Kelompok tani di Desa Margomulyo menerima bantuan mesin pengering, perontok, dan penggilingan padi dari Pertamina, sementara Camat Rantau Pulung mendorong normalisasi drainase untuk mengurangi risiko genangan dan gagal panen saat musim hujan.
KUTAI TIMUR – Petani di Desa Margomulyo, Kecamatan Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), menerima bantuan peralatan pertanian dari Pertamina berupa mesin pengering padi, perontok, dan penggilingan padi. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung pengolahan hasil panen, terutama saat musim hujan yang kerap menyulitkan petani dalam proses pengeringan gabah.
Camat Rantau Pulung, Vita Nurhasanah, mengatakan bantuan peralatan tersebut menjadi dukungan penting bagi kelompok tani dalam meningkatkan kesiapan menghadapi perubahan kondisi cuaca, khususnya ketika intensitas hujan mulai meningkat.
“Kemarin yang ada di Desa Margomulyo itu mendapatkan bantuan alat pengering padi dan perontok, serta penggilingan padi dari padi menjadi beras,dari Pertamina” ujarnya melalui sambungan telepon, Rabu (07/10/2026).
Menurut Vita, proses pengeringan gabah menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petani ketika musim hujan tiba. Kondisi cuaca yang tidak menentu dapat menghambat penanganan hasil panen, terutama apabila petani masih mengandalkan pengeringan secara konvensional.
Keberadaan mesin pengering diharapkan membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap panas matahari, sedangkan mesin perontok dan penggilingan dapat mendukung proses pengolahan padi menjadi beras.
Dengan tersedianya peralatan tersebut, kelompok tani di Margomulyo diharapkan dapat mengelola hasil panen secara lebih efisien dan mengurangi risiko penurunan kualitas gabah akibat keterlambatan pengeringan.
“Ini sangat membantu sekali untuk kelompok tani yang berada di Desa Margomulyo,” katanya.
Meski bantuan peralatan pascapanen telah diterima, Vita menilai masih terdapat kebutuhan lain yang perlu mendapat perhatian, terutama pembenahan saluran drainase pertanian untuk mengantisipasi genangan air saat musim hujan.
Ia berharap ke depan dapat dilakukan normalisasi saluran air yang menghubungkan kawasan persawahan dengan anak sungai. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperlancar aliran air dan mengurangi risiko terjadinya genangan di lahan pertanian.
Menurut Vita, kondisi drainase yang belum terhubung atau belum berfungsi secara optimal dapat menghambat pembuangan air dari areal persawahan ketika curah hujan meningkat.
Apabila persoalan tersebut tidak ditangani, genangan air berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman padi dan meningkatkan risiko kerugian petani, termasuk kemungkinan gagal panen.
“Drainase mulai dari sawah ke anakan sungai ini memang harus dilakukan normalisasi sehingga aliran air itu bisa lancar, sehingga tidak menjadi penyumbatan ataupun genangan di sawah yang menyebabkan gagal panen,” tuturnya.
Normalisasi drainase diharapkan dapat menjadi langkah pendukung dalam menjaga produktivitas pertanian, khususnya di kawasan persawahan yang rentan tergenang ketika musim penghujan.
Selain membantu kelancaran pembuangan air, pembenahan saluran pertanian juga dapat mendukung keberlanjutan kegiatan bercocok tanam dengan mengurangi hambatan yang disebabkan oleh genangan.
Bantuan peralatan pascapanen dan kebutuhan normalisasi drainase menjadi dua aspek penting dalam mendukung kesiapan sektor pertanian di Margomulyo menghadapi musim hujan.
Melalui dukungan sarana pengolahan hasil panen serta perbaikan sistem drainase yang diharapkan dapat terealisasi, petani Margomulyo diharapkan semakin mampu menjaga kualitas produksi, mengurangi risiko kerugian, dan meningkatkan keberlanjutan usaha pertanian mereka. [] (ADV)
Penulis: Butsainah Yusri | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan