Gempa bermagnitudo 7,0 mengguncang Xizang, Tiongkok, menewaskan sedikitnya 16 orang, melukai 32 orang, dan meruntuhkan 339 rumah sehingga pemerintah mengerahkan petugas untuk operasi penyelamatan.
BEIJING – Kerusakan ratusan rumah dan puluhan korban luka menjadi fokus penanganan setelah gempa bermagnitudo 7,0 mengguncang Daerah Otonom Xizang, Tiongkok barat daya, Kamis (22/10/2026) malam waktu setempat. Presiden Tiongkok Xi Jinping memerintahkan pengerahan upaya pencarian dan penyelamatan secara maksimal serta meminta korban luka segera mendapat perawatan medis.
Berdasarkan laporan awal, sedikitnya 16 orang meninggal dunia dan 32 lainnya terluka. Sebanyak 11 korban dilaporkan mengalami luka serius. Pemeriksaan awal juga menunjukkan 339 rumah runtuh akibat guncangan tersebut.
“Sebanyak 32 orang lainnya mengalami luka-luka, dengan 11 di antaranya menderita luka serius,” demikian laporan China Central Television (CCTV) yang dikutip Anadolu, sebagaimana diberitakan Metro TV, Jumat, (23/10/2026).
Menanggapi bencana tersebut, Xi menyampaikan instruksi agar seluruh sumber daya dikerahkan untuk menekan jumlah korban. Ia juga meminta agar upaya penyelamatan terhadap warga yang masih hilang dilakukan secepat mungkin, disertai penanganan medis bagi mereka yang terluka.
Otoritas setempat mengerahkan lebih dari 300 petugas kepolisian untuk mendukung operasi penyelamatan. Sementara itu, Kementerian Manajemen Darurat Tiongkok mengaktifkan status tanggap darurat nasional Tingkat IV dan mengirimkan kelompok kerja ke kawasan terdampak untuk membantu penanganan bencana.
Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa terjadi sekitar pukul 22.33 waktu setempat, sekitar 191 kilometer di sebelah timur-timur laut Nagqu, Tibet. Setelah gempa utama, wilayah tersebut juga diguncang gempa susulan bermagnitudo 5,2.
Tantangan penanganan bencana bertambah karena kawasan di sekitar pusat gempa memiliki kepadatan penduduk rendah dan berada pada ketinggian rata-rata sekitar 4.800 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis tersebut berpotensi menyulitkan mobilisasi petugas, distribusi bantuan, dan akses menuju lokasi yang terdampak.
Wilayah Dataran Tinggi Tibet dikenal memiliki riwayat aktivitas seismik. USGS mencatat 29 gempa bermagnitudo di atas 7,0 terjadi di dataran tinggi tersebut dan kawasan sekitarnya sejak 1900. Salah satu gempa terbesar tercatat pada 1950 dengan magnitudo 8,6 dan menewaskan lebih dari 4.000 orang.
Operasi pencarian, penyelamatan, dan pendataan kerusakan masih menjadi prioritas setelah gempa kali ini. Penanganan cepat serta distribusi bantuan yang menjangkau kawasan terpencil diharapkan dapat menyelamatkan warga yang masih hilang dan memenuhi kebutuhan para penyintas. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan