanan sosialnya, Ririn memang tampak akrab dengan dunia malam dan narkoba. Di akun Facebook-nya yang lain, dia menulis kata “bonk” sebagai bagian dari namanya. Bong adalah alat isap sabu-sabu sebagaimana ditunjukkan Ririn lewat foto yang diunggahnya pada 10 April 2014. Di beberapa foto yang lain, Ririn juga memotret botol minuman keras.

Ririn menulis bahwa dia lulusan sebuah SMA negeri di Sendawar, Kutai Barat (Kubar). Namun, masih dari Facebook, dia mengaku berasal dari Muara Wahau, Kutai Timur. Jika benar tanggal lahir yang ditulisnya, yakni pada 1991 silam, maka Ririn sekarang berusia 24 tahun.

Sumber dari Polres Kukar memastikan, Ririn sempat terlihat di sebuah lokalisasi di Kutai Barat. Saat itu, Ririn bersama seorang pria yang hingga saat ini tidak diketahui identitasnya. Ririn juga disebut beberapa kali terlihat di Kota Bangun, tak jauh dari jenazahnya ditemukan.

Kedekatan Ririn dengan banyak pria diduga kuat berkaitan dengan motif pembunuhan. Sebuah informasi menyebutkan, ada dua kemungkinan motif Ririn dibunuh.

Pertama, seputar asmara. Pada 1 April 2014, Ririn yang mengenakan baju merah muda mengambil swafoto di sebuah daerah di Kubar. Ririn menyebut, tempat itu “jalan baru di Simpang Umbau.”

Kemudian, dia menyatakan kekecewaan kepada seorang pria lantaran perselingkuhan. Dia menulis, “Apa, sih, yang dia suka dari cewek itu?”

Kemungkinan motif kedua adalah dunia malam yang dilakoni Ririn begitu lekat dengan narkoba. Menurut sumber, Ririn sering bergaul dengan sejumlah bandar dan kurir narkoba. Beberapa petunjuk –yang masih dirahasiakan untuk kepentingan penyelidikan– mengarah bahwa Ririn diduga dipenggal bandar narkoba.

Kapolsek Kota Bangun AKP Juwadi tak membantah sejumlah informasi itu. Namun, dia menegaskan, kepolisian belum mengantongi satu pun identitas kependudukan milik Ririn.

ririn-fb-pembunuhan
“Jika dia orangnya, panggilannya sehari-hari memang Ririn. Kami masih mencari identitas kependudukan serta alamat keluarga perempuan tersebut,” kata Juwadi.

Dia membenarkan alamat Facebook Ririn. Polisi juga sudah mengantongi foto-foto Ririn semasa hidup. Sepanjang tahun lalu, Ririn aktif berinteraksi. Aktivitas terakhir pada 14 Mei 2014. Dia mengunggah foto pria bertato di bagian dada. Namun, polisi belum memastikan pria itu berhubungan dengan pembunuhan Ririn.

“Bisa saja motif asmara atau yang lain. Kami masih berupaya mengungkap pembunuhan tersebut,” kata Juwadi.

Disinggung motif pembunuhan berhubungan dengan peredaran narkoba, Juwadi menolak berkomentar. Menurut dia, hal tersebut tak bisa diungkapkan karena bisa mengganggu proses penyelidikan.

Jasad Ririn ditemukan di dasar Sungai Mahakam tak jauh dari Jembatan Martadipura, Kota Bangun, Kukar, Selasa (4/8). Tubuhnya dimasukkan ke dalam karung yang telah diberi pemberat. Ditengarai, pelaku ingin menghilangkan jasadnya di dasar sungai.

Dari hasil autopsi di RSUD AW Sjahranie, Samarinda, penyebab kematian diketahui. Dokter forensik RSUD, Daniel Umar, memperkirakan bahwa kematian korban disebabkan pendarahan hebat. Leher atau kepala korban diduga terkena sabetan benda tajam.

Daniel menduga kuat korban sempat melawan ketika hendak dibunuh. Luka di jari serta lengan timbul karena usaha mempertahankan diri.

“Banyak sekali luka korban. Sebagian besar disebabkan benda tajam,” terangnya. Daniel membenarkan bahwa pelaku ditengarai memenggal kepala korban sesaat setelah perempuan tersebut meninggal. Setelah itu, tubuh korban dimutilasi.

Rentang waktu antara pemotongan tubuh dengan dibuang ke sungai juga diperkirakan tidak terlalu panjang. Kesimpulan itu diambil karena tidak ditemukan bekas luka yang membusuk.

Ada enam tato di tubuh korban pembunuhan sadis di Kota Bangun itu. Tiga buah di punggung bergambar abstrak serta kupu-kupu. Di lengan kanan, terdapat tato bertulis “Ririn”. Di lengan kiri, tato bertulis “Yudi”. Korban mengenakan gelang ungu serta cat kuku ungu di kaki dan tangan.

Daniel juga menyimpulkan bahwa pelaku pembunuhan tergolong sadis. Perlawanan bertubi-tubi oleh korban tak membuat pelaku menghentikan tindakan kejamnya.

PERBURUAN BERAKHIR

Kerja polisi dalam menguak temuan anak baru gede tanpa kepala di sekitar Jembatan Martadipura, Kota Bangun akhirnya membuahkan hasil. Selain mengungkap identitas korban dan tersangka pelaku, polisisi akhirnya berhasil menangkap pelakunya.

Ia adalah Indra Septian alias Indra (26), seorang pegawai harian lepas di lingkungan Pemkab Kutai Barat (Kubar). Dia diringkus Jumat (7/8) pukul 15.20 Wita. Di sebuah rumah kontrakan di Kampung Blempu Ulaq, RT 01, Kecamatan Barong Tongkok, Kubar, itu terlihat hening. Di depan rumah berwarna putih tersebut, terparkir sebuah mobil Avanza bernopol KT 1286 CF. Itulah kendaraan yang digunakan tersangka, Indra, saat membunuh Ririn.

indra ditangkap

Setelah menelusuri sejumlah tempat yang biasa didatangi korban, kemarin polisi mendatangi rumah yang dikontrak Indra bersama istri dan dua anaknya. Dari penelusuran itu pula, polisi mendapat informasi keberadaan pelaku.

Dari informasi yang dihimpun, pelaku berhasil ditangkap setelah belasan aparat dari Tim Buser Polsek Kota Bangun dan Polres Kutai Kartanegara (Kukar) memfokuskan pencarian di Kubar. Selama dua hari terakhir, polisi mengantongi ciri-ciri pria yang disebut dekat dengan Ririn.

Sebelumnya, polisi kesulitan mengenali identitas jasad Ririn, yang ketika ditemukan bagian kepala sudah dimutilasi. Namun, sejumlah tato di tubuh Ririn memberi petunjuk. Dia rupanya dikenali sejumlah orang yang mengaku kenal dengan tato tersebut. Termasuk seorang perempuan yang bekerja sebagai pekerja seks komersial (PSK) dan seorang pria yang mengaku sebagai ayah angkat Ririn.

“Pelaku sudah berhasil kami tangkap di rumahnya di Kubar. Dia (Indra) juga sudah mengakui segala perbuatannya. Termasuk melakukan pemotongan bagian tubuh korban,” terang Kapolres Kukar AKBP Handoko.

dengan-cara-inilah-ririn-dibunuh

Lalu bagaimana cara Indra, tersangka pembunuh Ririn, menghabisi korban? Ada pengakuan mengejutkan dari Indra. Kepada penyidik, setelah merasa dijebak dan Ririn terkesan menantang, Indra pun menuju mobil dan mengambil parang.

Dikuasai emosi yang menggelegak, Indra coba mengarahkan parang ke bagian punggung. Namun anehnya ternyata korban tak merasa sakit sedikit pun. Begitu pula di bagian tubuh lain. Nah, saat diarahkan ke leher, ternyata Indra berhasil melukai Ririn. Saat itulah dia terus menghunjamkan parang ke arah leher.

“Katanya sih korban ini ada ilmu gaibnya, makanya kebal, dan akhirnya kepala dipisahkan dari tubuhnya. Supaya tidak kembali lagi,” kata seorang anggota Reskrim Polres Kukar yang memeriksa tersangka. “Tapi, itu baru pengakuan tersangka,” sambung polisi itu lagi.

Selanjutnya, Indra membuang potongan kepala Ririn di sebuah jurang di Desa Loa Duri, Kecamatan Loa Janan. Sementara itu, parang dia buang di Jalan Stadion, Tenggarong. Hingga semalam, polisi masih mencari potongan tubuh korban beserta barang bukti lain.

Kapolres Kukar AKBP Handoko menduga masih ada tersangka lain yang terlibat. Handoko pun meragukan Indra beraksi seorang diri. Karena itulah, Polres menerjunkan tim identifikasi untuk melakukan olah TKP di lokasi pembunuhan. “Makanya, jika ada yang ganjil, pasti akan ketahuan saat olah TKP,” tambah Kapolres.

TAK BEKERJA SENDIRI

Tertangkapnya Indra dan dari keterangan yang berhasil dikorek Indra, polisi melakukan pengembangan. Tersangkanya ada tiga orang. Motifnya pun juga terkuak, dari persoalan asmara sampai bisnis narkoba. Ririn dibunuh Sabtu (1/8), saat keduanya hendak pesta narkoba dan berkencan di sebuah lokasi di Desa Loa Duri, Kecamatan Loa Janan, Kukar. Mereka janji bertemu sekitar pukul 20.00 Wita. Awalnya, tersangka merasa curiga dengan gerak-gerik korban yang sebenarnya beberapa hari terakhir tidak lagi mengontak.

Ketika itu, Indra berangkat dari Kota Bangun. Di sana, tersangka memang memiliki sebuah keramba ikan. Setelah bertemu di lokasi yang disepakati, keduanya lalu mempersiapkan pesta sabu. Termasuk membuat alat isap dari botol plastik dan dua sedotan. “Yang menyiapkan narkobanya adalah dia (Ririn). Jadi, saya tinggal datang saja lagi,” kata petugas menirukan tersangka.

Saat persiapan pesta sabu itulah, Ririn terlihat asyik menghubungi seseorang. Indra mendengar kata-kata yang seolah memberi kabar bahwa dia sedang menggunakan narkoba di lokasi tersebut. Indra pun merasa dijebak. Akhirnya korban tak bisa mengelak, bahwa dia telah menelepon seseorang.

ini-dua-orang-yang-bersihkan-darah-dan-buang-jasad-ririn

Indra mengaku berusaha menghabisi korban dengan menghunjamkan senjata tajam yang dia bawa. Namun, saat di dalam mobil, Ririn justru tertawa dan meminta Indra mengulanginya. Saat di luar mobil, Indra mengaku mengira korban memiliki ilmu kebal. Dia akhirnya menancapkan senjata tajam ke tanah lalu mengarahkan pisau, senjata yang lain- ke kepala korban.

Dari pengakuan Indra, meski kepala korban sudah terpisah dari badan, dia sempat melihat Ririn tertawa. Tersangka lalu memisahkan kepala dengan jasadnya dengan jarak yang jauh.

“Untuk sementara, dari pengakuan tersangka, dia sengaja membuang jasad korban ke Kota Bangun supaya jarak pembuangan kepala cukup jauh yaitu 150 kilometer. Tersangka mengaku khawatir dihantui atau jasadnya hidup lagi,” kata AKP Juwadi, Kapolsek Kota Bangun. Di Kota Bangun, Indra membuang jasad ke sungai dengan menggunakan pemberat berupa batu.

Sementara dua tersangka lainnya, juga berhasil diringkus polisi. Mereka adalah Sandi dan Gais alias Nyong dan ditangkap di Kutai Barat. Kepada wartawan, Sandi mengaku dia dan Nyong hanya diminta membersihkan darah serta membuang jasad di Kota Bangun. Peristiwa pembunuhan sekitar pukul 12.00 Wita.

Dikatakan Sandi, niat Indra membunuh Ririn lantaran merasa terancam bisnis narkobanya dibongkar. Lagi pula, Ririn diduga memiliki kedekatan dengan para pengedar narkoba. Mereka mengaku dipaksa membantu proses pembunuhan.

Mereka bertiga akhirnya menjemput Ririn di sebuah lokasi di Loa Duri. Selanjutnya, ketiga tersangka beserta korban menuju sebuah pondok di Loa Duri, dekat jalan hauling tambang batu bara. “Dia (tersangka Indra) kenal dengan pemilik pondok itu. Kami berdua hanya menunggu di mobil saat dia membunuh,” kata Sandi.

Setelah pembunuhan, kedua korban masuk ke pondok dan diminta membersihkan bekas darah. Kedua tersangka sempat membantu membuang jasad serta potongan kepala korban. Semula, jasad korban dibuang di sebuah lokasi tak jauh dari pondok. Namun, keesokan harinya, ketiga tersangka kembali mengambil jasad korban lalu membuang di Kota Bangun.

rekonstruksiMereka menggunakan sebuah perahu yang diambil tanpa izin di bibir sungai. “Lokasi pembuangan bukan di bawah jembatan. Mungkin terseret arus,” imbuh Sandi.

Sementara Nyong mengaku pasrah. Dia mengatakan, rencana pembunuhan sepenuhnya keinginan Indra. Tim Opsnal Polres Kukar serta anggota Reskrim Polsek Kota Bangun kini terus bekerja mengungkap kejanggalan keterangan tersangka. Motif pembunuhan segera dipastikan.

Kapolres Kukar AKBP Handoko melalui Paur Subbag Humas Polres Kukar Aiptu Agus Priono mengatakan, masih mencocokkan keterangan ketiga tersangka dengan hasil visum dan hasil oleh TKP. Polisi juga mencurigai, pengakuan korban yang berbau mistik adalah efek dari penggunaan narkoba.

SAKIT JIWA

Alasan yang dipakai Indra Septian (26), tersangka pembunuhan Ririn Anisa (24), bahwa dia memenggal korban karena memiliki ilmu kebal semakin diragukan. Jawabannya kemungkinan terlihat dari rekam jejak Indra di dunia peredaran narkoba. Jika bukan berhalusinasi, Indra ingin menutupi sesuatu yang lebih besar.

Kepada polisi, Indra yang ditangkap dua hari lalu menyebut korban memiliki ilmu kebal saat dihabisi. Selain tak mempan terkena sabetan senjata tajam, korban sempat tertawa saat posisi kepala terpisah dengan jasad. Namun, keterangan Indra memiliki banyak kejanggalan. Pengakuannya sering berubah-ubah. Termasuk ketakutan bahwa dia masih dihantui Ririn.

Keterangan Indra yang sulit diterima logika itu bisa dikaitkan bahwa dia seorang pengedar dan pemakai narkoba. Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltim Brigjen Pol Agus Gatot meyakini, tersangka mengalami gangguan psikologi. Sebagai pemadat, Indra sudah lama bersentuhan dengan narkoba.

Agus Gatot menjelaskan, dua hal biasa dirasakan para pengguna narkoba. Pertama disorientasi ruang dan waktu serta mispersepsi pancaindera. Kejadian semacam ini kata dia, sudah tak terhitung jumlahnya Dirasakan para pemain narkoba yang pernah di tangkap BNNP.

“Halusinasi seperti itu muncul karena aktivitas mengonsumsi narkoba sudah merusak jaringan otak. Kondisi psikologis terganggu,” terang Gatot.

Untuk dampak pertama, disorientasi ruang dan waktu. Ciri-cirinya, para pengguna narkoba tidak bisa membedakan siang, sore, atau malam. Dalam kondisi malam, mereka beraktivitas lantaran mengira saat itu siang. Pola hidup tidak teratur.

Begitu juga saat mengendarai kendaraan. Biasanya pemadat sulit membedakan jarak kendaraan atau benda di sekitarnya. Potensi kecelakaan begitu besar.

Yang dialami Indra, diduga kuat mispersepsi pancaindera. Informasi dari otak kepada pancaindera tidak berjalan dengan baik. Pecandu berat narkoba pun sering merasa dibisiki makhluk gaib agar melakukan sesuatu. Mulai membunuh hingga hal yang di luar keinginan mereka.

Jika pengakuan tersangka memenggal kepala lantaran kekebalan korban, hal itu dimungkinkan wujud nyata halusinasi pengguna narkoba.

Gatot menceritakan pengalamannya. Seorang bandar narkoba yang ditangkap sehari-harinya menggambar kuburan di sel tahanan. Orang itu mengaku sedang menyiapkan kuburan lantaran mendapat bisikan dirinya segera mati.

“Pecandu berat belum masuk tahap menjadi orang yang mengidap gangguan jiwa. Tapi bisa jadi sudah mengarah ke sana,” terangnya.

Disinggung sindikat narkoba di balik pembunuhan, mengingat korban dan tersangka adalah pengedar dan pemakai, Agus Gatot menolak berspekulasi. Namun, dia membenarkan bahwa ruang peredaran bisnis haram kini semakin sempit. Persaingan antarpemain pun meninggi.

Para bandar atau  jaringan kini berusaha saling membongkar bisnis haram. Salah satu caranya menjebak mereka dengan memberikan informasi kepada petugas.

“Jika jumlah pelanggan berkurang karena sudah disembuhkan BNN, saling rebutan lahan pun terjadi,” kata Agus.

 ALASAN DIMUTILASI

Sementara kabar jika Ririn Anisa (18), memiliki ilmu kebal seolah benar adanya. Ini setelah Indra Septian alias Indra (27), warga Kampung Belempung Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat (Kubar), blak-blakan mengaku menebas leher Ririn, pukul 12.00 Wita, Sabtu (1/8) siang. Kejadiannya di jalan tambang batubara PT Anugerah Bara Kaltim (ABK), terletak di kawasan Dusun Putak Desa Loa Duri Ilir Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara (Kukar).

“Ketika bagian kepalanya terpisah dari tubuh, Ririn masih tertawa cekikikan. Saya kaget, kok bisa seperti itu. Padahal kepalanya sudah putus, terpisah dari tubuh setelah saya timpas beberapa kali. Cepat-cepat saya ambil potongan kepalanya, lalu saya bawa lari menjauh sampai ratusan meter, baru dia (Ririn, Red) berhenti tertawa. Saya baru percaya, ternyata seperti itu ‘ilmu’ kebal dimiliki Ririn,” jelas Indra, ketika bersama sejumlah polisi, termasuk Kapolres Kukar AKBP Handoko saat mencari potongan kepala korban di jalan tambang batu bara PT ABK di Loa Duri, Sabtu (8/8) dini hari.

Pria berstatus Tenaga Kerja Kontrak (TKK) atau pegawai honorer Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Kubar itu lebih jauh menuturkan, pembunuhan dilakukannya bermula di pertengahan Juli 2015 lalu, ia menerima SMS dari Ririn, yang menyebutkan keberadaannya di Balikpapan. Tapi Indra terkejut ketika Jumat (31/7) malam sedang ke rumah kerabatnya di Loa Duri, tanpa sengaja bertemu Ririn.

 “Saya bingung juga kesal, kok dia ada di Loa Duri. Padahal katanya di Balikpapan. Saya juga tidak tahu, dia tinggal di mana di Loa Duri. Nah, Sabtu (1/8) pagi saya menghubungi Ririn untuk menanyakan hal itu. Tapi panggilan saya tidak diterima. Sekitar 2 jam kemudian dia menelepon saya. Dia bertanya saya di mana? Lalu dia bilang ada barang (sabu, Red), saya diajak pakai sama-sama,” kata bapak 2 anak tersebut.

Karena mengenal cukup dekat, Indra sempat kaget atas undangan dari Ririn untuk pesta sabu pagi itu. Pasalnya, Indra mengetahui Ririn terbilang kurang mampu dari segi ekonomi. Namun hari itu tiba-tiba ia memiliki cukup banyak sabu. Sejurus berikutnya Indra sudah menjemput Ririn menggunakan mobil Toyota Avanza silver KT 1286 CF dan sepakat mencari lokasi nyabu yang dinilai aman.

“Kami lalu sepakat nyabu di jalur tambang PT ABK. Kebetulan tengah hari seperti itu saya tahu, jalan tambang sepi karena pekerja beristirahat makan siang. Selama di jalan saya pakai headset HP di telinga, mungkin saat itu dia kira saya tidak dengar saat dia telepon seseorang. Katanya sudah ada orangnya, juga barangnya. Sepertinya dia bermaksud menjebak saya, agar tertangkap saat nyabu,” ujar Indra lagi.

Setelah itulah Indra kemudian berang terhadap Ririn. Secepatnya pria muda itu meraih sebilah senjata tajam (sajam) berupa “anak” mandau, dari bawah tempat duduknya di mobil itu, kemudian ditusukan ke bagian paha Ririn. Justru saat itu Indra kaget, karena serangan sajam tidak melukai gadis berkulit putih dan berambut panjang tersebut. Bahkan Ririn menantang Indra, supaya berhenti dan turun dari mobil untuk menyelesaikan “persoalan”.

“Dia bilang ayo turun dari mobil, kita selesaikan masalahnya. Silakan kakak (begitu Indra menyebut Ririn memanggilnya, Red) timpas saya kalau bisa. Makanya saya hentikan mobil dan kami turun. Saya letakan anak mandau itu, lalu ambil mandau besarnya. Begitu di luar mobil tepat di tengah jalan, langsung saya timpas ke arah tangan kanan berulang kali, tapi tidak luka. Tangannya cuma lecet tidak berdarah,” jelasnya.

Dalam posisi masih berdiri berhadapan itu, Ririn hanya tersenyum kepada Indra. Di bawah terik matahari di jalan tambang sepi itu, Ririn kembali mempersilakan Indra untuk melayangkan sabetan mandaunya ke bagian leher. Indra baru yakin jika Ririn benar-benar memiliki ilmu kebal, seperti sering dilontarkannya.

“Dia bilang cepat timpas lagi, sambil menyibak rambut dan menyorongkan leher sebelah kanannya. Sambil begitu (sorongkan leher sebelah kanan, Red) dia berkata, kalau saya tetap hidup maka kakak nanti yang mati. Itu katanya. Jadi setelah menimpas ke lehernya itu saya tusukan dulu mandau ke tanah. Begitu saya timpas, lehernya tembus. Saya timpas terus sebanyak 4 atau 5 kali, sampai kepalanya penggal dari leher,” urai Indra.

Namun di saat itulah pemandangan aneh kembali dilihat Indra. Karena tidak ada darah keluar dari potongan kepala dengan leher itu. Bahkan tubuh Ririn yang ambruk ke tanah ketika dibacok sampai kepalanya penggal, perlahan-lahan bangkit ke posisi duduk bersila. Tidak itu saja, tawa dari mulut Ririn yang kepalanya sudah terpisah dari tubuh juga terdengar.

 “Kan kepalanya putus terguling, tapi badannya lalu duduk. Potongan kepala Ririn itu masih bisa ketawa. Sedangkan tangan kiri di tubuh tanpa kepala itu malah mengambil sebilah rokok. Cepat-cepat saya ambil potongan kepalanya lalu saya bawa jauh sampai 100 meter lebih. Saat itulah saya lihat tubuh Ririn yang duduk terjatuh dan tak lagi tertawa. Darah juga terlihat menetes dari bagian leher yang sudah buntung,” katanya.

Ketika itu di rawa-rawa tak jauh dari lokasi kejadian, Indra menemukan beberapa karung plastik putih, bekas tempat beras. Bagian potongan kepala Ririn dimasukan ke karung bersama selembar handuk, sandal serta bando atau hiasan kepala milik korban. Indra lalu melemparkan karung itu ke jurang di tepi jalan tambang. Kemudian Indra melucuti pakaian di bagian tubuh Ririn sehingga telanjang bulat.

“Pakaian berupa baju dan celana Ririn juga saya buang ke jurang di tepi jalan tambang itu, tapi posisinya berseberangan dengan tempat pembuangan potongan kepala. Tubuh Ririn yang telanjang kemudian saya naikan mobil, saya bawa lebih jauh dari lokasi itu, kemudian ditinggalkan di semak-semak pinggir jalan hauling batu bara selama semalam,” tutur Indra, lagi.

Keesokan harinya atau Minggu (2/8) sore, Indra datang lagi ke lokasinya meletakan potongan tubuh Ririn. Ia lalu meletakan tubuh korban tanpa kepala ke mobil untuk dibawa ke Kota Bangun. Pada pukul 22.00 Wita, malam itu Indra tiba di Kota Bangun. Dia menyewa sebuah ketinting untuk membawa tubuh Ririn yang sudah dikarungi serta diberikan batu pemberat ke tengah Mahakam.

“Malam itu sudah sepi, jadi tak ada orang melihat saya membuang karung berisi mayat Ririn di Mahakam. Saya terpaksa memisahkan potongan kepala dengan badannya, karena Ririn punya ilmu kebal itu. Dari Kota Bangun saya langsung pulang ke rumah di Barong Tongkok. Saya kenal Ririn sudah 2 tahunan. Tapi kami tidak pernah berpacaran, meskipun dekat. Saya menghabisinya karena kesal, saat tahu dia mau menjebak saya supaya tertangkap nyabu,” tambah Indra, yang memang disebut-sebut termasuk sebagai pemain narkoba di Barong Tongkok.

BUKTI MISTIS

Kepala Ririn Anisha (18) yang ditemukan,  Minggu (9/8/2015) malam tadi sekitar pukul 01.00 Wita telah tersambung kembali dengan tubuhnya yang lebih dulu berada di RSUD AW Sjahranie Samarinda. Autopsi ini berlangsung selama 3 jam hingga pukul 04.00 Wita dilakukan oleh Dokter Spesialis Forensik, dokter Daniel bersama Unit Inafis Polres Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim). Kepala tersebut memang berjenis kelamin wanita dengan panjang rambut 48 cm.

Kepada wartawan, Kapolsek Kota Bangun AKP Juwadi yang mengikuti jalannya autopsi menerangkan, penyatuan kepala Ririn dengan tubuhnya dilakukan dengan cara dijahit. Ternyata benar, sesuai pengakuan Indra Septian (27) pelaku pembunuhannya, kepala Ririn saat dipenggal dalam posisi tertawa. ” Kaget juga, benar apa kata pelaku, waktu dibuka dari karung mulutnya seperti tertawa, kelihatan giginya kaya orang tertawa itu sudah,” ungkap Juwadi seperti apa yang disaksikannya langsung.

Saat ini, jasad Ririn yang sudah tersambung berada di Ruang Jenazah RSUD AW Sjahranie. Rencananya jasad tersebut akan dikebumikan di Kecamatan Linggang Bingung, Kutai Barat (Kubar). “Bapak angkatnya bernama Jufri pernah bilang kalau kepalanya sudah ketemu, mereka sekeluarga siap menguburkannya di Kubar, tapi kalau belum ada kepalanya mereka tidak berani, ” jelas Juwadi.

Kemudian, tambah Juwadi, saat ini dirinya bersama anggotanya di Polsek Kota Bangun masih menelusuri keramba yang disebut-sebut milik Indra serta mencari perahu yang digunakan Indra bersama kedua rekannya membuang jasat Ririn ke tengah sungai Mahakam di Kota Bangun. ” Kalau perahunya sudah kita ketahui punya siapa, tapi pemilik perahunya masih ketakutan karena dia merasa nggak pernah meminjamkannya kepada pelaku. Saat membuang korban,  perahu itu seperti biasa diparkir saja di dermaga dekat dengan keramba yang katanya milik pelaku, namun kita masih selidiki juga apakah benar itu keramba punya pelaku atau keluarganya,” tutur Kapolsek.

Juwadi melanjutkan, Sabtu (8/82015) pagi kemarin sekitar pukul 09.00 Wita, tim gabungan Polres Kukar dan Polsek Kota Bangun melakukan rekonstruksi awal di lokasi tempat Indra menghabisi nyawa Ririn yakni di sebuah pondok di Dusun Putak, Desa Loa Duri, Kecamatan Loa Janan. Rekonstruksi tersebut langsung dilakukan oleh Indra. ” Pondok itu lokasinya 1 KM dari tempat kita menemukan kepalanya, masuk ke dalam hutan lagi. Pelaku ternyata sering bermain disana karena pelaku kenal dengan penjaga pondok. Dipondok itulah pelaku menghabisi nyawa korban dan memenggal kepalanya,” katanya.

Belakangan diketahui, saat membunuh Ririn ada dua rekan Indra yang mengetahuinya, tapi keduanya tidak ikut saat Indra membunuh. Keduanya temannya itu berisial S dan E, saat ini keduanya sudah diamankan dan malam ini akan tiba di Polres Kukar. ” Kedua teman korban yang kami amankan ini merupakan saksi kunci pembunuhan ini, karena mereka yang disuruh pelaku untuk membersihkan darah korban, membuang kepala ke jurang sampai membantu membuang tubuh korban ke sungai, ” pungkas Juwadi.

ARWAH PENASARAN

Terdapat hal aneh yang terjadi saat rombongan Kepolisian dari Polres Kutai Kartanegara (Kukar) dan Polsek Kota Bangun mencari kepala Ririn Anisha (18) yang dibuang dalam jurang dipinggiran jalan hauling, PT ABK, Dusun Putak, Desa Loa Duri, Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), Sabtu (8/8/2015) dini hari.

Kepada wartawan yang ikut upaya pencarian, anggota kepolisian dari Polres Kukar bernama Budi mengatakan kalau arwah Ririn sempat ikut di dalam mobil yang ditumpanginya bersama pelaku saat menuju lokasi kepala Ririn dibuang. Hal itu diketahui saat Indra Septian (27), pelaku pembunuhan Ririn memberitahukan kepadanya. “ Waktu itu saya duduk dikursi tengah dengan rekan saya Narso. Saat itu kami tidak tahu kalau ada arwah korban duduk ditengah-tengah kami, karena yang liat pelaku, dia duduk dikursi paling belakang,” ucap Budi.

Budi menerangkan, saat diberitahu oleh Indra, arwah Ririn ikut mulai dari belokan dekat lokasi Jalan poros Loa Janan – Loa Kulu yang putus saat mau masuk ke dalam lokasi hauling. Saat sudah berada di jalan hauling, arwah Ririn langsung hilang. “Katanya (Indra,Red.) dia duduk saja, habis itu hilang pas sudah masuk perusahaan,” katanya.

Mengenai arwah Ririn yang ikut, Indra membenarkannya, dirinya melihat arwah Ririn di dalam mobil yang ditumpanginya bersama 4 anggota polisi. Ketika itu dia hendak memberitahukan kepada dua anggota yang duduk didepannya. Tapi saat itu mulutnya seperti dibungkam tak dapat berbicara. “ Saya mau kasih tahu dua abang di depan saya itu, tapi tangan saya mau pegang mereka aja susah, apalagi mau kasih tau. Arwahnya ikut dari depan jalan masuk sampai ke lokasi di dalam perusahaan, habis itu hilang,” ujar Indra.

Dia juga mengaku kerap ditemui arwah Ririn usai melakukan pembunuhan ini. “ Semenjak saya membunuhnya, dia sering datangi saya, dia minta maaf dan minta di doakan, bahkan dia minta agar jasatnya segera dikuburkan. Kadang yang datang kepalanya, kadang badannya saja tanpa kepala,” ungkap pria yang bekerja sebagai Honorer di Dispenda Pemkab Kutai Barat (Kubar) ini.

Penampakan arwah Ririn dilokasi penemuan kepala makin diperkuat oleh Wahidin Noor, wartawan senior Samarinda Pos yang ikut ke lokasi pencarian. Dia mengatakan kalau arwah Ririn sempat terlihat sedang berdiri di dekat deretan mobil yang diparkir. “ Dia (Arwah Ririn,Red.) lagi berdiri di sebelah kiri mobil saya, sekitar 30 meter dari kepalanya ditemukan. Waktu itu saya sempat merinding pas melihatnya,” ucap Wahidin kepada rekan sesama wartawan.

TERBEBANI BIAYA

Akhirnya jasad Ririn Anisha (18) didatangi oleh keluarganya. Mereka hadir untuk membawa jasad Ririn keluar dari kamar jenazah RSUD AW Syahranie.

Namun kendala kembali menghampiri untuk mengebumikan Ririn. Pasalnya orangtua angkat Ririn itu kekurangan biaya, guna membawa pulang Ririn ke Kutai Barat.

Orangtua angkat Ririn, yang selama ini menjadi wali Ririn selama berada di Kalimantan Timur, tiba di kamar jenazah RSUD AW Syahranie, sekitar pukul 19.30 Wita.

Orangtua angkat Ririn berangkat dari Kutai Barat menggunakan mobil, Selasa siang (11/8/2015). Reni Marlina (46) dan suaminya Zufrimatto (49), pun terkejut dengan daftar tagihan rumah sakit yang harus mereka bayar guna dapat mengeluarkan Ririn.

Pasalnya, keduanya datang ke Samarinda hanya membawa uang yang pas-pasan, yakni sebesar Rp 6 juta.

Sedangkan, biaya yang harus mereka bayar sebesar kurang lebih Rp 12 juta. Biaya tersebut meliputi, pelayanan fardu kifayah, memandikan jenazah, menjahit kepala Ririn ke badan, ambulans, hingga penempatan Ririn di ruangan pendingin.

“Kalau disuruh bayar segitu, kami tidak sanggup. Uang yang kami bawa ini pun patungan dengan keluarga yang ada di Kubar,” ucap Reni Marlina sambil menangis. Rencananya, Rabu (12/8), jasad Ririn akan dibawa menuju Kubar untuk langsung dikebumikan.

Pihak pengurus kamar jenazah pun menyarankan kepada orang tua angkat Ririn, agar dapat membicarakan hal tersebut kepada pimpinan rumah sakit. “Kami sarankan akan langsung menghadap kepada pimpinan maupun dokter yang menangani Ririn, siapa tau bisa turun biayanya. Kalau kami tidak bisa memutuskan,” ucap petugas kamar jenazah RSUD AW Syaharanie yang enggan dicantumkan namanya. [] KP/SP/1N/TKT

43,799 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Portal Berita Borneo Powered By : PT Media Maju Bersama Bangsa