Partai Likud menyerahkan dokumen, kesaksian, dan rekaman video kepada kepolisian Israel terkait dugaan pelanggaran pemilu oleh partai-partai Arab, sementara pihak tertuduh membantah dan menyebutnya sebagai manuver politik.
TEL AVIV – Perselisihan mengenai integritas pemilu Israel memanas setelah Partai Likud, yang dipimpin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, melaporkan dugaan pelanggaran pemungutan suara oleh sejumlah partai Arab kepada kepolisian. Langkah tersebut memicu saling tuding politik di tengah persaingan ketat antarkubu dan berpotensi memperbesar polarisasi menjelang pembentukan pemerintahan koalisi.
Partai Likud menyatakan telah menyerahkan puluhan dokumen dan kesaksian kepada kepolisian Israel. Bukti tersebut diklaim berkaitan dengan dugaan pelanggaran selama pemungutan suara untuk memilih anggota Knesset ke-26, parlemen Israel.
“Partai telah menyerahkan puluhan dokumen dan kesaksian kepada kepolisian Israel yang membuktikan keterlibatan partai-partai Arab dalam berbagai pelanggaran selama pemungutan suara untuk Knesset ke-26,” sebut pernyataan resmi Partai Likud, sebagaimana diberitakan Anadolu, Kamis, (29/10/2026).
Likud juga mengeklaim dugaan pelanggaran itu berdampak langsung terhadap proses pemungutan suara dan hasil akhir pemilu. Namun, tuduhan tersebut masih perlu dibuktikan melalui penyelidikan dan belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan hukum.
Menurut Likud, berkas yang diserahkan kepada kepolisian mencakup rekaman video serta dokumen terperinci yang diduga memperlihatkan upaya manipulasi dan tindakan untuk memengaruhi pemilih dari komunitas Arab secara tidak sah.
Partai yang berkuasa tersebut menilai dugaan pelanggaran itu bukan kejadian yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari pola terorganisasi yang berpotensi mengubah hasil pemilu demi kepentingan lawan politik. Atas dasar klaim tersebut, Likud mendesak penanganan melalui jalur keamanan dan hukum.
Di sisi lain, para pemimpin partai Arab membantah tuduhan tersebut. Mereka menyebutnya sebagai “kebohongan terang-terangan dan hasutan sistematis.”
Para pemimpin partai Arab menilai tuduhan itu merupakan strategi politik kelompok sayap kanan Israel, terutama kubu Netanyahu dan Ben-Gvir. Mereka berpendapat narasi kecurangan tersebut digunakan untuk mendorong pemilih Yahudi mendatangi tempat pemungutan suara sekaligus meragukan legitimasi keterwakilan politik warga Arab di parlemen.
Pertentangan kedua kubu menambah ketegangan dalam lanskap politik Israel yang telah diwarnai persaingan tajam. Hasil pemilu yang disebut ketat di antara blok-blok politik membuat setiap tuduhan terkait proses pemungutan suara berpotensi memengaruhi kepercayaan publik terhadap hasil pemilihan.
Pelaporan yang dilakukan Likud kini menempatkan kepolisian dan lembaga peradilan dalam posisi penting untuk memeriksa bukti, menguji kebenaran tuduhan, serta memastikan proses hukum berjalan tanpa keberpihakan. Sampai ada hasil penyelidikan yang dapat dipertanggungjawabkan, klaim dari kedua pihak perlu dipandang sebagai pernyataan politik masing-masing.
Penanganan perkara secara transparan dan berdasarkan bukti menjadi penting agar sengketa tidak berkembang menjadi krisis kepercayaan terhadap lembaga demokrasi. Kejelasan hasil pemeriksaan juga dapat membantu meredakan ketegangan politik dan membuka jalan bagi pembentukan pemerintahan koalisi yang stabil. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan