Melalui pelatihan pembuatan konten digital sejarah dan pembelajaran muatan lokal, Disdikbud Kutim berupaya meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap sejarah, tradisi, dan warisan budaya daerah.
KUTAI TIMUR – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggunakan pendekatan digital melalui pelatihan teknik bercerita (storytelling) dan pembuatan konten sejarah untuk menjangkau generasi muda. Program tersebut diarahkan agar informasi sejarah dan kebudayaan lokal dapat disampaikan melalui media yang lebih dekat dengan kebiasaan anak muda.
Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham, mengatakan pihaknya telah mencoba menghadirkan metode pembelajaran yang lebih dekat dengan keseharian generasi muda, terutama melalui pemanfaatan media digital.
“Nah, sekarang kita punya pemikiran bagaimana mendekatkan generasi muda kita ini dengan konten digital. Maka dibuatlah pelatihan storytelling dan pembuatan konten digital sejarah,” kata Ilham saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (05/11/2026).
Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam memperoleh informasi, termasuk cara generasi muda mempelajari sejarah dan kebudayaan. Karena itu, pengenalan warisan budaya daerah perlu dikemas melalui media yang mudah diakses dan menarik bagi anak muda.
Melalui pelatihan tersebut, Disdikbud Kutim berupaya mendorong penyampaian informasi sejarah dalam bentuk konten kreatif sehingga pembelajaran tidak hanya mengandalkan buku bacaan atau metode konvensional.
“Tujuannya agar anak-anak kita ini, generasi muda kita ini bisa belajar mengikuti zamannya,” ujarnya.
Ilham menilai pendekatan digital semakin penting di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh budaya luar. Menurutnya, generasi muda perlu mendapatkan akses yang lebih luas terhadap pengetahuan kebudayaan lokal agar tidak kehilangan kedekatan dengan identitas daerahnya.
Sejumlah warisan budaya yang perlu diperkenalkan kepada generasi muda antara lain tradisi lisan Tarsul, alat musik tradisional Sampe, makanan khas daerah, serta pakaian adat dari berbagai kelompok masyarakat di Kutim.
Ia menjelaskan, kekayaan budaya Kutim terbentuk dari keberagaman masyarakat, termasuk suku Dayak, Banjar, Basap, dan kelompok masyarakat lainnya yang memiliki tradisi serta karakteristik kebudayaan masing-masing.
“Supaya mereka cinta pada budayanya. Mereka tahu sejarah bangsanya, sejarah daerahnya,” ungkapnya.
Selain mengembangkan pembelajaran melalui konten digital, Disdikbud Kutim juga memperkuat pengenalan kebudayaan melalui pendidikan formal dengan mengintegrasikan materi sejarah dan budaya daerah ke dalam kurikulum muatan lokal.
Ilham menjelaskan, pembelajaran muatan lokal mencakup bahasa Kutai serta berbagai materi seni dan budaya daerah. Dalam pelaksanaannya, satuan pendidikan diwajibkan memberikan pembelajaran muatan lokal selama dua jam setiap minggu.
Melalui pelatihan pembuatan konten sejarah dan penerapan kurikulum muatan lokal, Disdikbud Kutim berupaya memperluas metode pembelajaran kebudayaan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong generasi muda menghasilkan konten kreatif yang memperkenalkan sejarah serta tradisi daerah melalui berbagai media digital. [] (ADV)
Penulis: Butsainah Yusri | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan